Politik

Penuhi Panggilan Panwaslu, MT Rachmat Hidayat Bantah Kampanye di Masjid

Ist

BANDARLAMPUNG – Panwaslu Kota Bandarlampung, memanggil pengurus Majelis Taklim (MT) Rachmat Hidayat, terkait dugaan pelanggaran aturan kampanye dalam pengajian akbar di Masjid Al Furqon beberapa waktu lalu.

Yahnu Wigono Sanyoto, Kordinator divisi penanganan pelanggaran panwaslu Kota Bandarlampung, menyampaikan, bahwa pihaknya memanggil Ustadz Nasrudin dan Ketua Dewan Asatidz Majelis Talim Rachmat Hidayat, Ismail Soleh.

“Keduanya dipanggil terkait unsur dugaan adanya kampanya foto dengan salam dua jari di Masjid Al Furqon Senin lalu,” katanya  Kamis(1/3).

Yahnu mengatakan, Ustadz Nasrudin dipanggil untuk melakukan klarafikasi. Sementara pemanggilan Ismail Soleh mewakili Ketua MT Rachmat Hidayat, Eva Dwiana.

“Kami sudah memanggil untuk meminta klarifikasi dari Ustad Nasrudin, terus keterangan dari Ismail Soleh. Sebenarnya, kami mengundang ketua Rachmat Hidayat, tapi diwakili Pak Ismail Soleh,” jelasnya.

Yahnu mengatakan, dari hasil klarifikasi, Ustadz Nasrudin yang diundang untuk mengisi pengajian. Ia membantah jika foto pose dua jari dirinya adalah kampanye untuk paslon nomor urut dua.

Baca Juga:  Ini Dia Usulan CeDPPIS Untuk Debat Capres Pemilu 2019

“Kalau pengakuan dari Ustadz Nasrudin, ada yang minta foto dengan dirinya, kemudian pose angka dua itu karena reflek, bukan unsur kesengajaan untuk kampanye,” katanya.

Meskipun begitu, paswaslu belum bisa mengambil keputusan dari hasil klarifikasi ini. Paswaslu masih akan memanggil saksi lainya.

“Rencanya besok kita akan panggilan seorang yang di sebelahnya,” katanya.

Menurutnya, jika nantinya terbukti melakukan kampanye, maka Ustad Nasrudin bisa dikenakan pidana sesuai dengan UU no 10 tahun 2006 pasal 187 ayat 3.

“Jika terbukti melakukan kampanye, sesuai dengan UU no 10 tahun 2006 pasal 187 ayat 3 tentang pemilihan umum anggota dewan perwakilan rakyat, dewan perwakilan daerah, dan dewan perwakilan rakyat daerah,” katanya.

Sementara itu, Ketua Dewan Asatidz MT Rachmat Hidayat, Ismail Soleh, mengaku apa yang dilakukannya adalah reaksi spontan dalam berfoto atau selfie.

Baca Juga:  Kader Hanura Lampung Inginkan Reposisi Kursi Ketua

Soleh menyatakan, dalam hal itu tidak ada unsur kampanye atau ajakan untuk memilih dan memihak salah satu pasangan calon gubernur dan wakil gubernur.

“Pada saat kami pengajian di Al Furqon kemarin, dengan mengangkat dua jari adalah hal yang spontan. Ya layaknya orang-orang berselfie gitu,” katanya.

Respon spontan itu adalah hal yang biasa dilakukan orang-orang dalam berpose saat akan difoto. “Ada yang dua jari, lima jari atau mengepal. Jadi menurut saya hal lumrah. Kecuali kalau ada unsur kampanye,” jelasnya.

Dia menyatakan bahwa mengerti aturan yang dilarang melakukan kampanye di tempat-tempat ibadah, seperti di Masjid.

“Kami juga mengerti aturan, kalau tidak boleh kampanye ditempat ibadah,” ujarnya.

Selain itu, pengajian yang dilakukan Majelis Taklim Rachmat Hidayat tidak ada kaitan dengan pelaksanaan Pilkada serentak 2018.

“Rachmat Hidayat itu sudah ada bertahun-tahun, baik musim apapun kami tetap melakukan pengajian. Jadi tidak ada hubungannya dengan politik,” jelasnya.

Baca Juga:  Ridho Shalat Jum'at Bersama TGB Di Masjid Al-Furqon

Dia berjanji akan memberikan pendidikan politik yang baik bagi masyarakat dan juga imbauan kepada ustadz-ustadz di Majelis Taklim Rahmat Hidayat.

“Kami akan beritahu teman-teman kalau tidak boleh menggunakan simbol-simbol yang berkaitan dengan pilkada,” pungkasnya.

Untuk diketahui, MT Rachmat Hidayat merupakan pengajian yang didirikan oleh Eva Dwiana, yang tak lain adalah istri dari calon Gubernur Lampung Herman HN.(AR/DD)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top