Pendapat

Meniru Kampanye Terselubung Jokowi

Supendi (ist)

Oleh Supendi
Pemerhati masalah sosial ekonomi

 

“JOKOWI sedang disetel oleh team kampanyenya,mengikuti gaya kampanyenya Justin Trudeau, perdana menteri Canada. Pertama ngevlog, kedua nonton bioskop, kemudian tinju (olahraga), selanjutnya Jokowi akan berkumpul dengan anak-anak muda, kemudian bermain dengan anak-anak, lalu mengajar anak sekolah di salah satu sekolahan. Ini strategi untuk menarik suara generasi millenial yang jumlahnya lebih dari 10 juta orang. Pencitraan pun nyontek, benar-benar tak punya narasi..!,” tulis warganet, Setiyono di laman facebook miliknya awal Maret lalu.

Tulisan bernada sindiran diatas hanyalah satu dari sekian banyak status maupun cuitan warganet di media sosial. Berbagai aktifitas Jokowi yang memberi kesan kekinian itu selalu dikaitkan dengan apa yang sudah dilakukan Justin Trudeau sewaktu mencari suara dari calon pemilih. Dan…caranya itu memang terbukti jitu menarik dukungan dari kalangan muda dan mampu mengantarkannya menjadi Perdana Menteri Kanada.

Baca Juga:  Ruang Ekspresi Budaya Tradisional (Bagian 1)

Lantas cara-cara kreatif yang menyasar suara kaula muda alias kaum milenial itu, disebut-sebut diadopsi sepenuhnya oleh Jokowi yang disetel tim di belakang layar. Mereka inilah yang coba menawarkan sosok Jokowi sebagai presiden zaman now. Setidaknya dari berbagai pemberitaan media, aktifitas Jokowi ini berhasil mendapatkan simpati. Entah apakah bakal berimbas sampai ke Pilpres mendatang atau tidak, semua tergantung dari kelanjutan jurus juru racik strategi.

Tapi tulisan ini bukan hendak membahas soal pro kontra aktifitas tiruan Jokowi yang dituding sebagai kampanye terselubung itu. Namun lebih kepada mengambil sisi positif atas cara-cara kampanye masa kini yang mungkin saja bisa dipakai para kontestan pilkada. Tapi bukan berarti meniru sepenuhnya.

Baca Juga:  Ridho Bachtiar Peduli, Arinal Nunik Tidak

Aktivitas ngevlog, nonton bioskop, tinju (olahraga), berkumpul atau menghadiri acara anak-anak muda, bermain dengan anak-anak, lalu mengajar anak sekolah adalah cara jitu untuk membangun personal branding. Apalagi semuanya begitu gencar disampaikan lewat berbagai media baik medsos maupun pemberitaan media yang menyasar begitu banyak audiens. Ini benar-benar investasi besar untuk mendulang suara.

Sekarang tak perlulah menghadirkan data berapa juta orang Indonesia yang melek teknologi. Fakta di lapangan menunjukkan, orang-orang di desa pelosok sekalipun sudah memakai hp canggih (smartphone), dan minimal punya akun facebook. Artinya sasaran kampanye via media sosial (facebook, twitter, instagram, blog dan youtube) sangat potensial meraup banyak massa. Minimal tingkat keterkenalan kontestan menjadi tinggi, tinggal bagaimana mengolah program/janji menjadi menu yang menggugah selera calon pemilih.

Baca Juga:  Melihat Wajah Demokrasi dari Tingkat Partisipasi

Jadi kalau zaman sekarang kampanye masih mengandalkan goyangan biduan, tempel poster di pohon dan bagi-bagi sembako semata, duh…ketinggalan jauh bung. Daripada keluarin banyak modal tak jelas, mendingan tiru saja gaya kampanye Jokowi…eh…Justin Trudeau. Pastinya lebih hemat dan terarah. []

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top