Bandar Lampung

Pemkot Bandar Lampung Bakal Tambah Daftar Gelandangan Baru

Warga mendirikan posko kemanusiaan Kampung Pasar Griya, yang masih bertahan/WA

BANDAR LAMPUNG – Ketua Pusat Perjuangan Rakyat Lampung (PPRL), Yohannes Joko Purwanto, mempertanyakan sisi kemanusiaan Walikota Bandar Lampung non aktif, Herman Hasanusi, terhadap puluhan warga Kampung Pasar Griya, Sukarame, yang lahannya akan digusur paksa.

“Dimana kemudian keberpihakan Herman HN. Harusnya beliau sebagai walikota dan calon gubernur melihat ini dari sisi kemanusiaannya, bukan soal penegakan peraturan daerah (perda),” tegas Joko, Sabtu (5/5).

Kata Joko, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandar Lampung, seolah tak peduli akan nasib segelintir rakyat miskin. Dan lucunya, penggusuran ini justru dilakukan menjelang bulan ramadan.

“Okelah mau digunakan untuk fungsi lain, tapi paling tidak warga diberikan solusi. Ini kan jelang puasa, ya kalau warga punya uang untuk menyewa rumah atau tempat. Kalau tidak, bisa jadi gelandangan,” ungkapnya.

Joko juga memaparkan, bahwa masih ada sekitar 45 kepala keluarga yang hari ini bertahan dan hampir setengahnya sudah terusir.

Baca Juga:  Mantan Bupati Way Kanan Kunjungi Pasar Way Kandis

“Mungkin pemkot menganggap, ini hanya sedikit warga yang tidak mempunyai pengaruh terhadap masyarakat Lampung secara keseluruhan. Tapi perlu diingat, satu orang saja yang diberlakukan sewenang-wenang, masuk dalam perbuatan tidak adil yang dilakukan pemkot,” urai Joko.

Pihaknya juga menyayangkan, Herman yang ikut dalam kontestasi Pilgub Lampung 2018, tidak melihat secara jeli akan dampak yang dihadapi saat ingin meraup suara.

“Saya tak tahu apakah warga yang menempati aset pemkot itu resmi atau tidaknya. Paling tidak biarkanlah warga menempati hingga usai lebaran atau pilgub. Apa mau cuci tangan, kalau sudah seperti ini artinya sisi kemanusiaan dia (Herman) sudah mati,” tegasnya.

Sebelumnya, Warga Kampung Pasar Griya, Sukarame, Bandar Lampung, kembali mendapatkan surat edaran yang berasal dari Pemerintah Kota (Pemkot) Bandar Lampung.

Surat tersebut merupakan surat peringatan ketiga, yang memerintahkan warga untuk segera mengosongkan tempat tinggalnya dikarenakan lokasi tersebut akan dibangun Kantor Kejaksaan Negeri Bandar Lampung.

Baca Juga:  Sambut Bulan Ramadan, Pemkot Bandar Lampung Hadiahi Penggusuran

Surat bernomor 593/483/1.01/2018 tersebut, merupakan tindak lanjut surat terdahulu yang bernomor 593/454/1.01/2018 tertanggal 24 April 2018 perihal surat peringatan kedua.

Perintah dalam surat tersebutpun masih sama, yaitu apabila dalam waktu 7 (tujuh) hari, warga tidak mengindahkan surat tersebut, maka Pemkot Bandar Lampung akan melakukan pengosongan secara paksa.

“Sampai saat ini baik Herman HN selaku Walikota (non aktif) Bandar Lampung ataupun M Yusuf Kohar selaku Plt Walikota sama sekali tidak pernah berkunjung untuk mengklarifikasi surat edaran tersebut,” tegas Muad Mustami, salah satu Warga Kampung Pasar Griya, Sukarame, Bandar Lampung, kemarin.

Melihat adanya tindakan sewenang-wenang tersebut, Muad menyatakan, bahwa bukan persoalan lahan yang ingin dipertahankan, tapi berbicara mengenai nilai kemanusiaan yang telah tercantum dalam UUD 1945 pasal 27 ayat (2) yang menyatakan bahwa tiap-tiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.

“Seharusnya pemkot dapat memberikan jaminan perlindungan bagi warga untuk kehidupan kedepannya. Di tengah kondisi warga yang memiliki penghasilan tidak pasti setiap harinya karena sebagian pekerjaan warga adalah pemulung, sudah pasti dengan adanya penggusuran ini warga akan kehilangan tempat tinggal dan juga pekerjaan,” jelasnya.

Baca Juga:  Lampung Peringkat Tertinggi Dalam Gerakan Imunisasi Campak dan Rubella

Ditambah lagi, tenggang waktu yang diberikan oleh pemkot yang mendekati dengan bulan Ramadan akan membuat beban warga berlipat.

Melihat kondisi dan situasi penggusuran yang dilakukan secara sepihak dan sewenang-wenang oleh Pemerintah Kota Bandar Lampung.(NZ)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top