Iklan
Modus

Pelaku Kekerasan Diksar Bakal Disanksi, Ketua UKM Mahusa Unila Membantah

Ketua UKM Mahasiswa Hukum Sayang Alam atau Mahusa Universitas Lampung, Azam/JO/Suluh

BANDAR LAMPUNG – Ketua UKM Mahasiswa Hukum Sayang Alam atau Mahusa Universitas Lampung, Azam, membantah melakukan penganiayaan seperti yang dilaporkan korban RDP, mahasiswa baru yang ikut pendidikan dasar (diksar) sejak tanggal 12 hingga 15 September, di Gunung Betung, Pesawaran.

Ia juga sangat menyayangkan langkah hukum yang diambil oleh orang tua korban RDP ke Polda Lampung, pada Rabu (18/9) kemarin.

Menurut Azam, organisasi Mahusa Unila, memiliki standar operasi keamanan yang membatasi adanya kontak fisik secara membabi buta.

Pengakuan korban yang diseret ke pinggir hutan dan dipukuli sampai pingsan tidak benar, korban dievakuasi karena pingsan saat mengikuti kegiatan dan mendapatkan perawatan.

“Waktu naik gunung, dia (RDP) belum ada keluhan sama sekali. Dia tetap disupport sama teman dan senior-seniornya untuk tetap naik hingga dia turun dengan selamat dalam kondisi yang benar-benar sehat,” ungkap Azam, saat ditemui, Kamis (19/9).

Namun, pada beberapa kali sesi, RDP memang merasakan sakit perut, dengan alasan sakit maag. Saat ditanya apakah dia membawa obat atau tidak. Dia langsung mengiyakan dan memakan satu obat.

Lanjut Azam, di beberapa sesi selanjutnya, saat belajar teknik climbing, RDP kembali meminum obat.

“Waktu turun di hari Sabtu malam, waktu acara sharing untuk perkenalan semua anggota itu sehabis makan, dia sengaja memakan obat, dengan disaksikan peserta lainnya. Dia juga sengaja makan obat tiga butir sekaligus. Dan itu pun obat dimana termasuk dalam riwayat penyakitnya. Obat yang diminum itu adalah obat untuk vertigo,” paparnya.

Baca Juga:  PUPR Lampung Dituding Negatif, Nurbuana : Cek Nama Saya Ada Gak !

Apa yang dilaporkan oleh pelapor RDP itu, bahwa panitia memukul dia sampai pingsan juga tak benar adanya. Pasalnya, kejadian yang nyata itu disaksikan langsung oleh semua senior hingga teman-teman dia sendiri bahwa dia tidak dipukuli.

“Dia pingsan sendiri dikarenakan efek dari obat itu. Nah ketika dia pingsan, kacamatanya dilepas, itu bukan untuk digebukin tetapi untuk ditangani. Jadi ketika kacamatanya dilepas, dia diangkut bersama-sama, dibopong ke pos besar untuk ditangani oleh beberapa senior dan kelompok kesehatan,” urai Azam.

Saat dia ditangani, RDP mengaku kalau dirinya memiliki riwayat demam berdarah dan sebelumnya dia juga sempat dirawat baru datang ke sini.

“Tapi selama kami berangkat itu, dia sama sekali tidak bercerita bahwa dia pernah dirawat. Nah pas ditanya lagi, akhirnya dia mau jujur. Kalau dia sengaja meminum obat itu tiga sekaligus supaya dia pingsan sehingga dia bisa dipulangkan,” ungkap Azam.

Azam juga menepis, perihal kuku jari kaki RDP yang membiru serta hampir lepas, karena dipukuli.

Baca Juga:  4 Emak-emak Kupang Teba Dimejahijauhkan Gegara Asik Berjudi

“Kami mengklarifikasi bahwa tidak ada tindakan kekerasan sampai kami menginjak kaki peserta. Karena di Mahusa itu sendiri kami punya standar operasional keamanan yang kami batasi. Supaya kami benar-benar tidak menyentuh fisik itu secara berlebihan,” tegasnya.

Kontak fisik yang dilakukan hanya sekadar tepukan dan sentuhan untuk menyadarkan bukan berupa gerakan yang membabi buta.

“Dia bilang bibirnya ditinju hingga pecah. Semua itu bisa kami klarifikasi sendiri. Bibir yang katanya pecah-pecah itu, mungkin bisa karena kemarin efek cuaca panas sehingga kering serta sariawan,”

“Lalu untuk kakinya yang membiru itu dikarenakan efek dia naik gunung, dengan kondisi sepatu yang mungkin agak kekecilan atau longgar. Sehingga menyebabkan kukunya yang tidak terpotong menyebabkan gesekan-gesekan yang bertabrakan. Jadi kuku jari kakinya biru dan lebam,” jelas Azam

Pihaknya dari Mahusa Unila, sekali lagi mengklarifikasi tidak ada penganiayaan sedikit pun dikarenakan tidak ada satu pun dari peserta lainnya yang mempermasalahkan hal ini.

“Kami yakin pendidikan yang berikan benar-benar sesuai standar dan cukup manusiawi. Karena pendidikan di alam itu kami diajarkan bertahan hidup atau survival. Didikan kami untuk membentuk kami jadi kuat, namun tidak kalah dengan alam, karena alam tidak bisa diprediksi,” kata Azam.

Sementara itu, Dekan Fakultas Hukum Unila, Profesor Maroni, mengaku Diksar Mahusa merupakan kegiatan yang rutin dilakukan setiap tahun.

Baca Juga:  KPU Lampung Disebut Melakukan Pembohongan Publik

Terkait adanya dugaan penganiayaan, Profesor Maroni, mengaku saat ini masih mempelajari kasus yang menimpa mahasiswanya.

“Kita belum tahu mengenai itu, kita juga tahunya dari media. Tapi kalau memang ada tindak pidana kita tindak tegas, bisa kita keluarin. Karena kampus sudah menekankan tidak boleh ada kontak fisik,” kata Profesor Maroni, Kamis (19/9).

Sebelumnya, Mahasiswa baru Unila, melaporkan seniornya atas dugaan penganiayaan korban kekerasan fisik dan mental, ke Mapolda Lampung, Rabu (18/9).

Mahasiswa baru Unila dari Fakultas Hukum tersebut, menjadi korban kekerasan seniornya saat mengikuti kegiatan pengkaderan dan diksar (pendidikan dasar) UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa).

Korban berinisial RDP, warga Labuhan Ratu, Kota Bandar Lampung, mengaku dikeroyok dan dipukuli seniornya saat mengikuti pendidikan dasar UKM Mahasiswa Hukum Sayangi Alam atau Mahusa Unila.(JO)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top