Iklan
Pendapat

Peduli Kota, Peduli Peradaban

Nick Kurniawan (IST)

Oleh Nick Kurniawan
Pemerhati sosial kemasyarakatan Kota Bandar Lampung

 

KOTA adalah simbol peradaban. Maju kotanya, maju pula peradabannya.  Diibaratkan, tempat mimpi beradu dan ambisi hidup bebas bersaing itulah kota. Kemajuan kota sebagai wajah peradaban sangat tercermin dari perilaku masyarakat, pekerja pemerintahan, dan pelaku usaha, baik dari cara berfikir, cara merasa, dan cara bertindak yang menyangkut soal nilai yang dihayati. Sebuah fenomena yang wajar  dari keseharian hidup di kota adalah kepadatan penduduk, mobilitas tinggi, gaya hidup modern.

Apakah wajar bahwa esensi kehidupan masyarakat kota apabila mayoritas masyarakatnya menjalankan hidup dengan rutinitas seadanya, dengan pertanyaan, rutinitas yang menyenangkan ataukah rutinitas yang melelahkan dan merampas kebahagiaan hidup.

Awal tahun 2018, hasil dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung menjabarkan bahwa Kota Bandar Lampung menyokong kemerosotan indeks kebahagiaan provinsi Lampung, diantaranya dikarenakan tingginya angka pengangguran, banyak anak putus sekolah, meningkatnya kemacetan lalu lintas, dan pengembangan diri yang tidak tersalurkan.

Menjadi sebuah kewajaran sebagai masyarakat Kota Bandar Lampung coba mengevaluasi kembali bagaimana kita selama ini hidup dan mempertanyakan apakah selama ini kita memperoleh kebahagiaan dan mudah untuk bersyukur. Bahagia tidak selalu berhubungan tentang kaya-miskin seseorang.

Panjang urusannya dan akan saling bantah-membantah apabila kita terus berpolemik atau mengkritisi tentang tingginya harga barang pokok, tingginya angka pengangguran, tingginya kriminalitas dengan satu tema besar tentang kemiskinan.

Persoalan kemiskinan tidak akan pernah dan tidak akan mungkin selesai apabila hanya mengandalkan pemerintah, namun menjadi kewajiban dari pemerintah untuk menjadi pelopor pembangunan untuk meredam penderitaan rakyat kecil dan hadir memberi solusi untuk menaikkan kualitas hidupnya, baik itu melalui kebijakan yang pro-masyarakat kecil dan membangun kesadaran masyarakat kelas menengah dan atas untuk saling berbagi dan berempati melalui keteladanan dari seorang pemimpin.

Manusia sebagai makhluk sosial berkewajiban memiliki perilaku yang positif dan toleran antar sesama, apalagi sebagai warga negara yang sejak kecil ditanamkan nilai-nilai baik yang dijunjung melalui nilai-nilai pancasila maupun yang dijunjung dari nilai-nilai budaya piil pesenggiri yang keduanya mengarah kepada suatu pedoman dalam bergaul, memelihara kerukunan, kesejahteraan dan keadilan yang muaranya membawa kebaikan bersama.

Bandar Lampung adalah kota yang sangat berpotensi menjadi kota metropolitan, peran strategisnya sebagai pusat jasa di Provinsi Lampung  dan kemudahan mendapat informasi dan produk barang & jasa menuntut kota dan masyarakatnya terbuka dengan budaya dan pemikiran dari luar. Dalam konteks pertumbuhan masyarakat modern yang semakin beradab, beberapa hal yang sangat dibutuhkan untuk mencegah kemunduran adab karena arus globalisasi adalah upaya perhatian kita semua baik dari pemerintah, pengusaha dan masyarakat.

Baca Juga:  Memprihatinkan Mustafa

 

Membangun Ruang Sosial

Dibutuhkan sebuah ruang sosial sebagai sarana penyalur pengembangan diri manusia. Sebuah tantangan bagi pembuat kebijakan untuk menggoda masyarakatnya keluar dari rumah dan berinteraksi serta berkreasi di ruang terbuka hijau yang difasilitasi pemerintah, karena darisitulah interaksi dan aktivitas positif bisa terbangun yang berdampak terhadap majunya peradaban masyarakat kita.

Bisa dibayangkan, betapa nikmatnya pemandangan anak-anak kecil berlarian dan bermain di taman yang berarti menghindari anak kecil memperoleh kebahagiaan dari smartphone, pemuda mudah mendapat tempat untuk berolahraga, membangun budaya sportif, mudah mendapat tempat untuk menyalurkan aktivitas seni sehingga mereka memperoleh kebahagiaan dan tidak terjebak dengan kenakalan mainstream seperti, tawuran, narkoba dan seks bebas.

Pembuatan ruang sosial tidak semerta-merta membangun sebuah taman hijau, butuh sentuhan lebih agar ruang sosial yang dibangun mendapat manfaat yang maksimal. Kinerja pemimpin daerah hari ini dapat diapresiasi dari pembangunan beberapa taman kota dengan bermacam fasilitas yang ditawarkan, karena terlihat begitu antusiasnya masyarakat untuk menikmati fasilitas tersebut, tetap ada perbaikan yang diperlukan mengenai  ketertiban dan ketersediaan parkir yang memadai agar menghindari ketidaknyamanan para pengendara yang melintas karena imbas dari parkir liar disekitar lokasi taman.

Pembangunan ruang sosial juga butuh sentuhan dari arsitek/perencana pembangunan yang sensitif menghidupkan kota, semisal PKOR Wayhalim yang perlu sebuah konsep pembangunan dan macam atraksi yang dapat ditawarkan agar tidak mengalami kejenuhan, terwujudnya taman kota yang nyaman senyaman ruang keluarga adalah impian.

Sering pula diabaikan, yang lebih penting dalam membangun ruang sosial bukan hanya membangun taman, melainkan mengaktifkan koridor jalan. Melihat koridor jalan ditiap titik yang ada di Kota Bandar Lampung, kita benar-benar melihat matinya kehidupan peradaban, keengganan masyarakat bukan tanpa sebab, melainkan trotoar jalan yang tidak terhubung dan tidak teduh, udara beracun imbas dari emisi kendaraan bermotor.

Belum terwujudnya hal tersebut dikarenakan belum menjadi prioritas pembangunan karena kita belum memiliki mentalitas untuk membangun peradaban maju bersama-sama, melainkan mengedepankan ego dan membuat kapling prestasi dengan tontonan konfilk antar pimpinan daerah yang sebelumnya terjadi. Begitu rumit, begitu kompleks.

 

Hidup di Kota Harus Bermacetan

Sebuah perenungan, apakah kemacetan harus ada disetiap kota di Indonesia. Rezim berganti, janji tetap sama dengan sedikit modifikasi regulasi, atas nama mengentaskan kemacetan. Melihat kota yang lebih maju, baik itu Jakarta, Bandung, maupun Surabaya dengan ruas jalan yang lebih luas dan panjang namun kemacetan tetap ada, bahkan semakin parah, membuat masyarakatnya mudah marah-marah.

Baca Juga:  Ruang Ekspresi Budaya Tradisional (Bagian 1)

Beberapa yang harus dicermati, apakah masyarakat kita menganggap simbol kemakmuran dan kenyamanan adalah memiliki mobil? Ada yang demikian, namun ada juga yang merasa tidak terdapatnya transportasi publik yang nyaman, murah dan menjawab kebutuhan.

Semoga hadirnya kemajuan teknologi memudahkan pemerintah kita untuk berbenah, kehadiran aplikasi semacam GO-Jek dan Uber saja bisa kenapa pemerintah kita tidak. Menyinggung keseharian kita kembali, Apakah cara kita berkendara merampas hak pengendara lain? Terkadang, kemacetan tuntas ketika Polantas sedang bertugas, butuh kepemimpanan dari pak polantas untuk kita tertib, atau butuh diancam ditilang terlebih dahulu agar kita taat.

Kesewenang-wenangan kita untuk memberhentikan kendaraan di bahu jalan adalah masalah, ketidaksediaan kita menaati rambu-rambu adalah masalah. Dengan kesadaran untuk berbenah sesuai aturan sesungguhnya akan sangat membantu mengurangi potensi kemacetan, yang berarti memerbaiki wajah kota, wajah peradaban yang maju. The City is the people. Sangat sederhana.

 

Politik, Penyelamat Peradaban

Di bawah terik matahari, semembara itulah aksi massa merespon hasil pilkada lampung 2018 yang telah usai (Senin, 9 Juli 2018 di jalan jend.Sudirman – Tugu Gajah Kota Bandar Lampung). Dengan perspektif positif, respon tersebut merupakan bentuk kesadaran masyarakat tentang politik, atas dugaan pelanggaran yang terjadi, semoga penanganan dilakukan dengan adil, dan apapun keputusannya semoga para elite politik yang berpengaruh dapat legowo dan bijaksana.

Partisipasi masyarakat yang meningkat, keamanan proses demokrasi yang terjaga adalah modal besar untuk membawa peradaban kita semakin maju dengan harapan proses politik membawa kesejahteraan dan kebahagiaan.

Dalam konteks sebagai masyarakat kota, sangat dibutuhkan pemimpin yang membawa masyarakatnya siap hidup berkota, karena hari ini masih banyak sekali hal yang terabaikan.

Pembangunan jalan baik, pembangunan flyover baik, program layanan satu pintu baik, pemerataan kualitas pendidikan melalui program biling baik, ketersediaan ambulan gratis baik, adalah kemajuan signifikan yang dibawa oleh pemerintah saat ini. Namun, ada kekhawatiran bahwa Bandar Lampung bukanlah kota dalam arti sebenarnya, melainkan perkampungan raksasa karena carut-marut fisik kotanya, intensitas hidup yang ekstrem dan bahkan dalam level maklum seperti tidak adanya respek terhadap ruang publik sering terjadi.

Baca Juga:  34 Lulusan IPDN Kemendagri Disebar ke Seluruh Provinsi Lampung

Pemakaian jalur pedestrian sebagai sarana Pedagang Kaki Lima (PKL) berjualan, parkir di bahu jalan, bahkan dalam kondisi macet trotoar diintervensi oleh sepeda motor. Permasalahan besar lain datang pula dari kalangan ekonomi menengah atas yang dimanjakan oleh pembangunan pemukiman elit dengan kemewahan dan pagar tinggi, potensi untuk masyarakat tersebut tidak berbaur dengan golongan diluar mereka amat tinggi.

Apabila ada huru-hara bukan tidak mungkin kalangan elit itu pulalah yang akan menjadi sasaran amuk masa dengan mengatasnamakan ketidakadilan. Esensi hidup berkota amat penting, untuk itu pulalah pemimpin di kota harus mampu memberikan teladan agar kedamaian dan keadilan mudah diperoleh oleh masyarakatnya.

Bersumber dari keadilanlah kebebasan untuk bermimpi, beradu gagasan dan menciptakan harapan dapat terwujud oleh masyarakat kota, sekaligus menepis anggapan bahwa hanya anak raja dan juraganlah yang mampu menjadi apasaja. Pemerintah tidak boleh sendirian, kontribusi dari para pelaku usaha adalah hal terpenting kedua dalam rangka membangun kota impian untuk kesejahteraan dan masyaraktnya.

Untuk itu, rangkulan dari para pelaku usaha, yang taat membayar pajak, turut menyediakan lapangan kerja, memberikan kepedulian sosial pulalah yang mampu membawa peradaban kota semakin maju.

Sebagaimana, peran partai politik yang mengedukasi masyarakat tentang politik sekaligus menyuguhkan calon pemimpin politik didaerah, untuk itu kesiapan masyarakat kota harus lebih siap ketimbang calon-calon pemimpin kota yang akan hadir, ibarat di papan reklame kota Bandar Lampung yang telah penuh wajah-wajah baru yang berkemungkinan untuk andil di pesta demokrasi.

Harapan dimana masyarakat kota adalah masyarakat cerdas, yang tidak tergadaikan dengan sedikit rupiah untuk orang-orang dzalim berkuasa. Kita semua harus percaya, bahwa tidak ada orang yang baik dalam politik, yang ada hanyalah orang yang berkepentingan, berkepentingan baik dan berkepentingan buruk.

Semoga, seiring masyarakat kita tumbuh, kota kita tumbuh, semakin terekspos wawasan baru, kesempatan baru, dan harapan baru. Gotong royong lahir karena kita peduli, dalam konteks pembangunan ini sudah selayaknya kita masyarakat mempengaruhi, pejabat publik mematuhi. Dengan kerja bersama-sama, Bandar Lampung bisa maju dengan luar biasa! []

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top