Daerah

Pasca Terbakar SPBU Kibang Menggala Dituding Memberatkan Warga

Salah satu motor yang terbakar di SPBU 24-341-70, di Jalan Lintas Timur Kibang, Menggala/Murni

MENGGALA – Pasca kebakaran, SPBU kembali berulah, dengan target menggencet kehidupan masyarakat sehingga masyarakat yang mengantungkan kehidupan sebagai nelayan dan peternak di Padang Pemokow Kampung Kibang, Menggala, memprotes keras kebijakan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 24-341-70 Kibang Menggala, yang tidak memperbolehkan warga membeli jenis BBM premium memakai botol.

Warga menilai pelarangan tersebut sengaja dilakukan oleh pihak SPBU agar lebih leluasa menjual premium kepada pihak pengecor  guna memperoleh keuntungan lebih besar, namun sudah pasti itu sangat mempersulit aktifitas warga.

Manadi (35), mengungkapkan sepertinya pihak SPBU Kibang terkesan sengaja hendak menggencet ekonomi warga yang mencari nafkah di seputaran sungai padang pemokow sebab pelarangan dengan membeli premium memakai botol menyebabkan warga kesulitan untuk beraktifitas.

Baca Juga:  LBP: Jaga Kebersihan Danau Toba, Destinasi Wisata Kebanggaan Sumatera Utara

Bahkan kata Manadi, akibat pelarangan tersebut para nelayan dengan terpaksa mengeluarkan tambahan uang lantaran harus membeli di kios pengecer dengan harga relatif tinggi.

“Setiap hari kami perlu premium karena alat yang kami gunakan adalah perahu ketek (Perahu kecil yang memakai mesin) Kehidupan kami bersumber dari sungai padang pemokow, setiap hari kami harus kesungai untuk mencari ikan guna menafkahi keluarga,kenapa harus dilarang beli pakai botol sementara anehnya motor, mobil yang ngecor pakai tanki modifikasi diperbolehkan oleh pihak spbu,” katanya, Senin (27/08).

Hal senada dikatakan AM, menurutnya pelarangan nelayan membeli pakai botol diketahui oleh dirinya pada senin malam sekitar pukul 21-30,WIB saat hendak bekerja mampir di spbu untuk membeli premium.

Baca Juga:  Bupati Agus Bastian Pastikan Pelayanan untuk Warga Miskin Terpenuhi

“Pada malam itu sedang antri baik umum maupun pengecor sedang sibuk melakukan pengisian pada saat tiba giliran saya membeli premium seharga Rp30 ribu dan meminta dimasukan kedalam 2 botol bekas minuman fanta, operator mengatakan jika sekarang tidak boleh lagi pakai botol dilarang sama bos,” ujar Am, menirukan ucapan operator.

Saat itu, lanjut Am, dirinya sempat emosi dan meminta agar pemilik spbu keluar daru kantor dan memberikan penjelasan alasan apa nelayan dilarang membeli premium pakai botol, sementara pakai tanki modifikasi isi puluhan liter diperbolehkan.

Oleh itu sambung Am, pihaknya meminta kepada pihak terkait agar segera menindak lanjuti keluhan warga dengan memberikan teguran keras kepada pihak SPBU Kibang Menggala.

Sebab aku Am, dampak pelarangan tersebut membuat warga tidak bisa maksimal bekerja mencari ikan dan mencari rumput untuk makanan kerbau.

Baca Juga:  Relawan ACT-MRI Lampung Terjun ke Lokasi Gempa Lombok

“Harus ditegur keras jika perlu di tutup saja spbu nya percuma mereka lebih mementingkan keuntungan besar ketimbang masyarakat kecil, padahal dahulunya kami berharap spbu bisa membantu dan mempermudah kami mendapatkan BBM tapi nyatanya zooonnk malahan kami makin terjepit,” pungkasnya.

Sampai berita ini diturunkan pihak Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 24-341-70 kibang menggala belum bisa dimintai tanggapan.(MR)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top