Bandar Lampung

Ogah Nyerah, Simak Perjuangan Ojol Di Tengah Pandemi, Ngebid Sambi Jualan

Komunitas Ojek Online Bersatu (Koober) Lampung, komunitas ojol berbasis di Bandarlampung dan sekitarnya. | Koober Lampung

BANDAR LAMPUNG — Sandang status kepala rumah tangga, mesti pandai-pandai atur pengeluaran isi dompet agar ngebit tetap aman dari paparan virus COVID-19, tetap produktif agar dapur tetap ngebul di tengah situasi pandemi, saat ini turut jadi bagian keseharian pejuang penakluk aspal jalanan, tukang ojek online (ojol).

Kesempatan ini, redaksi menghimpun rekam jejak para ojol di bilangan Kota Bandarlampung dan area sekitarnya, yang tergabung komunitas ojol lintas aplikator bernama Komunitas Ojek Online Bersatu, atau Koober Lampung.

Komunitas ini berdiri 8 Mei 2018. Punya basis komunitas permanen, ada kartu anggota dan atribut seragam baik rompi maupun jaket khusus, serta pernah punya payung advokasi daro Kantor Hukum Wahrul Fauzi Silalahi.

Rofiko, driver ojol perempuan multi aplikator, warga Jl Pangeran Sultan Ageng Tirtayasa, Perumdam 2 Blok E16, Sukabumi, Bandarlampung ini misalnya.

Sejak beberapa bulan lalu, sehari-hari selain menggelayuti cadas cuaca –kadang terik tetiba hujan, lagi gerimis tahu-tahu lembayung menyengat, saat tengah ngebid lalu bawa penumpang, ia juga menyibukkan diri mencari tambahan nafkah dengan membuat aneka kuliner masakan siap santap.

Ia ibu empat anak, Krisna Andriansyah Huda (kelahiran Teluk Betung 13 Maret 2002), Shara Mustika Huda (lahir di Teluk Betung, 26 Januari 2004), Guntur Aulia Huda (Sukabumi, 15 November 2006), dan Bintang Syifa Azzahra Huda (Sukabumi, 1 Oktober 2008).

Baca Juga:  Rapat Paripurna DPRD HUT Lampung ke-55, Gubernur Ridho Disambut Porsesi Adat Kanjauan

Meladeni tanya, tak merasa terganggu, Teh Fiko, demikian Rofiko biasa disapa mengaku sembari asyik bikin kue pesanan pelanggan. Wah, laris Teh?

“Sebentar ya. Teh Fiko masukin kue dulu sebentar. Nanti ya Teh Fiko jawab sambil duduk santai. Kebetulan ini lagi buat pesanan orang,” sahutnya lewat aplikasi perpesanan singkat, pukul 11.14 WIB, Selasa siang (25/8/2020).

Satu jam 31 menit berlalu, menjawab tanya muasal modal usaha sampingan kulinernya itu ia menyebut masih pakai tambahan modal dari pinjaman.

“Modal.., ya ada yang dari hasil ngebid  (istilah gaul pengganti ojol mencari penumpang) sama dari pinjam dari orang lah,” akunya.

Penasaran, menu apa saja yang ia jual? “Jualannya banyak macam-macam. Combro, singkong keju, pisang keju, cilok, putu ayu, kelepon, tumis peda, tumis cumi, dan banyak lagi,” ia hapal.

Berikut, ia singkat menyahut suka dukanya berpenghidupan dengan jala kerasnya itu. “Dukanya, kurang modal,” Teh Fiko, driver aplikator GoJek, Grab, dan NuJek Lampung ini, jujur.

Pantauan, Fiko rajin mengunggah foto aneka kue dan masakannya di jejaring media sosial. Termasuk di grup pesan singkat koordinasi Koober Lampung.

Baca Juga:  Letkol Inf Romas Herlandes Resmi Jabat Dandim 0410 Kota Bandar Lampung

Sesama anggota komunitas guyub ini acap saling jajakan serupa. Dan bukan hanya makanan. Fachrial Farizi misal, penjual makanan ringan. Ada satu lagi, lupa nama, empek-empek homemade merek Empek-Empek Mantul laris juga.

Termasuk Budiono Syahputro, sang koordinator Koober Lampung. Mantan jurnalis media ini aktif pula bermedia sosial. Dia memanfaatkan antara lain untuk menjual Kompak Barokatullah 5252, madu hutan andalannya.

Di berbagai kesempatan komunikasi grup koordinasi, didampingi ketua harian Koober, Maman Undiya, dia acap menekankan dukungannya atas perjuangan gigih para anggotanya.

“Selagi postingannya bernilai manfaat, terutama saat sulit dampak pandemi corona, tentu perlu kreatifitas lebih bagi driver ojol untuk mencari usaha tambahan keluarga,” komentarnya via WhatsApp, Selasa petang.

Ia mempersilakan anggota komunitas mengejar manfaat. “Silahkan aza, jadikan forum grup Koober sebagai sarana silaturahmi dan bisnis, yang terpenting memiliki nilai manfaat dan bisnis halal, aamiin,” imbuhnya.

Budiono, yang juga pernah merasakan era kejayaan gemstone (batu cincin) di Lampung, sejak 2017 tekun menjual madu hutan produksi kelompok petani Lampung Barat.

Pelanggan madunya beragam latar, termasuk para tokoh seperti mantan walikota Bandarlampung 2005-2010 Dr Eddy Sutrisno, Rektor IIB Darmajaya Dr Cand Firmansyah Yunialfi Alfian, bos media Darwin Ruslinur, para sejawat jurnalis, warga Koober, dan lainnya.

Terselip ungkapan, Budiono berbesar harapan, meminta pemerintah daerah “melirik” komunitasnya, agar dibina. Selain, mendorong anggotanya aktif mencari tahu dan mengakses berbagai program stimulus ekonomi bagi pelaku usaha ultra mikro dan mikro, serta program ekonomi kreatif lainnya.

Baca Juga:  Pemprov Lampung Targetkan Raih Anugerah Parahita Ekapraya 2018

Ganas imbas ekonomi gegara pandemi tak laju bikin Teh Fiko, Fachrial, dan Budiono serta para anggota Koober, menyerah berpangku tangan.

Mereka sadar, mereka bersemangat, hidup dan kehidupannya harus terus berjalan, harus terus berpenghidupan. Ada tidak ada Corona.

Pandemi bukan tsunami.

Tetap semangat Teh Fiko, Bro Fachrial, Mas Budiono! Tetap senantiasa pakai masker lazimnya sebelum COVID-19,  jaga jarak fisik aman, selalu sedia hand sanitizer, cuci tangan pakai sabun air mengalir sesering mungkin, dan selalu ketat protokol kesehatan seperti juga ketentuan aplikator.

Selalu tersenyum, pertahankan terus performansi akun, patuh tertib berlalu lintas agar selalu aman tetap produktif. Keluarga tercinta menanti di rumah. Bravo! (SUL/Muzzamil)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top