Panggung

Nyawiji di Tahun Politik

Oleh Jajang R Kawentar

 

Suasana Pameran Seni Rupa Kelompok Theng-theng Shut di Banyu Bening the House of Painting Jl. Badrawati no 10, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, 27 Januari–27 Februari 2019. JAJANG R KAWENTAR

KELOMPOK Theng-theng Shut menggelar pameran seni rupa di Banyu Bening the House of Painting Jl. Badrawati no 10, Borobudur, Magelang Jawa Tengah, digelar 27 Januari – 27 Februari 2019, Pameran dibuka oleh kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Magelag, tema pameran ‘Nyawiji’.

Nyawiji dalam bahasa Jawa dapat diartikan menyatu, bersatu, persatuan, saling melengkapi. Begitulah dalam hidup ini bersatu dalam persatuan, saling melengkapi, saling mengingatkan, saling menghargai serta saling menghormati antara satu yang lain dan lainnya. Menempuh jalan kebaikan dan perdamaian untuk keutuhan persatuan dan kesatuan.

Dalam situasi politik yang karut marut seperti sekarang ini, dimana segala macam cara dilakukan untuk menjatuhkan lawan politik. Sampai kepada hal-hal yang suci dalam kehidupan manusia, menjadi wilayah yang manis dan gurih dimainkan. Sehingga mengganggu stabilitas logika dan memperkeruh kemurnian cara berpikir masyarakat terutama awam. Namun baiklah kalau ini sebagai bagian dari pendidikan politik bagi mereka yang baru melek politik. Perlu diingat Nyawiji harus tetap digelorakan dan kabarkan bagi siapapun mereka, tidak terkecuali .

Nyawiji itu seperti juga kekuatan gaib yang kemudian bisa diwujudkan. Dengan adanya niat, keinginan dan cita-cita bersama serta dilaksanakan oleh setiap individu tersebut. Kalau antara niat, keinginan, cita-cita menyatu dalam tingkahlaku maka akan memberikan pecerahan, keyamanan, keamanan dan rasa memiliki pada setiap individu yang tergabung dalam kesepakatan.

Nyawiji menjadi doa yang selalu dipanjatkan dan diharapkan oleh setiap individu agar semua yang tergabung di dalamya rukun, damai, sehat sentosa dan bahagia. Sebab karena itulah persatuan dan kesatuan itu tetap terjaga tetap Nyawiji. Dengan Nyawiji seperti menjaga amanat para pendiri bangsa ini, menjaga persatuan dan kesatuan, karena dengan bersatu kita teguh. Biarpun berbeda pandangan politik Nyawiji tetap pameran seni rupa, sebagai wujud menyatunnya ucapan dan tingkahlaku.

Baca Juga:  The Mystical of Sibolang, Desainer Athan Siahaan Tampilkan Ulos

Nyawiji seperti iringan doa bagi kawan-kawan kelompok seni rupa Theng-theng Shut yang berjumlah 11 seniman dari berbagai latar belakang dan dikomandoi oleh Budi Barnabas. Anggotanya antara lain Andreas Sofyan, Budi Haryanto, Desmon Zendrato, Johnal H., N. Rinaldi, Pambudi Sulistio, Reza D. Pahlevi, Sugiyanto, Yohanes Teguh, dan Yuti.

Theng-theng Shut itu terdiri dari dua suku kata Theng-theng dan Shut. Theng-theng merupakan menyingkat kata dari Thenguk-thenguk dan Shut, menggambarkan kegiatan melinting tembakau rokok lalu dinyalakan dan dihisap. Thenguk-thenguk itu dalam bahasa Jawa artinya kegiatan nongkrong. Namun Thenguk-thenguk lebih mendeskripsikan kepada kegiatan nongkrong menyendiri sambil menghayal atau berpikir segala hal. Bisa memikirkan apa saja dalam tongkrongannya sambil melinting tembakau dan merokoknya sambung-menyambung.

Theng-theng Shut buah pikir dari Budi Barnabas yang terlontar secara spontan. Pada saat sedang berkumpul di studionya sebelum kesepakatan berpameran bersama di Banyu Bening The House of Painting Magelang ini, enam bulan lalu. Ketika bayak sekali musibah bencana alam menimpa beberapa daerah, sehingga menggerakkan rasa kemanusiaan untuk menyumbangkan hasil karyanya utuk mereka yang terkena musibah Stunami Lampung.

 

Theng-theng Shut Nyawiji

Nyawiji dimulai dari diri sendiri, kemudian keluarga, saudara sendiri, teman terdekat dan seterusnya. Begitupun dengan Theng-theg Shut, dari kegiatan thengu-tenguk dan hobi yang sama ngelinting tembakau hingga menyusun rencana pameran. Menjadi Nyawiji yang diimplementasikan terhadap semangat berkarya, seperti menyebar dan mengabarkan semangat Nyawiji itu sendiri, kerja berkarya. Ternyata dari thenguk tenguk seniman menanam harapan berkarya seni dan mempresentasikannya. Ingat sekali layar terkembang pantang surut.

Apapun, bagaimanapun harus ditanggung bersama dan menjadi tanggung jawab bersama. Saya menganggap Kelompok Theng-theng Shut sebagai model kelompok multi kultur. Terdiri dari beberapa daerah asal Sumatera dan Jawa. Mereka menunjukan karakter dan cara pandang berkesenian yang bervariatif. Meskipun pedidikan juga berkepentingan mengarahkan cara pandang seseorang dalam berkesenian.

Baca Juga:  Pria Santun Ini Bakal Dilantik Saat Ulang Tahun (1)

Mereka berpendidikan seni rupa berjenjang, ada yang pendidikan Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR), Institut Seni Indonesia (ISI), Keguruan (IKIP), Arsitektur, Kehutanan, SMA, dan autodidak. Inilah yang justru membuat seksis kelompok Theng-theng Shut. Jenjang pendidikan bukan ukuran dalam menilai karya seni. Menunjukkan bahwa siapapun adalah seniman, mampu berkarya seni. Ada niat, kemauan, cita-cita dan ada tindakan mewujudkannya maka jadilah Nyawiji.

 

Karya Yang Murni

Karya-karya yang ditampilkan dalam pameran ini menunjukkan karakter mereka dalam menyikapi hidup. Jadi berbagai permasalahan masing-masing diungkapkan dalam bentuk visual. Karya dua dimensi dan tiga dimensi, karya lukis dan patung. Ada 29 karya yang dipamerkan, 5 patung dan dan 24 lukis. Jumlah ini menyesuaikan ruang di Ruang Seni Banyu Bening, dengan ukuran maksimal lebar 100cm, pajang 120cm untuk lukis dan patung ukuran miniatur.

Seniman yang menampilkan karya patung Budi Barnabas, Reza D. Pahlevi, dan Sugiyanto. Sementara seniman yang menampilkan karya lukis Andreas Sofyan, Budi Haryanto, Desmon Zendrato, Johnal H., N. Rinaldi, Pambudi Sulistio, Reza D. Pahlevi, Yohanes Teguh, dan Yuti.

Umumnya karya mereka pamerkan  murni ungkapan kegelisahan terhadap apa yang dialaminya. Bukan alasan keinginan mengikuti trend dan pasar. Lebih kepada pelampiasan hasrat dalam menanggapi suatu permasalahan. Bisa dilihat dari karya Andreas Sofyan, Budi Haryanto, Johnal H., N. Rinaldi, Pambudi Sulistio, Reza D. Pahlevi, lukisan yang lebih membebaskan diri dari suasana hatinya seperti juga membebaskan tangannya menuangkan warna. Ada semangat pembebasan tertuang di sana. Begitupun dengan karya Budi Barnabas, Desmon Zendrato, Sugiyanto, Yohanes Teguh, dan Yuti seperti sebuah mimpi yang dipelihara dengan keikhlasan. Sehingga menumbuhkan semangat hidup yang mengobarkan perjuangan.

Baca Juga:  Mochtar Sani: Dibanding Kalimantan, Pindah Ibu Kota Ke Lampung Lebih Efisien

Pada dasarnya yang tergabung dalam Theng-theng Shut terbiasa melukis atau meggambar, kemudian ada kebiasaan bikin karya mural bareng dan ada kerja seni membuat patung. Bahkan tidak hanya kerja-kerja visual, tetapi juga kerja kerja seni pertunjukan seperti bermain musik. Kerja keseharian mereka murni adalah berkesenian, proses berkarya dan hasil akhir menjadi utama.

Dijaman sekarang jangan heran banyak pelaku seni bermunculan dengan dahsyat tanpa melalui jenjang pendidikan formal seni, tetapi berkat Nyawiji antara niat, keinginan, cita-cita dalam tingkahlaku berkesenian maka menjadi yang terbaik. Sebab kini pendidikan atau belajar bisa dilakukan dimanapun tanpa harus formal masuk dalam sekolah seni atau perguruan tinggi seni. Segala sesuatu untuk kebutuhan belajar sudah tersedia dan lebih terbuka. Berbagai media sosial menawarkan cara apapun seperti yang kita inginkan, mulai dari pengetahuan teori, teknik dan prakteknya. Tinggallah kemauan, keinginan dan keterbukaan dalam menerima situasi seperti sekarang.

Saya bangga dapat belajar bersama Theng-theng Shut, kita harus percaya bahwa perbedaan dalam berkarya, perbedaan dalam pendidikan, apapun itu yang disebut strata tidak berlaku bagi kepuasan berekspresi. Karena setiap individu memiliki ketercapaiannya masing-masing. Intinya belajar sampai mengerti apapun itu. Berkaryalah terus hingga sempurna, sebab tidak ada kepuasan yang sempurna.

Kesempurnaan itu mungkin bisa saja terwujud setelah semua karya terpajang, bermanfaat bagi semua orang, atau setelah mereka yang diundang baik itu kawan, sahabat, saudara, keluarga datang menyaksikan pameran ini, dan apa-apa yang diharapkan dari Nyawiji itu terlaksana. []

 

Jajang R Kawentar, pemerhati seni rupa

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top