Iklan
Ekonomi

Nufransa Wira Sakti Sanggah Rizal Ramli: Ngawur!

Nufransa Wira Sakti, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan RI/Setjen Kemkeu RI

JAKARTA – Setelah turut bereaksi atas kritik pedas capres Prabowo Subianto yang mengatakan jangan ada lagi penyebutan Menteri Keuangan (Menkeu) melainkan diganti jadi Menteri Pencetak Utang, sebagai diksi yang “sangat menciderai perasaan kami yang bekerja di Kementerian Keuangan (Kemkeu)”, Minggu (27/1).

Senin (28/1), pukul 19.37 WIB, tadi malam, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi (Karo KLI) Kemkeu Nufransa Wira Sakti kembali mengunggah pernyataan bantahan sekaligus sanggahan (klarifikasi) di akun Facebooknya menanggapi cuitan Twitter ekonom senior Dr Rizal Ramli, pukul 11.24 WIB, hari yang sama.

Sebelumnya, Rizal Ramli (RR) mencuit, “Indonesia akan ngutang lagi $2 milyar dgn yield 11,625%, issued 4 Maret 2019. Yield tertinggi di kawasan, padahal Vietnam keluarkan surat utang hanya dgn yield 5%. Penguatan Rupiah didukung oleh peningkatan pinjaman dgn bunga super tinggi !! Kreditor pesta pora, rakyat semakin terbenani. Menkeu semakin ngawur.”

Di akhir cuit RR menulis, International bonds: Indonesia 11.625% 4mar2019 USD (USY20721AP44, Y20721AP4), disertai tautan daring portal asing, http://cbons.com/emissions/issue/10441.

Baca Juga:  Agustus, JTTS Mulai Beroperasi

Secara telak, Nufransa Wira Sakti, yang akrab disapa Frans, pria asal Lahat Sumatera Selatan itu membantahnya. Frans menyebut, RR terbukti ngawur.

Frans bercerita, kemarin siang ada beberapa pesan masuk ke WhatsApp-nya, yang intinya menyatakan bahwa Indonesia akan hutang lagi sejumlah USD 2 milyar, dengan imbal hasil sangat tinggi sebesar 11,625 persen.

Info tersebut, tulis Frans, merujuk salah satu link luar negeri. Info itu diakhiri dengan kalimat “Kreditor pesta pora, rakyat semakin terbenani. Menkeu semakin ngawur”, tulisnya mengutip cuitan RR.

“Setelah dilacak, ternyata info tersebut berasal dari cuitan pada jam 11.24 WIB di akun twitter Pak Rizal Ramli. Tak lama, banyak media yang bertanya tentang hal ini. Bahkan sudah ada beberapa media yang langsung memberitakan cuitan tersebut,” lanjut Frans mengafirmasi.

Kemudian, terus dia, setelah berdiskusi dengan Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko beserta tim, didapatlah informasi yang benar.

Apa itu? “Utang pemerintah yang dimaksud adalah bonds (surat utang) dalam USD yang diterbitkan pada tahun 2009, saat terjadinya krisis keuangan sehingga imbal hasilnya 11,625 persen,” terang Frans.

Dia membeberkan, bahwa surat utang tersebut akan berakhir dan jatuh tempo pada bulan Maret 2019. “Jadi sesungguhnya tidak ada penerbitan utang baru yang dikatakan Pak RR, kesalahan besar lainnya adalah ketika disebutkan akan diberikan imbal hasil 11,625 persen,” sanggahnya.

Baca Juga:  Underpass Unila Beroperasi Akhir Tahun Ini

Jebolan Master of Economic di Yokohama National University (2002) itu melanjutkan, saat ini imbal hasil (yield) di pasar sekunder untuk bonds pemerintah dalam USD untuk tenor 10 tahun adalah sebesar 4.24 persen. “Jadi semua yang dinyatakan Pak RR adalah kesalahan dia dalam membaca data,” tegas Frans membantah.

Seolah tak ingin menjadi isu liar, Frans lantas mengaku segera mempublikasi bantahan tersebut. “Segera saja kami cuitkan ngawurnya pemahaman tersebut pada jam 14.05 WIB.”

Dan benar saja, seperti juga pantauan redaksi, Frans menyebut pada pukul 14.31 WIB, RR kembali berkicau mengklarifikasi cuitan Twitter-nya pukul 11.24 WIB dimaksud.

Pada pukul 14.31, keluar cuitan dari Pak RR: “Mohon maaf terjadi kesalahan. Yield 11,625% adalah surat utang lama RI. Bukan rencana surat utang baru.”

Dari proses penelusuran rekam digital cuitan RR itu, peraih doktor Niigata University 2009 ini pun ambil simpul, “Akhirnya Pak RR mengakui bahwa pernyataannya menyesatkan. Cuitan dan status FB yang ditulis sebelumnya juga dihapus,” ungkapnya.

Baca Juga:  KSP Bedah Program Infrastruktur Nasional di Lampung

“Jadi yang sebenarnya ngawur adalah pernyataan RR, tapi yang dituduh Menkeu dan juga mengatasnamakan rakyat yang terbebani. Rakyat yang mana?” tulis Frans balik tanya.

Dia pun menyarankan agar RR bijak. “Ada baiknya Pak RR membaca secara perlahan-lahan dan memahami dengan bijak sebelum menyebarkan suatu informasi. Apalagi dengan mengatasnamakan rakyat,” ingatnya.

Di akhir unggahan, Frans kembali menegaskan spirit profesionalisme yang senantiasa melarungi keseharian kinerja diri dan rekan di kementerian bendahara negara itu. “Kami di Kementerian Keuangan Republik Indonesia senantiasa bekerja secara profesional dalam menjaga keuangan negara. #KemenkeuProfesional,” pungkas dia.(LS/MZl)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top