Ekonomi

Nelayan Merana, Taman Kabarti Pertamina Penuh Sampah

Ketua Kelompok Nelayan Cahaya Tirta Abadi, Herianto/JO/Suluh

BANDAR LAMPUNG – Sejak diresmikan menjadi ruang terbuka hijau pada September 2018 lalu, Pantai Taman Kabarti atau Taman Kampung Baru Tiga, di Kelurahan Panjang Utara, dipenuhi sampah.

Ruang terbuka hijau Taman Kabarti merupakan hasil kerja sama Pemerintah Kota (Pemkot) Bandar Lampung, bersama warga Panjang Utara dan didukung oleh Pertamina dan lembaga swadaya masyarakat yang fokus pada lingkungan Pesisir Lampung, Mitra Bentala.

Luas Taman Kabarti, mencapai 1.050 meter persegi dan merupakan program CSR atau tanggung jawab sosial pertamina.

Saat ini kondisi, pantai di Taman Kabarti, kembali dipenuhi sampah. Sebelumnya pada bulan Maret lalu, lebih dari 500 relawan membersihkan sampah sebanyak satu ton lebih dari Pantai Taman Kabarti.

Baca Juga:  Hama Wereng Menyerang Petani di Kecamatan Ambarawa

Menurut Ketua Kelompok Nelayan Cahaya Tirta Abadi, Herianto, sampah plastik yang menutupi Pantai Taman Kabarti, datang dari warga hilir sungai dan sampah dari pulau seberang yang terbawa arus.

“Kampung baru tiga berada di Muara Sungai Kali Bako. Sehingga limbah rumah tangga dari hilir menumpuk di Pantai Kabarti. Sampah-sampah ini akan bertambah banyak ketika angin dari utara bertiup membawa sampah dari pulau seberang,” jeLas Herianto, Jumat (2/8).

tidak hanya limbah rumah tangga, menurut penuturan pria berusia 55 tahun ini, kapal-kapal yang membuang sauh tak jauh dari bibir pantai juga tidak jarang membuang limbah ke laut seperti sampah dan oli.

“Bahkan terkadang nelayan menemukan limbah CPO hasil pengolahan sawit,” tukas dia.

Baca Juga:  Video : Aksi 2 Begal di Rawa Subur Terekam CCTV

Banyaknya sampah yang berlabuh di Pantai Taman Kabarti, mengakibatkan ikan hasil tangkapan berkurang sehingga penghasilan para nelayan berkurang.

Sampah-sampah di pesisir Pantai Taman Kabarti, memaksa para nelayan yang tergabung di Cahaya Tirta Abadi untuk berlayar mencari ikan lebih jauh lagi hingga bermil-mil jauhnya.

Namun para nelayan Kampung Baru 3 ini kembali menelan pil pahit. Mereka berhadapan dengan nelayan-nelayan dari Jakarta dan Pulau Jawa yang memakai jaring kerincing.

Kondisi ini memaksa para nelayan untuk mogok karena sudah tidak ada hasil tangkapan ikan lagi.(JO)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top