Iklan
Daerah

MFA Bocah 6 Tahun Butuh Uluran Tangan Donatur

Bocah enam tahun asal Kecamatan Kemiri, MFA, masih menunggu uluran tangan dari semua pihak untuk keperluan penyembuhan penyakit syaraf tulang ekor/DNL

PURWOREJO – Bocah enam tahun asal Kecamatan Kemiri, MFA, masih menunggu uluran tangan dari semua pihak untuk keperluan penyembuhan penyakit syaraf tulang ekor yang Ia derita.

Pasalnya penyakit yang Ia derita sejak lahir ini hingga menyebabkan kakinya tidak berfungsi normal.

Ibundanya, TA (36) saat ditemui mengatakan, upaya pengobatan bagi buah hatinya terpaksa ditunda lantaran terkendala biaya. Saat ini, Ia dan keluarga hanya dapat menunggu kepedulian dari donatur, khususnya pemerintah untuk membantu pengobatan MFA.

“Keluarga tak mampu merujuk MFA ke rumah sakit, tidak ada biaya. Jadi ya tetap dirawat di rumah aja sambil nunggu KIS aktif atau bantuan lain,” kata sang ibunda, Selasa (2/7).

Baca Juga:  Kunjungan Kejati Lampung ke Kejari Waykanan Berlangsung Tertutup

Sementara itu, ayahanda MFA, IM (40), mengaku, penyakit yang diderita anaknya ini sudah berlangsung sejak masih kecil. Pada saat anaknya lahir ada benjolan pada tulang ekornya. Dari hasil pemeriksaan tim dokter RSUP Sardjito, benjolan tersebut adalah penyakit saraf kejepit.

Namun, lanjut dia, menurut dokter saat itu tidak berbahaya, tetapi kenyataannya, pada saat anaknya mau buang air kecil atau BAB kesulitan. Selain itu, kedua kaki MFA juga tidak dapat berjalan dengan normal.

Kendati begitu, keluarga tidak bisa berbuat banyak karena kesulitan biaya.

“Kalau dioperasi saya tidak punya uang, gaji saya cuma sekitar Rp200 ribu per bulannya, ditambah Rp600ribu dari pemerintah. Tetapi alhamdulillah sudah ada yang membantu kami dari kelompok masyarakat sedekah seribu sehari (S3,red),” katanya.

Baca Juga:  Donasi Untuk Syabila Penderita Kanker di Tulangbawang Capai 40 Jutaan

Terpisah, Koordinator Lapangan (Korlap) Komunitas Sedekah Seribu Sehari (S3), Yuni Suprapti, mengatakan pihaknya sudah mulai menjaring sedekah dari masyarakat untuk membantu biaya pengobatan MFA sejak beberapa hari lalu.

Selain menghimpun bantuan, kata Yuni, Komunitas S3 juga akan mengawal pengobatan MFA melalui jaur birokrasi dengan cara memastikan layanan kesehatan diberikan oleh fasilitas kesehatan milik pemerintah. Jaminan mendapat pengobatan, menurutnya saat ini adalah hal yang paling dibutuhkan.

“Kita akan bantu, sekarang orang tua MFA harus minta rujukan ke Puskesmas setempat untuk berobat ke RSUD Tjitrowardoyo Purworejo. Orang tua kan uda punya JKN-KIS. Nanti dek MFA bisa berobat secara gratis menggunakan Jamkesda,” kata Yuni.

Baca Juga:  Mengenal Keunikan Komunitas Keroncong Congculy

Yuni berhara kepada pemerintah setempat dapat memberikan bantuan perawatan bagi MFA. Bagaimanapun, lanjutnya, yang bersangkutan berhak mendapatkan layanan pengobatan yang baik dari pemerintah.

“Apalagi yang bersangkutan kurang mampu,” tandasnya.(DNL)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top