Iklan
Pendidikan

Mery Farida, Wanita Cantik Lulusan Terbaik Pertama Unila

Mery Farida mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Lampung (FH Unila)/Ist

BANDAR LAMPUNG – Mery Farida mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Lampung (FH Unila) dinobatkana sebagai lulusan terbaik pertama tingkat universitas program sarjana wisuda Periode V Tahun Akademik 2017/2018.

Mery lulus dengan Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 3,92. Ia diwisuda bersama 576 mahasiswa program sarjana, 45 orang program magister, 51 orang program profesi.

Pengukuhan mahasiswa berpredikat cum laude ini dilakukan langsung oleh Rektor Unila Hasriadi Mat Akin di Gedung Sumpah Pemuda (GSP) PKOR Way Halim, Bandar Lampung, Rabu (23/5).

Mery mengaku, tidak ada metode khusus dalam belajar selama ia mengikuti perkuliahan.

“Enggak ada metode khusus dalam belajar, saya sama dengan mahasiswa biasa lainnya. Ketika dapat pelajaran dari kuliah, aku ulang lagi di rumah. Aku tipe orang yang mudah ingat tapi mudah juga lupa. Jadi aku ulang lagi di rumah,” ungkapnya.

“Kalau besok ujian, malamnya aku belajar. Belajar biasanya di rumah habis magrib, isya berhenti, lanjut lagi sampai jam 11 malam. Abis salat subuh, belajar lagi,” sambung Mery.

Anak kedua pasangan Lukman dan Peristiwi Dayu Hartati ini memiliki motivasi kuat untuk menyelesaikan kuliahnya agar bisa menjadi orang berhasil. Semangat itu ia dapatkan dari kedua orang tua dan ketiga saudaranya.

Baca Juga:  Unila Tidak Pernah Keluarkan Hasil Survei Herman Sutono

“Ingat kita di sini (Kuliah) untuk orang tua kita, selalu ingat itu terus. Karena ketika kita capek, terus ingat itu, saya di sini untuk orang tua saya, untuk membahagiakan orang-orang di sekitar saya, maka saya harus berjuang apapun yang terjadi,” ungkap Mery.

Cita-cita sang ayah pula yang membuat dirinya semakin terpacu untuk segera merampungkan kuliah dan menjadi sarjana hukum.

Meski cuma seorang pedagang mainan di salah satu Sekolah Dasar (SD) di Bandarlampung, namun semangat sang ayah dan ibunya untuk membuat putrinya menjadi sarjana seolah tak pernah padam.

“Bapak saya pernah bilang gini, ‘Bapak enggak bisa sarjana tapi seenggaknya anak-anak Bapak harus jadi sarjana. Karena Bapak dulu pengen banget sarjana. Bapak akan biayain apapun yang kalian mau’. Bapak kan cuma lulusan SMA dan ibu lulusan SD,” ucap Mery menirukan kata-kata ayahnya dengan mata berkaca-kaca.

Mery memang berangkat dari keluarga biasa-biasa saja. Semasa kecil, ia kerap di-bully teman-temannya karena pekerjaan sang ayah mirip seorang pemulung.

Baca Juga:  Pengumuman PPDB SMA se-Lampung Ditunda, Disdikbud Tunggu Putusan Gubernur

“Dikatain juga Bapak saya pemulung sama teman-teman karena dagangnya pakai kantong plastik hitam dan motornya jelek. Tapi saya enggak pernah malu sama mereka, toh kerjaan orang tua halal,” ujarnya.

Bagi dara manis kelahiran 2 April 1995 itu, orang tuanya adalah pahlawan di hidupnya.

“Orang tua itu hero buat saya. Apapun yang terjadi pasti akan ada buat saya. Saya bukan anak SMA Negeri, saya di SMA Al Huda Kalianda, dulu pulang balik pakai motor bekas punya kakak karena enggak punya uang buat ngekos. Dulu orang tua enggak punya uang sama sekali, pinjam sana-sini buat kuliah dan sekolah. Alhamdulillah saya kuliah ini dapat beasiswa juga, jadi meringankan beban orang tua juga,” katanya.

Selain orang tuanya, Mery juga termotivasi dengan jejak sang kakak yang kini sudah bekerja di salah satu lembaga pemasyarakatan (Lapas).

“Kakak saya alhamdulillah sudah kerja di lapas. Itu salah satu motivasi saya adalah kakak saya, karena dia bilang ‘kalau kamu orang kaya, kamu enggak apa-apa malas belajar, tapi kamu sadar nggak orang tua kita kerja apa, jadi kalau kamu pengen maju, ya kamu belajar’. Jadi kakak saya itu motivasi buat saya walaupun dia galak dan suka marah kalau saya malas-malasan,” bebernya.

Baca Juga:  Kawal PPDB, Ombudsman Lampung Temukan Pelanggaran

Setelah resmi menyandang gelar akademik sarjana hukum, Mery bercita-cita ingin menjadi seorang hakim.

“Setelah lulus pasti kerja, mau S-2 ada biaya lagi. Pengen daftar kehakiman, mau coba dulu, semoga saja berhasil. Ini juga sambil cari-cari beasiswa S-2,” pungkasnya.

Diketahui, empat tahun silam ada anak seorang tukang tambal ban yang menjadi lulusan terbaik, kini gelar itu kembali diraih oleh seorang anak dari keluarga biasa-biasa saja.(RD)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top