Iklan
Pendapat

Membentuk Milenial yang Kompeten dan Berakhlakul Karimah

Udo Mirzawan. DOKPRI

Oleh Udo Mirzawan

Praktisi pendidikan, tinggal di Pesawaran, Lampung

 

BEBERAPA fenomena yang muncul dalam dunia pendidikan membuat khalayak terhenyak laksana terbangun dari sebuah mimpi “buruk”. Betapa tidak dalam beberapa waktu ini publik dihebohkan dengan viralnya vidio anak didik menentang guru pada saat kegiatan belajar mengajar ditambah lagi dengan berita yang kerap kita dengar tawuran antarsiswa, pergaulan antara lawan jenis yang sangat menghawatirkan, narkoba yang selalu mengintai kehidupan remaja bahkan ada yang terjerat baram haram tersebut menurut data BNN  merilis temuan surveynya terkait pengguna narkoba secara keseluruhan yang ternyata 24 persen diantaranya adalah pelajar ( tribunnews, 14 agustus 2018). Ditambah lagi dengan derasnya arus teknologi  yang membuat pelajar mudah mengakses informasi lintas budaya namun tidak semua dari merka cakap dalam menggunakan media dengan baik dan benar, seperti yang kita ketahui bahwa teknologi itu laksana dua mata pisau, dapat dipergunakan untuk hal positif dan dapat pula dipergunakan untuk hal negatif.  Dalam beberapa kasus kriminal terinspirasi dari media seperti pencurian, penipuan, dan sebagainya.

Dari beberapa preseden buruk yang muncul kepermukaantentu menimbulkan pertanyaan publik terkait permasalahan generasi bangsa khususnya berkaitan dengan lembaga pendidikan.  Berbicara tentang pendidikan, kita dihadapkan dengan definisi pendidikan menurut KBBI pendidikan adalah proses mengubah sikap dan tata laku seseorang atau kelompokorang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan; proses; perbuatan; cara mendidik. Adapun tujuan dari pendidikan menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab II pasal 3 dikemukakan bahwa tujuan pendidikan nasional untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Berdasarkan definisi dan tujuan pendidikan maka sesungguhnya lembaga pendidikan merupakan tempat yang ideal dalam membentuk kapribadian anak. Lalu dengan munculnya beberapa permasalahan diatas sudah barang tentu menimbulkan pertanyaan besar akan efektifitas pendidikan dan pengajaran disekolah dalam membentuk karakter bangsa ? Ataukah sistem pendidikan kita yang memang tidak sesuai dengan jamannya? Atau memang ada faktor eksternal juga yang mempengaruhi? Tentu sebelum kita menjawab hal tersebut kita harus mengurai benang kusut satu persatu,  sebenarnya lembaga pendidikan yang ideal dapat kita lihat dari 3 komponen yaitu kurikulum, sarana-prasarana, dan pendidik.

Baca Juga:  Berhasil Majukan Lampung, Mahasiswa HI Jadikan Ridho Tokoh Inspiratif

 

Kurikulum

Kurikulum merupakan guide line jalannya sebuah lembaga pendidikan, dijabarkan visi dan misi dari sebuah lembaga pendidikan; dalam visi misi ini dijabarkankan tentang profile sekolah, tujuan hingga sasaran kemudian diturunkan hingga satuan terkecil seperti kemampuan khusus yang dihasilkan.

Disinilah seorang pengelola lembaga pendidikan mesti peka terhadap fenonema faktual juga jeli dalam melihat peluang karena ruh dari sebuah lembaga pendidikan letaknya pada kurikulum.

Kurikulum yang baik itu kurikulum yang direncanakan secara sistematik dan sistemik serta mampu menjawab tantangan zaman. Artinya dalam proses perencanaan kurikulum itu telah melibatkan beberapa unsur seperti pemangku kebijakan, stakeholder, user, tokoh agama, pakar pendidikan dsb. Sehingga kurikulum yang dihasilkan tidak di awang awang, rill dan dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, selain perancanaan yang matang juga pelaksanaan kurikulum pun harus diawasi dan dievaluasi akan efektifitas dan efesiensi terhadap tujuan yang telah ditetapkan.  Menurut Oemar Hamalik (1990), Kurikulum memiliki tugas dan tanggung jawab mentransmisikan dan menafsirkan warisan sosial kepada generasi muda dan kurikulum turut aktif berpartisipasi dalam kontrol sosial dan menekankan pada unsur berpikir kritis.  kurikulum juga bertanggung jawab menciptakan inovasi –inovasi yang konstruktif dalam menjawab tantangan zaman.

Di dalam Kurikulum juga berisi  standar – standar yang mesti dipenuhi seperti  yang tertuang dalam 8 Standar Nasional Pendidikan yaitu; Meliputi (a) Standar Isi, biasanya berupa kurikulum, komponen pembelajaran beserta perangkat – perangkat pelajaran di lembaga suatu pendidikan. (b) Standar Proses, terkait dengan strategi dan metode pelaksanaan pembelajaran dalam mencapai target pembelajaran seperti PAKEM, dsb. (c) Standar Kompetensi Lulusan, merupakan kriteria menyangkut kemampuan lulusan baik dari segi kognitif, psikomotor, afektif atau skill keahlian (d) Standar Pendidik & Tenaga Pendidikan, terkait dengan guru dan tenaga minimal harus Sarjana ( S1) (e) Standar Sarana & Prasarana, menyangkut fasilitas belajar seperti kelas, lab, tempat ibadah, dsb (f) Standar Pengelolaan, terkait dengan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan jalannya suatu lembaga pendidikan sesuai peraturan pemerintah atau statuta (g) Standar Pembiayaan, terkait keuangan operasional lembaga, penggajian, dsb dan (h) Standar Penilaian, terkait dengan output dan outcome peserta didik. Ini merupakan standar minimal yang mesti terpenuhi dalam pengelolaan lembaga pendidikan. Dan pemerintah juga menggunakan standar ini dalam mengakreditasi sebuah sekolah,  penilaian tersebut berprinsip; objektif, komprehensif, adil, transparan, akuntabel dan profesional. Jadi bagus tidaknya lembaga tersebut dapat dilihat dari nilai akreditasi yang diperoleh lembaga tersebut.  Diibaratkan sebuah makanan maka kurikulum merupakan komposisi bahan material dengan maksud dan tujuan makanan jenis apa yang kita buat. Dengan demikian konten kurikulum sebuah lembaga pendidikan menentukan hasil akhir dari lulusannya.

Baca Juga:  Harun Noeh BPRPI

 

Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana merupakan komponen penting  dan harus diperhatikan dalam sebuah lembaga pendidikan baik keberadaannya maupun menejemen pengelolaannya. Sarana pendidikan umumnya mencakup semua fasilitas yang secara langsung dipergunakan dan menunjang proses pendidikan, seperti: Gedung, ruangan belajar atau kelas, masjid,  perpustakaan, alat-alat atau media pendidikan, meja, kursi, dsb.  Selanjutnya yang dimaksud dengan fasilitas/prasarana adalah yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan, seperti: halaman, kebun atau taman sekolah, maupun jalan menuju ke sekolah. Selain keberadaannya, sarana juga harus dikelola dengan baik sehingga dapat dipergunakan dengan tepat, efektif, efesien sesuai dengan tujuan oleh sebab itu hendaknya dikelola dengan baik. Pengelolaan sarana dan prasarana meliputi: a. Perencanaan,          b. Pengadaan, c. Inventarisasi, d. Penyimpanan, e. Penataan, f. Penggunaan, g. Pemeliharaan,                h.  Penghapusan.

Jika dipandang dari segi kegunaan maka sarana dan prasarana ini merupakan alat penunjang yang sangat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa. Sebagai contoh lembaga pendidikan yang difasilitasi dengan komputer dan internet maka sudah dapat dipastikan peserta didiknya memiliki kemampuan literasi teknologi tinggi, kemudian cerdas menggunakan teknologi diatur dalam kurikulum. Jika kedua komponen ini terintegrasi dengan baik maka ouputnya akan memiliki kualitas yang mampu bersaing dalam era teknologi.   Jadi semakin lengkap sarana dan prasarana lembaga pendidikan akan mempermudah transfer ilmu dari aneka sumber yang didapat dari internet, dsb sehingga proses pembelajaran menjadi lebih variatif, attraktif dan menantang. Dengan adanya teknologi pendidik bukanlah satu satunya sumber ilmu, sehingga ini menuntut pendidik dan peserta didik belajar sepanjang hayat ( long life learning) sebagai akibat dari tuntutan zaman.

 

Pendidik

Pendidik profesional adalah  pendidik yang menguasai  4 kompetensi dasar yaitu  (a) kompetensi pedagogik; yaitu kompetensi guru dalam memahahami karakteristik peserta didik, merencanakan proses pembelajaran, melaksanakan dan mengevaluasi, mengembangkan dan mengaktualisasikan peserta didik. Kompetensi ini menitik beratkan pada cara menyampaikan materi (how to teach)  sesuai dengan teori – teori belajar dan karakteristik siswa (how to learn) . Piawai tidaknya seorang pendidik tergantung pada penguasaan strategi pembelajaran, inovasi- inovasi dalam menghantarkan materi mutlak sangat diperlukan untuk mencegah kebosanan pada peserta didik dalam pembelajaran. (b) Kompetensi Kepribadian; dalam kompetensi ini seorang pendidik diwajibkan memiliki kepribadian yang mulia, jujur, tegas, berwibawa, amanah serta mampu menjadi teladan peserta didik. Kepribadian baik seorang pendidik dapat terlihat dari ucapan dan perbuatan yang tidak melanggar norma-norma agama dan sosial. Serta memiliki rasa bangga terhadap profesinya sehingga mampu menampil rasa percaya diri yang tinggi ( good looking)  dan bertindak sebagai pendidik yang memiliki etos kerja yang tinggi ( good acting).

Baca Juga:  Kabupaten Pringsewu Berpotensi Jadi Kota Pendidikan

Selain itu dua kompetensi tersebut seorang pendidik juga dituntut untuk memiliki (c) kompetensi sosial; yaitu kompetensi yang berkaitan dengan hubungan antar pendidik, antar peserta didik, antar wali murid,  antar warga sekolah dan masyarakat. Kompentensi ini dapat terlihat dari cara berkomunikasi, bergaul, bekerja sesuai dengan tugas pokok dan fungsi seorang pendidik dilingkungan sekolah dan keberterimannya dalam masyarakat.  (d) Kompetensi Profesional; yaitu kompetensi yang berkaitan dengan kemampuan akademik seorang pendidik dalam memahami materi ajar sesuai dengan bidang keilmuannya secara luas dan mendalam serta mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap stuktur dan metodologi keilmuannya.

Jadi, lembaga pendidikan yang ideal adalah lembaga pendidikan yang tidak acuh pada; kurikulum, sarana dan prasarana, kualitas pendidik.  Dengan  terpenuhinya 3 komponen tersebut maka lembaga pendidikan  dapat dipastikan lembaga tersebut akan menghasilkan lulusan – lulusan yang berkpribadian mulia, memiliki kompetensi dan mampu berkompetisi di era teknologi seperti sekarang ini.    Lembaga Pendidikan  seperti in merupakan solusi yang mampu memecah berbagai persoalan yang muncul, dan juga merupakan jawaban dari pertanyaan – pertanyaan masyarakat tentang pengelolaan lembaga pendidikan yang baik dan bermartabat. []·

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top