Nasional

Memaknai Persiapan WEF on ASEAN 2020, LBP: Lebih Baik Menyalakan Lilin Daripada Mengutuk Kegelapan

Menko Kemaritiman dan Investasi (Marves) Luhut Binsar Panjaitan didampingi Wamenlu Mahendra Siregar saat memimpin rapat persiapan WEF on ASEAN 2020, 7-9 Juli 2020, di Jakarta, Senin (10/2/2020). | Luhut Binsar Panjaitan | Facebook

JAKARTA — Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman dan Investasi (Marves) Luhut Binsar Panjaitan, atau LBP, lagi-lagi piawai memantik positivisme, menyulut asa penuh keyakinan.

Mengulas enak ritme persiapan pemerintah menuju gelaran World Economic Forum on ASEAN 2020, Juli mendatang, menko yang jago olahraga bela diri karate ini memberi pengibaratan dengan mendedah ujaran, “lebih baik kita menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan”.

Dikutip dari unggahan beranda Facebook-nya, Senin (10/2) malam pukul 19.00 WIB, ia memulai dengan mengemukakan analisisnya. “Gejolak perang dagang yang terjadi beberapa tahun terakhir saya kira membawa dampak yang kurang baik bagi kondisi ekonomi negara-negara berkembang di seluruh dunia,” kata dia.

Tidak terkecuali, kata dia, negara-negara di regional ASEAN yang selalu jadi lokasi persaingan antara kepentingan negara-negara maju yang ingin mempengaruhi negara-negara di Kawasan Indo-Pasifik, agar masuk ke salah satu pihak.

“Indonesia melihat persaingan ini sebagai hal yang tidak baik karena akan memunculkan isu-isu ketidakstabilan kawasan terutama dari segi keamanan dan perekonomian,” terawang LBP, jago karate eks Ketua Umum PB Forki 2001-2010 ini.

Baca Juga:  Hakordia 2019: KPK Gelar Refleksi Tahunan Hingga Festival Digital Media Pemerintah

Sehingga, “Atas dasar segala pertimbangan itulah, saya bersama jajaran Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi bersama kementerian terkait membahas kesiapan “World Economic Forum (WEF) on ASEAN 2020″ yang sedianya akan digelar pada tanggal 7-9 Juli 2020 mendatang di Jakarta,” jelasnya.

“Pada kesempatan ini, saya mendukung apa yang disampaikan oleh Wakil Menteri Luar Negeri, Mahendra Siregar bahwa pembangunan infrastruktur dan konektivitas di kawasan Indo-Pasifik menjadi fokus dan target utama kita,” ia afirmatif.

Lanjut dia lagi, “Saya juga berharap forum ini mampu mengukuhkan peran sentral negara-negara ASEAN dalam kerja sama di kawasan Indo-Pasifik, mendorong stabilitas, “habit of dialogue”, kerja sama dan penghormatan terhadap aturan internasional serta menyatukan pandangan para pemangku kepentingan dalam menjawab tantangan pembangunan.”

Mengapa? Lanjut, “mengingat ada 35 negara dan ada kira-kira 700 CEO perusahaan-perusahaan besar, serta 1,110-an peserta delegasi yang akan kami undang ke forum ini,” ia merincikan.

Terkait grand issue, pendiri Yayasan Del bareng sang istri, Devi Simatupang, yang kini antara lain mengampu Institut Teknologi Del, Desa Sitoluama, Laguboti, Toba Samosir (Tobasa), Sumatra Utara –tepi Danau Toba, diperuntukkan bagi anak berbakat dari keluarga tidak mampu Indonesia itu, secara spesifik menohok dua strong-point.

Baca Juga:  Menhan Ryamizard Gelar Pertemuan Perihal Kerjasama Keamanan

“Saya juga sampaikan kepada pemangku kebijakan terkait penyelenggaraan forum ini bahwa saya ingin dua tema sentral bisa dipaparkan, yaitu potensi “carbon credit” dan energi terbarukan ramah lingkungan, karena Indonesia adalah pemegang kunci dua sumber daya tersebut dan melihat prospek cerah yang ditawarkan dari keduanya.”

Terus bersemangat, “Saya mengundang seluruh perwakilan negara yang ada di kawasan Indo-Pasifik untuk melihat potensi kekayaan alam kita dan mengundang banyak sekali negara-negara maju untuk menanamkan modalnya kepada kita,” beber dia, menjulang rencana.

“Saya berencana membawa para delegasi untuk tur ke Morowali dan “Weda Bay” untuk melihat “success story” Indonesia dalam melakukan hilirisasi sumber daya alam kita sendiri,” ia mendaratkan agenda.

Sukses tuan rumah Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) dan Bank Dunia (World Bank) di Nusa Dua, Bali, 8-14 Oktober 2018 yang masih membekas berkesan baginya, jadi referensi khusus LBP.

“Untuk itu saya ingin penyelenggaraan forum ini dipersiapkan sebaik mungkin, karena kita sudah meletakkan standar tinggi penyelenggaraan pertemuan antar-negara seperti pada gelaran IMF-WB tahun lalu. Sampai-sampai banyak sekali negara-negara delegasi yang menyampaikan pujian atas penyelenggaraan “event” ini kepada saya.”

Bak ingin membumikan kesan senada, “Saya berharap forum ini dapat menjadi “showcase” keberhasilan pembangunan Indonesia serta menginspirasi seluruh negara Indo-Pasifik bahwa meskipun banyak sekali tantangan yang dihadapi negara-negara berkembang untuk mewujudkan cita-cita mereka menjadi negara maju, kita tidak gentar dan sama sekali tidak mundur selangkah pun,” LBP ingatkan jiwa korsa.

Baca Juga:  Pemerintah Tetapkan Total Cuti Lebaran Menjadi 10 Hari

“Karena saya teringat kata-kata seorang bijak bahwa lebih baik kita menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan,” ujar LBP, sontak menerbangkan ingatan pada kalimat lugas Adlai Stevenson yang dialamatkan untuk Eleanor Roosevelt, di New York Times edisi 8 November 1962, halaman 34, yang diakui dunia, sarat makna itu.

Memungkasi dengan tanya, “Dan bukankah keberhasilan yang diwujudkan bersama-sama lebih indah dari sekedar persaingan berebut pengaruh dalam kawasan?” memaksa pembaca mesti menunggu jawab, hingga WEF on ASEAN 2020 tersebut, resmi digelar Juli mendatang.

Diketahui, keterpilihan Indonesia jadi tuan rumah usai gelaran serupa dua tahun silam, 11-13 September 2018 di Ha Noi, Vietnam, akan pula menyajikan perluasan spektrum kepesertaan. Dimana, undangan diperbanyak dan negara peserta pun diperluas mulai dari kawasan Pasifik, Afrika, hingga Asia Selatan.(LS/Muzzamil)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top