Iklan
Daerah

Masyarakat Pringsewu Minta Penyelenggara Pemilu Diskualifikasi Arinal-Nunik

Masyarakat Pringsewu menggelar aksi di depan kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu)/LS

BANDAR LAMPUNG – Ratusan Masyarakat Pringsewu menggelar aksi di depan kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kamis (5/7). Para massa aksi mendesak agar Panwaslu mengusut tuntas dugaan politik uang dari pasangan calon nomor urut tiga Arinal Djunaidi – Chusnunia Chalim (Nunik) di pilgub 27 Juni 2018.

Ratusan massa aksi yang peduli gerakan moral dari perwakilan masyarakat di sembilan kecamatan Pringsewu memberikan petisi tolak politik uang ke Panwaslu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Anggota DPRD.

Mereka juga mendesak agar mendiskualisfikasi paslon nomor urut tiga dan mengulang kembali  pilgub 27 Juni 2018 lalu.

Baca Juga:  Sampoerna Retail Community (SRC) Gelar Pelayanan Kesehatan Gratis di Nggruput Pringsewu

“Mereka harus bergerak sesuai dengan tupoksi masing-masing. Karena masyarakat Lampung sudah muak dengan persoalan politik uang ini,”Kata Tim Juru Runding Perwakilan Masyarakat Pringsewu, Yudi Gondrong, Kamis (5/7).

Di lapangan, pihaknya juga menemukan adanya indikasi politik uang secara terstruktur, sistematis dan masif (Tsm).

Ia mendapat kabar bahwa ada oknum berpangkat lurah di Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang diindikasi membagikan sejumlah amplop untuk mengarahkan masyarakat agar memilih salah satu paslon gubernur – wakil gubernur Lampung periode 2019-2024.

“Persoalannya masalah sudah selesai, mereka baru cerita sehingga indikasi dugaan pelanggaran politik uang ini mentah semua,” ujarnya.

Tatanan demokrasi di Lampung saat ini sangat buruk karena diindikasi adanya turut campur tangan koorporasi. “Sistim Demokrasi Lampung saat ini sudah sangat buruk. Karena berada di bawah cengkraman naga betina itu,” sindirnya.

Baca Juga:  Cara Satlantas Polres Tuba Cegah Kemacetan di Jalintim

Dengan adanya politik uang ini, ia menilai bahwa kesepakatan bangsa tentang demokrasi ini telah hancur pasca adanya campur tangan koorporasi di ajang pesta demokrasi lima tahunan tingkat provinsi tersebut.

“Masa iya negara kalah sama mafia. Jadi sudah tidak ada kewibawaan lagi negara ini di mata masyarakat jika permasalahan ini tidak bisa diusut tuntas. Terus mau mengadukan kemana lagi permasalahan ini, kalau pada diam. Mau mengadu sama Allah nanti di akhirat akhirnya,”pungkasnya.(LS)

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top