Iklan
Modus

Masyarakat Minta Polres Waykanan Serius Tangani Pungli

Pungutan liar/Ilustrasi

WAYKANAN – Masyarakat menilai Polres Waykanan, tidak benar-benar serius dalam menangani maraknya pungutan liar (pungli)  dan premanisme di jalan lintas tengah (jalinteng) Sumatera, Kabupaten Waykanan.

Seperti diungkapkan Fadlatul Rahmanfikri, warga Blambanganumpu. Dia menilai Polres Waykanan kurang serius menindak oknum pungli hingga sampai dengan kerah putih.

“Sudah jelas pidato presiden mengatakan bahwa penarikan uang senilai Rp10 ribu saja bila tidak ada dasar hukum yang jelas, itu termasuk dalam pungli dan harus ditindak,” tegas dia, Kamis (25/10).

Kekesalan juga diungkapkan Yasir, warga Kampung Karangumpu. Menurutnya, kasus pungli sudah sejak 1 tahun saja tidak ditangkap.

Sebelumnya, Kapolres Waykanan, AKBP Doni Wahyudi, mengatakan bahwa adanya indikasi premanisme dan pungli bisa saja dilakukan oknum yang memanfaatkan situasi di Waykanan.

Baca Juga:  Kasus Penyimpangan APBD Seret Nama Arinal Djunaidi, Kinerja Kejati Lampung jadi Sorotan

“Awalnya kelompok masyarakat yang mengatasnamakan masyarakat peduli jalan dan jembatan tersebut memiliki niatan yang baik karena menilai jalan dan jembatan mengalami kerusakan utamanya jembatan way umpu yang sudah parah akibat dari rutinitasnya angkutan beban berat yang melintasi jembatan tersebut,” ujar Doni.

Namun, kata dia, masyarakat tersebut yang mengaku pemerhati jembatan tersebut bila sudah memanfaatkan moment ini untuk melakukan pungli bahkan aksi premanisme.

“Polres Waykanan dan jajaran akan bertindak tegas dan diproses hukum dan saat ini kami terus melakukan upaya upaya koordinasi dengan pihak terkait dan juga para pengusaha serta transportir untuk sama sama membahas jembatan tersebut agar kembali normal kembali serta adanya ketaatan para pengguna jalan untuk mematuhi apa yg jadi ketentuan tonase dan jam operasionalnya,” pungkasnya.

Baca Juga:  Mulai Dari Legalitas STR Hingga Pengusiran Pasien Jadi Permasalahan RS Bumi Waras

Diketahui sebelumnya, perihal adanya indikasi pungli disampaikan oleh sopir batubara, Hendra (32) saat di tanya media di salah satu rumah makan yang berada di jalan lintas tengah (Jalinteng) Sumatera, Kabupaten Waykanan, Lampung.

Hendra menyebutkan bahwa dirinya telah membayar kepada pihak stopel (sebutan untuk tempat bongkar muat batubara).

“Sebelumnya, saya sebagai sopir angkutan batubara tidak tahu bahwa di Waykanan ada pelarangan angkutan batubara melintas,” ujarnya, Selasa (23/10).

“Sebelumnya kami bongkar muat di stopel yakni tempat bongkar muat batubara, kami telah bayar uang senilai Rp330.000 kepada pihak stopel, uang tersebut sudah keseluruhan sudah termasuk pengawalan,” ungkapnya.(SP)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top