Pendidikan

Mahasiswa UIN Metro Lampung dan Raden Fatah Palembang Luncurkan Kajian Intertekstual Pada Dua Novel

4 Mahasiswa UIN Metro Lampung dan Raden Fatah Palembang Luncurkan Kajian Intertekstual di Novel Mudzakkarat Tobibah/Istimewa

Suluh.co – Empat orang mahasiswa dari dua institusi, UIN Raden Fatah Palembang dan IAIN Metro Lampung, melaunching hasil penelitian yang berjudul Kajian Intertekstual pada Novel Mudzakkarat Tobibah Karya Nawal El-Sa’dawi dan Novel Banat Riyadh Karya Rajaa Al-Sanea, yang diselenggarakan melalui virtual zoom.

Penelitian telah terselesaikan selama kurang lebih 3 bulan dimulai dari bulan Januari hingga Maret.

Webinar hasil penelitian dihadiri oleh Kaprodi dari dua institusi yakni Jurusan Bahasa dan Sastra Arab UIN Raden Fatah, Palembang dan IAIN Metro, Lampung. Selama penelitian berlangsung, empat orang mahasiswa telah dibimbing oleh dua orang Dosen yang kompeten dalam bidangnya.

Kaprodi Bahasa dan Sastra Arab UIN Raden Fatah, Walidin, M.Hum sekaligus pembina terselenggaranya penelitian turut memberikan apresiasi.

“Izinkan saya mengucapkan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada para peneliti dan dosen pembimbing. Sungguh penelitian ini sangat presisi dan sistematika penulisan sangat jeli. Teori dan aplikasi dilakukan secara konstan,” ungkap Walidin melalui pesan WhatsApp, beberapa waktu lalu.

Baca Juga:  Mahasiswa Unila Ajak Warga Pekon Marga Mulya Kembangkan Potensi Desa

Penelitian pada kedua karya sastra berupa novel Timur Tengah yang menceritakan kisah-kisah perempuan berjuang membebaskan dirinya dari keterkekangan adat dan budaya yang berlaku di masyarakatnya dengan dikaji melalui teori Intertekstual.

Hal ini sesuai dengan sifat karya sastra yang dinamis (berubah) pada setiap zamannya, yang artinya setiap karya sastra mengalami perkembangan sesuai dengan sejarah sosial dan budaya.

Oleh karena itu, teori interteks digunakan dalam mengkaji karya sastra novel Mudzakkarat Tobibah dan Banat Riyadh karena memiliki kesinambungan yang mana novel Banat Riyadh merupakan perkembangan hasil karya sastra sebelumnya yaitu Mudzakkarat Tobibah dengan memiliki kemiripan pada tema yaitu perjuangan seorang perempuan yang ingin terbebas dari keterkekangan yang dirasakan dan berjuang menyetarakan antara hak laki-laki dan perempuan.

Perkembangan pada karya sastra tidak terlepas dari hipogram yang membangun sebuah karya sastra. Hipogram penting adanya untuk menciptakan karya sastra yang baru.

Maka dari itu, teori Intertekstual yang digunakan pada penelitian bertujuan untuk mengetahui bahwa setiap karya sastra tidak lahir dari kosongnya ruang yang mana karya sastra itu tercipta dari kepingan-kepingan teks pada karya sastra sebelumnya. Hal ini disebut dengan karya transformasi (karya sesudahnya)

Baca Juga:  Rektor IAIN Metro Lantik 240 Pengurus Dema

Hasil Penelitian yaitu transformasi teks pada kedua novel dilihat dari kesejarahan sosial budaya pada novel sebelumnya (Mudzakkarat Tobibah) ke novel Banat Riyadh yang terkisah pada kedua novel melalui tiga konsep pada pentransformasian yakni oposisi, transposisi, dan transformasi.

Pada novel Mudzakkarat Tobibah kondisi sosial budayanya masih sangat tradisional sehingga kaum perempuan sangat dibatasi dalam aktivitasnya dan tidak diperbolehkan berpendidikan layaknya kaum lelaki.

Sementara itu, tokoh utama perempuan berusaha memperjuangkan derajatnya dan membuktikan kepada masyarakat dan keluarganya bahwa perempuan dapat melakukan apapun sebagaimana lelaki dengan masuk ke Fakultas Kedokteran.

Hal ini, penulis novel Banat Riyadh, mentranformasikan teks dari novel Mudzakkarat Tobibah melalui keadaan sosial budaya yang sudah modern dan tidak dibatasi lagi gerak-gerik kaum perempuan sebagaimana novel sebelumnya.

Namun keterkekangan yang dialami oleh tokoh novel Banat Riyadh disebabkan atas perlakuan suaminya sendiri. Kekerasan dan ketidakharmonisan dalam rumah tangga serta kisah percintaan yang tidak karena iman menjadi penyebab konflik pada novel Banat Riyadh.

Baca Juga:  Ferynia Presentasikan Pembangunan Gedung Perpustakaan Modern ke Kepala Perpustakaan Nasional RI Syarif Bando

Sehingga kerugian hanya dirasakan oleh kaum perempuan. Hal inilah yang menjadi bentuk perjuangan yang harus dilakukan oleh perempuan untuk menyetarakan antara hak laki-laki dan perempuan. Kedua novel memiliki kesinambungan yang dilihat dari kesejarahan kondisi sosial budaya sehingga karya yang lahir merupakan kepingan teks dari karya sebelumnya.

Rasa terimakasih peneliti sampaikan kepada para Dosen pembimbing dan pembina terselenggaranya penelitian kolaboratif.

“Terimakasih atas bimbingan bapak ibu dosen yang telah membimbing kami dalam menyelesaikan penelitian, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua,” ungkap peneliti.

 

Penulis : Faidatul Janah

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top