Modus

Mahasiswa Baru Unila jadi Korban Kekerasan Senior, Korban Mengaku Diseret Hingga Ditendang

Orang tua mahasiswa baru Unila dari Fakultas Hukum melaporkan dugaan tindak penganiayaan oleh seniornya di Fakultas Hukum Unila/JO/Suluh

BANDAR LAMPUNG – Mahasiswa baru Universitas Lampung (Unila), melaporkan seniornya atas dugaan penganiayaan korban kekerasan fisik dan mental, ke Mapolda Lampung, Rabu (18/9).

Mahasiswa baru Unila dari Fakultas Hukum tersebut, menjadi korban kekerasan seniornya saat mengikuti kegiatan pengkaderan dan diksar (pendidikan dasar) UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa).

Korban berinisial RDP, warga Labuhan Ratu, Kota Bandar Lampung, mengaku dikeroyok dan dipukuli seniornya saat mengikuti pendidikan dasar UKM Mahasiswa Hukum Sayangi Alam atau Mahusa Unila.

Kegiatan Diksar Mahusa Unila ini, berlangsung sepekan lalu sejak tanggal 12 hingga 15 September 2019 di Gunung Betung, Pesawaran dan diikuti 13 peserta Diksar.

“Ketika mengikuti Diksar, kondisi saya memang sedang sakit, karena baru menjalani perawatan di rumah sakit dua hari sebelum kegiatan dimulai. Hari pertama masih biasa, namun memasuki hari kedua, para senior mulai berlaku kasar,” jelas korban RDP, Rabu (18/9).

Baca Juga:  Kirab Obor Asian Games, Pengendara Hindari Jalan Utama Kota Bandar Lampung

Saat kegiatan memasuki hari kedua, korban RDP mengaku, para seniornya mulai berlaku kasar. Ia diseret menjauh dari teman-temannya ke pinggir hutan untuk dipukuli dan ditendang hingga pingsan.

RDP dianiaya karena menjawab pertanyaan seniornya dan mengatakan tidak sanggup lagi mengikuti kegiatan diksar.

“Setiap kali pergantian sesi kegiatan senior sering bertanya, siapa yang tidak kuat dan siapa yang lagi sakit, siapa yang mau pulang. Ketika saya mengangkat tangan, malah saya digampar-gampar. Terus saya diseret, dijauhkan dari peserta lain. Saya digebukin rame-rame. Saya ditahan enggak boleh pulang,” jelasnya.

Karena tidak kuat dengan siksaan, akhirnya ia terpaksa mengaku masih kuat agar tidak dipukuli oleh para senior.

“Begitu terus, setiap kali ditanya dan saya jawab tidak kuat, saya digebukin terus. Saya diseret ke pinggir hutan dan digebukin disana,” sesalnya.

Baca Juga:  Terkait 9,20 Gram Sabu, Seorang Pemuda Ditangkap Polisi

RDP mengaku, ada sekira lima orang yang menyeret, mengambil kacamata dan melakukan tindak kekerasan.

“Saya sampai pingsan. Saya dipaksa bangun, ditendang-tendang, katanya enggak usah pura-pura pingsan. Laki-laki kok lemah kata mereka. Dan itu, saya tidak dibolehkan pulang harus mengikuti diksar sampai selesai. Katanya (senior) belum pernah acara diksar ini ada yang pulang,” urai RDP.

Dari kelima pelaku, ada empat pelaku yang ia kenali, yakni Ketua Mahusa Azzam, Fauzan, Ulil yang nama aslinya Dimas, dan satu lagi bernama Guntur.

“Bedanya, bang Azzam tidak ikut menggebukin, tapi saat saya digebukin dia menonton sambil minum. Dia tidak melerai sama sekali. Jadi kemarin saya enggak bisa lapor ke Polres karena tidak ada saksi, jadi hari ini kita melapor langsung ke Polda Lampung, dengan saksi,” papar RDP.

Baca Juga:  Sapras Polda Lampung Cek Randis dan Senpi Polres Tanggamus

Akibat perlakuan kasar mahasiswa UKM Mahusa Unila, tubuh RDP alami luka lebam, bibir pecah dan kuku pada kedua kakinya membiru karena diinjak.

Sementara itu, Orangtua RDP, Novi Ursal, meminta polisi menindak tegas pelaku penganiayaan dan pihak Kampus. Ia juga telah membawa bukti visum di RS Abdul Moeloek.

“Kalo masih wajar, yah biasa saya masih terima, tapi anak saya itu bibirnya pecah ditonjok, kukunya hampir lepas, kepalanya ditendang dada ditonjok, perut diinjek, enggak manusiawi betul mereka,” tegas Novi Ursal, usai berkoordinasi dengan SPKT dan penyidik Polda Lampung.(JO/TS)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top