Iklan
Ekonomi

LPEI Tunaikan Tugas Dukung INKA Ekspor Kereta Api ke Bangladesh

Pengiriman Batch-1 ekspor 15 dari 250 kereta penumpang produksi PT INKA (Persero) yang dilepas oleh Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (tengah); Dubes RI untuk Bangladesh dan Nepal Rina Soemarno (kanan); Deputi Bidang Infrastruktur Bisnis Kementerian BUMN Hambra (kiri); Dirut INKA Budi Noviantoro (kedua kanan); dan Direktur Eksekutif LPEI, Sinthya Roesly (kedua kiri) di Dermaga Jamrud II, Tanjung Perak, Surabaya, Minggu (20/1)/INKA

JAKARTA – Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank (IEB) yang diberi mandat khusus oleh pemerintah untuk penyediaan pembiayaan, penjaminan dan asuransi ekspor dalam rangka mendukung program ekspor nasional sebagaimana diatur Undang-undang Nomor 2 Tahun 2009 tentang Lembaga Pembiayaan Ekspor, kembali sukses menunaikan tugasnya.

Perwujudan pelaksanaan mandat itu salah satunya, penguatan pembiayaan ekspor melalui skema National Interest Account (NIA)/Penugasan Khusus Ekspor, yang diberikan untuk menyediakan pembiayaan ekspor atas transaksi atau proyek yang secara komersil sulit dilaksanakan, tetapi dianggap perlu oleh pemerintah.

Dari itu, lewat penerbitan Keputusan Menteri Keuangan (KMK) No.513/KMK.08/2018 (perubahan atas KMK No.374/KMK.08/2017) tentang Penugasan Khusus kepada LPEI untuk Menyediakan Pembiayaan Ekspor Kereta Penumpang dan Gerbong Barang Kereta Api, LPEI menunaikan hal itu dengan fasilitasi pembiayaan kepada PT Industri Kereta Api/INKA (Persero) sebesar Rp 775,6 miliar.

Baca Juga:  Rayakan HUT ke-54, PGN Fokus Jalankan Peran Sub Holding Gas

Pembiayaan yang diakui bentuk sinergi dengan salah satu BUMN strategis guna mendorong laju ekspor Indonesia itu, dialokasikan untuk pembiayaan modal kerja ekspor kereta penumpang masing-masing sebanyak 50 tipe BG (Broad Gauge) dan 200 tipe MG (Meter Gauge) pesanan Bangladesh melalui Bangladesh Railway.

Demikian keterangan pers Direktur Eksekutif LPEI Shintya Roesly yang diterima redaksi, Senin (21/1), usai kunjungannya meninjau proses pemuatan gerbong kereta tersebut ke dalam lumbung kapal, di Dermaga Jamrud II, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (20/1/2019).

Shintya Roesly hadir bersama Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Deputi Bidang Infrastruktur Bisnis Kementerian BUMN Hambra, Dirut PT INKA Budi Noviantoro, dan Duta Besar Indonesia untuk Bangladesh dan Nepal Rina P Soemarno.

Saat sambutan, Sinthya menyatakan, melalui KMK 513/2018 ini, LPEI ditugaskan kembali oleh pemerintah untuk memfasilitasi pembiayaan ekspor kepada badan usaha yang memiliki kemampuan dan kapasitas memproduksi kereta penumpang dan gerbong barang kereta api untuk diekspor ke Bangladesh dan Sri Lanka.

Baca Juga:  Tapping Box Tambah Pemasukan PAD Kota Bandar Lampung

“Pembiayaan ekspor termasuk dalam bentuk Buyer’s Credit, Penjaminan dan/atau asuransi,” katanya.

Skema NIA/PKE sendiri, ujar dia, ialah program pemerintah berbentuk penugasan kepada LPEI sebagai salah satu strategi memasarkan produk industri strategis nasional ke negara prospektif, sekaligus dukungan pemerintah dalam meningkatkan daya saing ekspor.

Pengiriman tahap pertama (batch-1) sebanyak 15 kereta penumpang tipe BG ke Bangladesh, kemarin, tambah Shintya, merupakan progres nyata atas penggunaan modal kerja ekspor untuk mendukung BUMN produsen kereta api terintegrasi pertama di Asia Tenggara ini dalam melakukan ekspansi bisnis ke pasar internasional khususnya pasar prospektif.

“Selanjutnya akan dilakukan pengiriman atau shipment secara bertahap sehingga terpenuhinya pesanan Bangladesh Railways pada tahun 2020,” papar Shintya.

Diketahui, sebelumnya LPEI telah memberikan pendanaan serupa di tahun 2016 kepada PT INKA untuk memproduksi 150 kereta dengan nilai kontrak 72,39 juta dolar AS.

Menurut dia, ekspor ke Bangladesh ini memiliki nilai strategis bagi INKA yang berdiri sejak 18 Mei 1981 itu dan bagi industri strategis Indonesia. “Keberhasilan menghasilkan dan mempertahankan kualitas produk berdaya saing merupakan kunci keberhasilan untuk memenangkan persaingan di pasar global.”

Baca Juga:  Pemprov Lampung Segera Pulihkan Tangkapan Air Waduk Batutegi

Diharapkan, keberhasilan INKA menjual produknya ke Bangladesh ini, membuka peluang bagi pelaku usaha Indonesia lainnya untuk turut bersaing memasuki pasar prospektif di Asia dan Afrika.

Disebutkan pula, pembiayaan atas proyek produksi gerbong penumpang kereta api ini memiliki nilai multiplier bagi perekonomian Indonesia, tidak hanya terbatas pada INKA. Industri besar lainnya dan pelaku usaha kecil menengah (UKM) dalam negeri yang berperan memasok kebutuhan industri kereta api, seperti industri baja, pengecoran, industri komponen kereta, industri permesinan, serta beragam trickle down effect lainnya terhadap banyak pelaku UKM mitra kerja INKA.

“Sinergi yang baik antara pemerintah, LPEI, BUMN strategis Indonesia, dan pelaku usaha ekspor lainnya penting guna mendukung pertumbuhan industri dalam negeri, memiliki potensi peningkatan dan pengembangan ekspor jangka panjang,” pungkasnya.(LS/MZl)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top