Daerah

Kutunggu Kabar Baikmu, Bendungan Way Sekampung

Penampakan Bendungan Way Sekampung, Kabupaten Pringsewu, Lampung, per informasi tuntas rampung September 2020 ini. | Courtesy Photo: Sekretariat Dewan Sumber Daya Air Nasional (SDSDAN) Kementerian PUPR

BANDAR LAMPUNG — Sesuai tenggat, progres pembangunan Bendungan Way Sekampung, di Kabupaten Pringsewu, Lampung, pada 2020 ini diproyeksi tuntas rampung.

Waduk raksasa, bersama Bendungan Margatiga di Kecamatan Margatiga ini, dan Bendung Gerak Jabung (selesai 100 persen pada 2019) di Kecamatan Jabung Lampung Timur, bagian Proyek Strategis Nasional (PSN) 2014-2019.

Bendungan Way Sekampung dibangun berdasar Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 3/2016 tentang Percepatan Pelaksanaan PSN, sebagaimana telah diubah dengan Perpres 58/2017.

Secara geospasial, bendungan terletak pada koordinat 104 ͦ48ʾ – 105 ͦ08ʾ Bujur Timur dan 5 ͦ12ʾ – 5 ͦ33ʾ Lintang Selatan.

Tumpuan kiri bendungan berada pada Pekon (nama subsidiaritas desa empat kabupaten: Pringsewu, Tanggamus, Lampung Barat, Pesisir Barat sesuai UU Desa) Banjarejo, Kecamatan Banyumas, dan tumpuan kanan Pekon Bumi Ratu, Kecamatan Pagelaran.

Aneka kesempatan, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono bilang, bendungan ini dibangun mendukung ketahanan air dan pangan nasional, mendukung produksi pertanian berkelanjutan.

Sebagai ‘pagar’ pengelolaan sumber daya air dan irigasi, basis potensi air baku, energi, pengendalian banjir, dan pariwisata penumbuh ekonomi lokal.

Waduk bersumber APBN tahun jamak senilai Rp1,7 triliun ini dibangun kurun 2016 tuntas bangun 2020, melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR.

“Berkapasitas tampung 68 juta meter kubik, yang akan dimanfaatkan untuk penyediaan air irigasi Daerah Irigasi (DI) Sekampung seluas 55.373 hektar, dan menambah area irigasi DI Rumbia Extension 17.334 hektar,” keterangan tertulis menteri, 16 Maret 2020.

Harapannya, jaringan irigasi terbangun bantu peningkatan intensitas tanam petani (khusus Kabupaten Pringsewu hingga 270 persen), daripada metode tadah hujan, setahun sekali tanam.

Pengerjaan tiga paket. Paket satu, kontraktor pelaksana skema kerja sama operasi (KSO) BUMN Karya PT Pembangunan Perumahan (PP), dan PT Ashfri bernilai kontrak Rp873 miliar. Paket dua, KSO duet BUMN Waskita Karya-Adhi Karya, nilai Rp829 miliar.

Paket lanjutan pembangunan kolam olak dan jembatan hampir rampung. Seluruh pekerjaan pembangunan diuber September 2020 ini kelar.

Kini dan ke depan, warga Bumi Jejama Secancanan Pringsewu ada kebaruan nilai tambah, obyek wisata bendungan. Plus potensi lain wisata tematik sesuai derajat inovasi lokal para local hero, kelak menjamur bermunculan.

Sisi lain, empat tahun berjalan sampai detik ini, masih ada warga Bumi Ruwa Jurai Lampung di tiga daerah, Bumi Ragom Gawi Kota Bandarlampung, Bumi Sai Wawai Kota Metro, dan warga Natar, Bumi Khagom Mufakat Lampung Selatan, yang belum “ngeh”.

Bahwa selain mendukung pemenuhan kebutuhan air irigasi di Lampung, kelak Bendungan Way Sekampung juga bisa jadi penyedia air baku ketiga daerah, kapasitas 2.482 liter per detik (l/det).

Juga miliki potensi ketenagalistrikan, Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM) berdaya 5,4 MW (2 x 2,7 MW), serta mereduksi banjir sebesar185 meter kubik per detik (m3/det). Wow!

Balik bentar ke tahun lalu, ke cuplikan penjelasan teknis Kepala BBWS Mesuji Sekampung Iriandi Azwartika, 25 Juli 2019, saat kunjungan tim kementerian.

Tepatnya, saat pelaksanaan fase inti –pengerjaan pembangunan badan bendungan, dimulai. Ditandai dengan river closure, pengelakan sungai.

Dari Iriandi diketahui, tinggi bendungan 55 meter, panjang Mercu Bendungan hingga 362 meter, volume tampungan total yakni 68,06 juta meter kubik (m3), volume tampungan efektif 33,46 juta m3, volume tampungan mati 34,60 juta m3. Dengan tipe bendungan, urugan batu dengan inti tegak.

Iriandi –kini Direktur Air Tanah dan Air Baku Ditjen SDA dan digantikan Abdul Muis–, saat itu detail memaparkan.

Sementara, luas daerah aliran sungai (DAS) di Bendungan Way Sekampung 347 kilometer persegi (km2) dengan luas area genangan 669,7 hektar. Tipe pelimpahnya yaitu kombinasi pelimpah ambang bebas dan pelimpah berpintu.

Afirmasi Iriandi, tenggat akhir bangun September ini jadi pijakan kesimpulan.

Ujar dia, “Kita berharap pembangunan Bendungan Way Sekampung ini selesai tepat waktu, dimana sesuai target, penyelesaian pekerjaan direncanakan selesai pada bulan September 2020.”

Saat itu dia memaparkan progres pada Kepala Pusat Bendungan Ditjen SDA Kemen-PUPR Dr Ni Made Sumiarsih mewakili Dirjen SDA, pimpinan BUMN pelaksana, unsur Pemprov Lampung, Bupati Pringsewu KH Sujadi Saddat.

Selain filosofis –air berlimpah bisa jadi barokah juga bisa jadi musibah, pidato bupati saat itu juga transedentis. Bila dimanfaatkan dengan baik, seperti dibuatkan bendungan, tentu akan jadi barokah bagi umat.

Berbesar harapan semoga setiap tetes air di Bendungan Way Sekampung senantiasa akan menjadi manfaat, “Bendungan Way Sekampung ini merupakan kebanggaan masyarakat Pringsewu yang memiliki begitu besar manfaat,” bupati haru bermunajat.

Baca Juga:  Gubernur & PT Angkasa Pura Bahas Bandara Branti

Data Sekretariat Dewan Sumber Daya Air Nasional, bendungan ini bagian 49 bendungan baru, di luar 16 bendungan lanjutan, total 65 target 2015-2019.

Sekadar ilustrasi, simak informasi Tumijo, PPK OP SDA III pada Ditjen SDA Kemen-PUPR, Maret 2020, yang kini ke depan, bermuara bukan saja happy ending, tetapi everybody happy.

“Kendala petani daerah hilir mengeluh kekurangan air, tapi waktu debit air bendungan cukup, air diberikan, petani tidak langsung menanam,” ujarnya.

Pada akhirnya air terbuang begitu saja. “Dan pola pengaturan pembagian air di tingkat bangunan sekunder tidak sesuai dengan kebutuhan,” imbuhnya.

Sehingga, eksisting Bendungan Way Sekampung terbangun: meningkatkan pemanfaatan debit Way Sekampung, meningkatkan fungsi Waduk Batutegi di Pekon Batutegi, Kecamatan Air Naningan, Kabupaten Tanggamus (fungsi utama PLTA, volume normal 687,767 juta m3 dan luas air 16 km2, pengerjaan 1994-2002).

Serta, adanya Bendung Argoguruh, Bendung Gerak Jabung, Bendungan Margatiga (on going) dapat melayani kebutuhan air sampai ke hilir.

Bendung Gerak Jabung kelar dibangun, ditarget mengairi 5.638 hektar sawah, berfungsi ganda untuk saluran irigasi pendukung peningkatan produksi pertanian sekaligus perikanan rakyat.

Bendungan Margatiga berkapasitas tampung total 147,94 juta m3 di hilir sungai Way Sekampung, diproyeksi mengairi 10.950 hektar lahan irigasi 18 desa di 4 kecamatan Lampung Timur (Margatiga, Sekampung, Metrokibang, Batanghari) dan 1 kelurahan di Metro Selatan, Kota Metro. Nilai kontraknya Rp813 miliar, konstruksi digarap KSO Waskita Karya-Adhi Karya, 2021 kelar.

Serta, memiliki potensi sumber air baku 830 l/det, meningkatkan indeks pertanaman hingga 250 persen, jadi pengendali banjir, konservasi air, dan destinasi pariwisata baru.

Jawaban teknokratik sulit dipatahkan, lantaran lahir dari penyempurnaan, ikhtiar pemajuan, dan eksekusi kajian.

Seperti penuturan Faliansyah, Kabag Penyusunan Program dan Pelaporan Sekretariat Dewan Sumber Daya Air Nasional (SDSDAN), untuk mengetahui kebutuhan air di Sekampung perlu satu sistem terintegrasi dari Bendungan Batutegi sampai Bendungan Margatiga.

Mantan Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi II, Gorontalo, dan BWS Sumatera V, Padang, Sumatera Barat Ditjen SDA itu menjelaskan, seiring pembangunan bendungan, terselia harapan sisi pengendalian, ancaman banjir bisa tereduksi kemudian.

“Dengan membentuk sistem pengendalian banjir maupun kekeringan dari hulu sampai ke hilir di Lampung,” Faliansyah, mendampingi Kepala SDSDAN Apriady Mangiwa.

Asal tahu, Gubernur Riau ex officio mewakili Indonesia bagian barat, salah satu dari 20 anggota unsur pemerintah  dalam struktur DSDAN yang dibentuk berdasarkan beleid Perpres 10/2017.

Dalam bekerja, DSDAN dipimpin oleh Menko Perekonomian/ketua, Menko Kemaritiman dan Investasi (Marves)/wakil ketua, Menteri PUPR/ketua harian, dan Dirjen SDA/sekretaris.

Sudah agak nyaris pengujung artikel, yuk kita bedah sejenak garis adiluhung pemantik Bendungan Way Sekampung bagi catu daya penjagaan geostrategis rupabumi Lampung, yang notabene bukan sebatas zona gerbang selatan Sumatera cum pintu keluar-masuk jalur distribusi logistik nasional antarpulau Sumatera-Jawa dan sebaliknya, saja.

Namun juga bagi berkah spasial –fakta kepemilikan status– Lampung sebagai salah satu dari 13 provinsi penyangga (buffer) ketahanan pangan nasional. Lumbung pangan, bahasa ulungnya.

Dengan modalitas kekayaan potensial sumber daya alam (SDA) sangat besar didalamnya, termasuk potensi sumber daya air (SDA).

Mengutip sementara pendapat, omong kosong bicara daya dukung ketahanan pangan namun menafikan keberadaan jaringan irigasi yang cukup kondusif, salah satu yang harus jadi perhatian.

Olah data, areal persawahan yang dialiri sistem irigasi Way Sekampung saat ini seluas 43.588 hektar untuk musim panen rendengan, dan 19.054 hektar untuk musim tanam gadu.

Sistem irigasi Way Sekampung ialah gabungan beberapa daerah irigasi di Lampung Tengah sejak 1935, dengan membangun Bendung Argoguruh pada Way Sekampung, di Desa Tegineneng, Kecamatan Natar, Lampung Selatan –kini Desa Bumi Agung, Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran.

Bagi Sekampung Sistem, Argoguruh pensuplai tetap dengan potensi luasan 55 ribu hektar area persawahan Metro, Lampung Tengah, dan Lampung Timur, dibawah UPTD PSDA II Wilayah Metro.

Dua saluran pembawa, Feeder Canal I, Feeder Canal II Sekampung Sistem kini mengairi total luasan 76.006 hektar sawah di tujuh DI/daerah irigasi.

Perinci Feeder Canal I mengairi 34.081 hektar dengan debit 44.950 m3/det, melayani DI Sekampung Batanghari, Sekampung Bunut, Batanghari Utara, Raman Utara.

Feeder Canal II mengairi 41.925 hektar dengan debit 70.262 m3/det, melayani DI Bekri, Punggur Utara, Rumbia Barat.

Kemen-PUPR melalui BBWS Mesuji Sekampung melakukan rehabilitasi berkala dan meningkatkan kapasitas DI Way Sekampung.

Sadar betul akan ruh “eksekusi” dalam portofolio platform programatik rezim partisipatif-teknokratik Kabinet Kerja Jokowi-JK 2014-2019, Kemen-PUPR secara kepeloporan developmentalis berbasis kinerja money follow program dan “best output, very well outcome”, lentur membuktikan, skala prioritas

Baca Juga:  Polres Pesawaran Beri Hadiah Kepada Personel Berprestasi

pelaksanaan eksekusi pembangunan embung dan bendungan, gadangan Presiden Jokowi sejak masa kandidasi politik elektoral enam tahun silam.

Skala prioritas, terkait latar bangun, jumlah dibangun antar wilayah hingga pengabdian profetik segenap eksekusi kini pun mulai diangguki banyak pihak.

Kenapa di Nusa Tenggara Timur (NTT) pemerintah membangun sampai tujuh bendungan? Oh iya, benar. Ternyata ketersediaan air adalah problem akut paling utama dan pertama di sana.

Meski menukil jawab, mencicil bukti, pemerintahan Kabinet Indonesia Maju Jokowi-Ma’ruf Amin 2019-2024, sejauh ini tunai eksekusi.

Sadar betul salah satu problem pokok menahun tata kelola pangan nasional terletak pada maha sulitnya menjaga idealisasi keseimbangan harga pangan atau terbujur “farmer as the former, customer as end-user”, rakyat petani rakyat konsumen sama-sama menang.

Maka, makin buruk jika terus tertunda, taja prioritas pembangunan utilitas waduk/bendungan, jadi bagian strategi jangka panjang upaya riil peningkatan kapasitas produksi pertanian nasional sesuai aras RPJMN 2015-2019.

Mewujudkan bangun bendungan yang sesungguhnya tak menarik tak fisibel jangka pendek, kandungan rigid risiko investasi gagal proyek, masih kental stigma apopulis dibanding histeria program karitatif, butuh bukan saja kemauan baik prakarsa the executive heavy, juga garansi politik risk taker executive, bravely. Jokowi? Exactly.

Memperjelas latar penting pemikiran forecasting Kepala Negara soal pokok bendungan, memutar rekaman, jurnalis Liputan6.com, Maulandy Rizky Bayu Kencana mereportase kutipan Jokowi.

“Kita juga memiliki strategi besar supaya rakyat bangun bendungan sebanyak-banyaknya. Kebutuhan air untuk pengairan sawah suplai 11 persen. 49 waduk, suplai 20 persen dari kebutuhan yang ada,” tutur Jokowi, 17 Februari 2019, dikutip Maulandy.

Nyaris di ujung, sedikit menyinggung isu pemerataan ketersediaan air bersih  nasional kita sebagai negara populasi penduduk terpadat keempat di dunia, peran strategis bendungan sebagai bagian solusi aksesibilitas pasokan air baku ikut dipercaya jadi jurus mangkus pemutus mata rantai kemiskinan.

Ada yang bilang pahit, jujur itu mujur. Indonesia punya problem dasawarsa, kesenjangan pertumbuhan ekonomi dengan aksesibilitas/kapasitas air bersih rakyat. Jomplang.

Data November 2018 menunjukkan, 33,4 juta jiwa penduduk kekurangan air bersih, dan 99,7 juta jiwa penduduk kekurangan akses sanitasi yang baik. Sebut BPS kurun itu capaian akses kebutuhan dasar air bersih layak di Indonesia 2018 telah 72,55 persen.

Akhir 2019 sisa 32 juta jiwa penduduk belum memperoleh akses air minum layak, 67 juta jiwa penduduk belum terlayani akses sanitasi layak. Catatan BPS, capaian akses air minum layak akhir 2019 telah 88 persen, dan akses sanitasi layak di posisi 75 persen.

Menarget 100 persen pertumbuhan untuk mencapai Universal Access air minum dan sanitasi di 2019, negara getol mengejar proporsi ideal rerata pertumbuhan pembangunan sanitasi hingga 8 persen per tahun.

Angka itu 40 kali lipat investasinya, dibanding rerata nasional 2 persen kurun 2006-2016. Pengingat, semula hanya Rp200 perkapita hingga 2006, jadi Rp8 ribu perkapita hingga 2016.

Kendati, mengutip Direktur Perkotaan, Perumahan Permukiman Bappenas, Tri Dewi Virgiyanti, seperti dilaporkan juru warta Vania Rossa dan Firsta Nodia, Suara.com, 23 November 2018, bahwa pemerintah melaju upaya pemenuhan target akses air minum yang merata, antara lain lewat dukungan pendanaan Rp253,8 triliun sepanjang 2015-2019.

Dan, melakukan perkuatan kolaborasi pencapaian akses air bersih layak di akhir 2019 melalui optimasi potensi perusahaan air pedesaan-perkotaan.

Sebab butuh peningkatan akses 2-3 kali lipat per tahun demi capai target  Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals 2030.

Namun kini, upaya negara di tengah gempuran dahsyat pagebluk, salah satu pekerjaan berat Kabinet Indonesia Maju, menjawab dua diksi beda kutub, pemenuhan “akses air minum layak” yang dipatok lebih kualitatif oleh TPB/SDGs, yaitu “akses air minum aman”.

Apa hubungannya dengan Bendungan Way Sekampung? Tarik napas, lanjut. Seperti uraian di atas, Bendungan Way Sekampung juga dapat dimanfaatkan sebagai penyedia air baku rakyat di tiga daerah, kelak sebesar 2.482 l/det.

Data Ditjen SDA per September 2015, potensi sumber daya air di Indonesia mencapai lebih kurang 3.900 miliar m3 setiap tahun.

Indonesia menempati urutan ke-5 di dunia dalam hal potensi cadangan air, namun hanya 25 persen yang bisa dimanfaatkan guna ragam kebutuhan seperti irigasi, air baku dan industri.

Anugerah terindah Sang Ilahi, tingginya potensi sumber daya air ini terus well-capitalized pemanfaatannya. Bangun kelola bendungan yang berkelanjutan, bagian upaya pendukung terwujudnya kedaulatan air pendukung ketahanan pangan dan energi.

Adapun, proses pembangunan dan pengelolaan bendungan harus selalu berprinsip pada konsepsi keamanan bendungan, terdiri dari tiga pilar, yaitu keamanan struktur; operasi dan pemeliharaan pemantauan; dan kesiapsiagaan tindak darurat.

Baca Juga:  Waspadai Demam Berdarah Saat Curah Hujan Tinggi

Dinamika isu strategis/teknis, aspek sosial dan lingkungan, pengelolaan kualitas-kuantitas air pada bendungan, dan lain-lain, juga menjadi tantangan bagi SDM institusi pengelola ke depan.

Kontinuitas upgrading dan upscaling kapasitas pengelolaan harus terjaga, senantiasa dikedepankan. Hal misal, terkait teknologi terapan, atau ekologi bendungan. Seperti Menteri Basuki pernah berpesan saat rilis progres fisik 77,5 persen terbangun 15 Desember 2019, agar setelah Bendungan Way Sekampung beroperasi nantinya tak dipasang keramba apung yang bisa menurunkan kualitas air bendungan.

Isu strategis, terkait pula isu ketahanan air dalam kebijakan nasional sumber daya air, terkait pengelolaan sumber daya air di Indonesia.

Termasuk pula, seksama mencermati dinamisasi perkembangan peraturan perundang-undangan yang meruangi pembaruan kebijakan nasional pengelolaan sumber daya air, belajar dari studi kasus Keputusan Mahkamah Konstitusi Nomor 85/PUU-XI/2013 terkait gugurnya UU 7/2004 tentang SDA, dan kini berlaku UU 17/2019.

Di tingkat tapak, rakyat setempat baik petani dan konsumen air baku rumah tangga harus jadi subyek utama dan tuan rumah yang baik. Tata kelola partisipasi dan kolaborasi pemangku kebijakan harus jadi arus utama.

Kolaborasi ala Dewan Sumber Daya Air Nasional –kabar gembira 3 tahun lalu, paling demokratis sepanjang sejarah pengelolaan sumber daya air Tanah Air sejak 1993–, bisa jadi pemisalan apik kolaborasi.

Kebermanfaatan bendungan dan pemajuan kinetiknya sesuai harapan, harus beririsan magnitudo dengan besaran manfaat bagi perkuatan konsolidasi sosial ekonomi rakyat, bermuara kemakmuran kesejahteraan.

Dari itu, diprediksi kuat ke depan akan ada percepatan reorientasi paradigma satu napas, tingkat tapak maupun penyelenggara pemerintahan di tiga daerah, lebih hebat memperlakukan potensi sumber daya air ini tak lagi sebatas benda sosial dan sebatas benda langka yang memiliki nilai ekonomi.

Namun juga (prioritas utama) sebagai penyedia kebutuhan dasar dan irigasi pertanian, yang butuh kearifan khusus efisiensi dalam proses eksploitasinya.

Kinerja pembangunan berwawasan lingkungan, upaya sadar terencana pemadu lingkungan hidup termasuk sumber daya air di dalamnya ke dalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan dan kualitas hidup, jadi senyawa wajib.

Sebagai rekomendasi, kesegeraan koordinasi berkedalaman melakukan tahapan kerja pemetaan, penyusunan himpunan kolaborasi lintas daerah lintas jenjang kementerian/lembaga, pelibatan masif masyarakat sipil/organisasi berbasis komunitas, serta lain-lain upaya, dibutuhkan.

Ambil misal, dalam pembangunan air minum dari sumber air, pengaliran air baku, pengolahan, jaringan transmisi, dan jaringan distribusi air minum, serta sambungan rumah/residensial.

Menggenapi, misal, eksisting SPAM (Sistem Pengelolaan Air Minum) Kota Bandarlampung yang juga bagian PSN.

Dimana diketahui, sesuai nomenklatur kabupaten/kota memiliki wewenang dan tanggung jawab dalam menyusun kebijakan dan strategi pengembangan SPAM di daerahnya berdasar kebijakan dan strategi nasional dan provinsi.

Konkritnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pringsewu, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandarlampung dan Metro, serta Pemkab Lampung Selatan perlu sigap bersiap satukan persepsi, satu optimisme, satu napas satu badan.

Egosentrisme harus jadi musuh bersama. Kolaborasi jauh lebih utama.

Karena Zamrud Khatulistiwa kita, di luar faktor force majeur pemanasan global, bencana meteorologi serta dampak kerusakan ekologi, terlahir sejoli musim kemarau dan penghujan, maka generasi mendatang pantang kita wariskan ratusan bendungan tapi rakyatnya kekeringan kekurangan air bersih, air penghidupan. Wallahu alam.

Sebelum tiba, tombol sirine, gunting pita, putar tuas, deru pesawat nirawak, serta tabur media luar ruang, penanda mulai Bendungan Way Sekampung menaja ikhtiar bersama banyak orang mwujudkannya menjadi –meminjam istilah Bupati Pringsewu di atas– barokah bagi umat.

Rakyat Pringsewu, rakyat Lampung, patut bersyukur kepada Allah SWT dan berterima kasih atas dedikasi tugas dan pengorbanan seluruh pihak terkait tanpa kecuali hingga tuntasnya proses pembangunan bendungan.

Berterima kasih pada Presiden Jokowi, pun pada warga sekitar bendungan yang telah berkorban. Mereka jua, pahlawan pembangunan.

Pengetahuan kuno menyebut, bersama tanah, api, dan udara, air adalah salah satu elemen kehidupan dasar. Namun, Bendungan Way Sekampung bukan hanya legacy. Bukan sebatas benda mati. Bukan sekadar bendungan.

Bendungan Way Sekampung, jugalah bagian upaya manusia memanusiakan manusia, jugalah bagian kerja-kerja kemanusiaan, melestari bumi menjaga penghidupan, merawat kehidupan.

Ada restu Ilahi pada tiap tetes airnya. Kutunggu kabar baik, Bendungan Way Sekampung, kutunggu kabar baikmu.(SUL/Muzzamil)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top