Iklan
Daerah

Kualitas Air di Sungai Way Waya Menurun, DLH Sidak ke Penambangan Pasir

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pringsewu, melakukan inspeksi mendadak (sidak) dan pengawasan ke sejumlah penambangan pasir di Sungai Way Waya/DN

PRINGSEWU – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pringsewu, melakukan inspeksi mendadak (sidak) dan pengawasan ke sejumlah penambangan pasir di Sungai Way Waya, yang terletak di Kecamatan Pagelaran Utara, Kabupaten setempat.

Dalam sidak dan pengawasan penambangan pasir yang digelar DLH berdasarkan laporan warga Pekon Banyuwangi, soal keluhan aliran Sungai Way Waya yang mulai keruh, diduga akibat penambangan pasir dari hulu Sungai Way Waya.

Dari hasil sidak dan pengawasan Dinas LH, hanya satu perusahaan penambangan pasir yang sedang melakukan proses perizinan atas nama PT Pringsewu Jaya Abadi (PJA).

Adanya laporan warga tersebut, DLH langsung merespon cepat dengan menurunkan tim pengawasan ke lokasi penambangan pasir yang bertempat di Pekon Sumber Bandung dan Pekon Madaraya, Selasa (27/8) kemarin.

Sementara itu, menurut Dadan Persada, Kabid Penataan dan Peningkatan Kapasitas, mewakili Emil Riyadi, Kepala DLH, menjelaskan, bahwa penurunan kualitas air yang terlihat dari tingkat kekeruhan air Sungai Way Waya disebabkan adanya aktifitas penambangan pasir di sepanjang bantaran sungai.

“Penurunan kualitas air Sungai Way Waya tersebut, bukan hanya akibat penambangan pasir, tapi juga adanya penurunan debit air akibat kemarau berkepanjangan,” kata Dadan Persada, Rabu (28/8).

Baca Juga:  Anggur Berformalin Tak Ditemukan di Tiga Wilayah Lampung   

Hasil sidak dan pengawasan di sepanjang bantaran Sungai Way Waya, yang meliputi Pekon Madaraya, Pekon Fajar Mulya, Pekon Giritunggal dan Pekon Bayuwangi, yang dituangkan dalam nota dinas lingkungan hidup diantaranya ialah.

  1. Penurunan kualitas air terlihat dari kekeruhan air Sungai Way Waya oleh aktifitas penambangan pasir.
  2. Penyebab lainnya, penurunan kualitas air tersebut juga merupakan dampak musim kemarau berkepanjangan.
  3. Ditemukan masih banyaknya penambangan pasir ilegal yang belum mengurus perizinan.
  4. Ditemukan hanya satu perusahaan penambangan pasir yang sudah mengurus (masih dalam proses) perizinan, PT PJA di Kecamatan Pagelaran Utara.
  5. Bahwa, Tim Pengawasan dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pringsewu telah melaksanakan pengawasan terhadap PT Pringsewu Jaya Abadi (PJA).

Lanjutnya, Dadan Persada dari hasil sidak dan telah melaksanakan pengawasan di kwari PT PJA ditemukan fakta-fakta, bahwa PT PJA masih proses pembuatan Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL) pencucian pasir tahap pembangunan. Namun, IPAL belum selesai.

Selain itu, saat inpeksi mendadak, Selasa 27 Agustus kemarin, PT PJA sudah memberikan dan memfasilitasi warga sekitar penambangan diantaranya.

  1. Ditemukan, PT PJA sudah melakukan penambahan saluran listrik dengan pemasangan terapo disekitar perumah warga sekitar lokasi penambangan pasir.
  2. Sudah memperbaiki jalan sepanjang 2 (dua) Kilometer.
  3. Dinas LH juga mendapat keterang dari karyawan PT PJA, pihak manajemen PT PJA akan membangun MCK dan air yang diperuntukkan untuk warga sekitar lokasi dampak.
Baca Juga:  Marak Politik Uang, Panwaslu Dalami Barang Bukti Paslon Arinal-Nunik

Secara tegas, Tim Pengawasan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pringsewu memberikan pendapat dan saran terhadap kepemilikan izin korporasi penambangan pasir yang ilegal maupun yang sedang berjalan dalam proses pengurusan perizinan.

“Harapannya korporasi yang ada di Kecamatan Pagelaran Utara, yang ilegal agar segera mengurus perizinan dan yang masih dalam proses perizinannya,” ujar Dadan Persada.

Tim pengawasan memberikan pendapat dan menyarankan sedikitnya PT PJA harus membangun 5 kolam-kolam IPAL.

Dadan Persada menambahkan, untuk Pembangunan IPAL, tim pengawasan memberikan jangka waktu sampai dengan lima belas hari kerja untuk melakukan penyelesaian IPAL tersebut.

“Karena, ini urgent (penting) untuk menjernihkan air pencucian pasir, selain itu juga tim pengawasan memberikan catatan nota dinasnya kepada PT PJA untuk mengambil sempel dari hulu sampai hilir sungai Way Waya,” pintanya.

Yang terpenting, kata Dadan Persada, perusahaan harus koperatif dalam setiap melaksanakan penambangan dan adanya imbal balik antara korporasi dengan pemerintah daerah maupun warga sekitar penambangan pasir.

Baca Juga:  Posko Logistik Penanganan Darurat Bencana Tsunami Kirim 822 Paket Sembako Untuk Pengungsi

“Tim Pengawasan menyarankan agar PT PJA memberikan kontribusi dalam bentuk PAD maupun memberikan CSR (Corporate Sosial Responsibility) dan melakukan pendekatan kepada warga yang terdampak,” pungkasnya.

Ditempat yang sama, Fajar, karyawan PT PJA, saat dikonfirmasi, merespon baik dengan ada pengawasan dari pemerintah daerah melalui DLH terkait adanya laporan warga yang terdampak.

“Pendapat dan saran dari DLH akan segera kami jalankan,” ucap Fajar.

Disinggung terkait perizinan penambangan PT PJA, Fajar mengaku, masih melakukan proses pengajuan perizinan sejak tahun 2018.

“Alhamdulillah, PT PJA bertekad baik untuk melegalkan penambangan pasir dengan mengurus izin hingga provinsi dan balai besar. Namun ini masih berproses. Doakan saja agar segera keluar perizinannya,” tutupnya.(DN)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top