Modus

Korban Penyiksaan oleh Ibu Tiri di Pesawaran Alami Trauma Psikis

Korban penganiayaan dari ibu tiri di Pesawaran/Suluh/TS

PESAWARAN – Bocah korban penganiayaan dan pembakaran tangan tubuh oleh ibu tirinya di Kabupaten Pesawaran, Lampung, dikenal sebagai sosok anak yang pendiam, sopan dan baik hati.

Tidak saja menderita luka fisik, bocah malang ini bahkan menderita luka psikis yang mendalam akibat kekerasan dalam rumah tangga yang selalu menderanya.

Di rumah gubuk di kawasan bibir pantai, Desa Sukajaya, Lempasing, inilah korban  tinggal bersama ayahnya Karmin beserta dua adik perempuannya yang masih balita serta ibu tirinya.

Bertahun tahun, sejak ditinggal ibu kandungnya meninggal dunia lima tahun silam. Sosoknya seakan lepas dari perhatian ayahnya yang sehari hari berkeja sebagai nelayan.

Ironisnya, ibu tiri yang dinikahi ayahnya karmin sejak empat tahun lalu bukanlah sosok  ibu yang dapat memberikan kasih sayang.

Bahkan hampir setiap hari ketika ayahnya mencari ikan di laut, dia selalu mendapatkan siksaan dari ibu tirinya.

Ayah bocah ini, Karmin, saat ditemui dikediamannya, mengaku tidak pernah mengetahui jika anaknya  sering mendapat perlakuan kasar yang dilakukan oleh istrinya.

“Saya sempat menaruh curiga terhadap kondisi anak saya, seperti memendam tekanan psikis dari ibu tirinya,” kata Karmin, Senin (16/12).

Baca Juga:  Jabatan Sekda Provinsi Lampung Tunggu Pelantikan Gubernur Terpilih, Mendagri : 3 Nama Masih Dibahas

Karmin kini hanya bisa pasrah menerima kenyataan pahit kehidupan  keluarganya serta  menyerahkan  sepenuhnya perkara kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh isterinya kepada aparat penegak hukum.

Sementara tetangga di lingkungan tempat tinggal korban, tidak menepis korban kerab mendapatkan kekerasan fisik yang dilakukan oleh ibu tirinya.

Bahkan warga yang sempat melihat aksi kekerasan, beberapa kali memberikan nasihat kepada pelaku namun tidak pernah dihiraukan dan bahkan kerab kali berujung selisih faham dengan warga dan tetangga lainnya.

Warga mengaku hanya bisa  menaruh  rasa empati yang mendalam terhadap nasib tragis yang dialaminya.

Para tetangga mengenal baik kepribadian  yang sehari hari dikenal sebagai sosok yang pendiam, tidak nakal dan sopan.

Kini bocah berinisial AM itu diasuh oleh bibinya Rosita dan tinggal di kediaman neneknya di Desa Talang, Kelurahan Gedung Pakuon, Telukbetung Selatan, Bandar Lampung.

Meski mulai berangsur mongering, luka bakar di tangan korban cukup parah. Bahkan untuk kembali sekolah pihak keluarga terpaksa harus menunggu luka bakar di telapak tangan korban benar benar pulih total.

Baca Juga:  Polisi Tangkap Dua Pelaku Pembobol Rumah Warga di Menggala Selatan

Sementara itu, AM yang mengalami luka bakar di bagian tangan yang dilakukan ibu tirinya, pada Senin (16/12) siang, dibawa pihak Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TPA) Kabupaten Pesawaran,  ke pisikolog di Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak Provinsi Lampung, guna menjalani trauma healing akibat peristiwa sadis yang dialaminya.

Didampingi pihak Dinas PPPA Pesawaran, bersama sang bibi Rosita, mendatangi kantor pusat pelayanan terpadu perempuan dan anak, di kawasan Way Halim.

Kedatangan mereka beserta pihak Dinas PPPA Pesawaran ini, guna melakukan trauma healing terhadapnya paska peristiwa sadis yang dialaminya.

Kabid Perlindungan dan Penanganan Anak Dinas PPPA Pesawaran, Rizni Surya Nurhamah, mengatakan, kedatangannya ke pisikolog P2TPA ini guna menjalani terapi mental yang dialami korban, pasca peristiwa penganiayaan hingga mengalami luka bakar dibagain tangannya yang dilakukan oleh ibu tirinya Putri Indah Lestari.

Sementara menurut Pisikolog P2TPA Provinsi Lampung, Yurni menjelaskan, hasil observasi sementara terhadap bocah tersebut terlihat mengalami trauma psikis yang sangat mendalam akibat perbuatan keji yang dilakukan ibu tirinya.

“Hal itu terlihat dari pemeriksaan pada kejiwaan korban yang masih merasa takut terhadap orang yang baru dikenalnya,” kata Yurni.

Baca Juga:  Pemprov Lampung Peringati Harubnas di Pelabuhan Panjang

Meski sudah menjalani observasi pemeriksaan awal pada kejiwaan korban, namun pihak P2TPA belum bisa menyimpulkan pasti kondisinya yang masih mengalami gangguan mental paska peristiwa malang yang dialaminya tersebut.

Pihak P2TPA akan kembali melakukan pemeriksaan lanjutan terhadapnya, dalam waktu tiga hari kedepan untuk memastikan kondisi kejiwaan korban agar kembali normal seperti sedia kala.

Kendati kondisinya mulai berangsur membaik, dia masih tinggal dan berdiam di rumah sang bibi Rosita, serta enggan untuk kembali kerumah orangtuanya, di Desa Sukajaya Laut, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, karena takut dan trauma akan nasib malang yang dialaminya.(TOM)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top