Daerah

Korban Malpraktek Khitan di BNS Berharap Bantuan Pemerintah

WM, korban malpraktek/FEB

LAMPUNG BARAT – Sidang pertama yang mengagendakan keterangan saksi atas kasus malpraktek khitan yang dilakukan mantri SM terhadap korban WM (10), digelar di Kejari Liwa, Rabu (15/4).

Usai sidang, pihak keluarga korban berharap Pemerintah setempat dapat melihat dan memberikan bantuan untuk korban WM.

Diketahui, korban WM sejak di khitan Agustus 2019 lalu, hanya mendapat uluran bantuan dari tetangga sekitar di Pekon Sidodadi, Kelurahan Bandar Agung, Kecamatan Bandar Negeri Suoh, Kabupaten Lampung Barat.

Untuk biaya operasi dan pengobatan, pihak keluarga korban mengaku mau tidak mau memakai anggaran kas pasar pekon setempat.

“Biaya operasi pertama sudah habis kurang lebih Rp 25 juta. Itu sudah termasuk operasional bolak-balik rumah sakit,” terang ayah korban yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh kebun, HM (32).

Baca Juga:  Menuju Sumatera, Pemudik Mulai Padati Pelabuhan Merak

WM sendiri kondisinya sudah membaik.

WM, yang bercita-cita menjadi seorang polisi, saat ini ketika buang air kecil sudah tidak ada kendala.

“Cuma bila buang air kecil, tidak bisa ditahan, langsung mengalir begitu saja. Mungkin alat kelaminnya (maaf) masih harus di operasi kembali,” ujarnya.

Pihak keluarga menjelaskan bahwa setelah di khitan mantri gadungan, Agustus tahun 2019 lalu, alat kelamin WM putus dan mengalami infeksi.

Hampir sebulan, WM menahan sakit tidak bisa buang air kecil dan keluarga korban pun mengambil inisiatif untuk meminjam anggaran kas pasar setempat untuk melakukan operasi di RS Bumi Waras Bandar Lampung.

Namun, untuk hasil maksimal, dokter menganjurkan WM untuk melakukan serangkaian operasi lagi.

Baca Juga:  Entaskan Kemiskinan, Pemkab Lambar Sinergi Dengan Pihak Swasta

“Jujur saja, pekerjaan saya sehari-hari sebagai buruh kebun tak mampu menutupi biaya operasi. Untuk sidang ini saja, saya dibantu operasional oleh tetangga setempat,” imbuh HM.

HM berharap, pemerintah setempat mau membuka hati untuk dapat membantu musibah yang dialami anaknya tersebut.

“Selama ini, kami hanya mendapat dukungan serta bantuan dari tetangga sekitar saja. Kami tidak hanya diam, hal ini sudah kami laporkan di awal kejadian ke dinas terkait melalui pekon, camat hingga diketahui oleh salah satu anggota DPRD setempat. Tapi faktanya sampai hari ini, pemerintah daerah masih menutup mata dan belum mengambil tindakan apa-apa,” keluh HM.(FEB)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top