Pendapat

Koperasi Petani sebagai Jalan Menuju Ekonomi Berkeadilan

Oleh : Nurdin Hamzah Hidayat
Ketua Koperasi Petani Indonesia Sumatera Barat

DALAM era global yang bergerak semakin pesat, mengharuskan masyarakat untuk mencari alternatif ekonominya sendiri, agar mampu bertahan ditengah ketidakpastian ekonomi di Indonesia.

Hari ini, negara telah kalah dalam membaca zaman, dikarenakan gagasan anak muda ternyata mampu merubah gerak ekonomi secara mendadak dengan ide-ide kreatif yang bermunculan, terlihat dari bagaimana Star Up telah mendobrak dan memacu pertumbuhan ekonomi masyarakat kelas menengah kebawah, Star Up seperti Go-Jek, Grab, Bukalapak, Shoope dan lain-lain menjadi bagian penting bagi kebutuhan masyarakat saat ini.

Melihat hal demikian, tentu ada pengaruh positif dan negatif yang harus segera disiasati oleh pelaku UMKM dan Koperasi. UMKM sendiri sangat terbantukan dengan fasilitas yang lebih Mobile dan Flexible karena memudahkan bagi pelaku dalam memasarkan produk, menerima pesanan, dan mengirim produk kepada konsumen.

Sehingga, pemerintah harus sigap merespon kebutuhan masyarakat dan melakukan Reformis Administrasi, sebab administrasi yang panjang akan memperlambat akses pelaku Industri Kreatif (INKRAF) dan Industri Rumahan melakukan produktifitas dan mengambil pasarnya.

Tantangan selanjutnya, kita berhadapan dengan Revolusi Industri 4.0, yang memaksa kita bersaing dengan industri pabrikan yang sejak awal melakukan produksi besar-besaran, dengan tenaga kerja terampil dan berjumlah banyak. Sehingga setiap pelaku ekonomi harus melakukan produktifitas yang bersaing dengan berbasis kreatifitas, agar UMKM kita mampu bertahan ditengah kondisi ekonomi kedepan, dengan harapan bukan hanya sebagai penonton dinegeri sendiri.

Kondisi demikian sangat berbeda dengan apa yang dihadapi oleh Koperasi sebagai Lembaga Keuangan yang ada di Indonesia.

Koperasi sendiri memiliki perjalanan panjang dengan kedudukan strategis dan politis yang termaktub dalam UUD 45, yang pula telah memiliki wadah gerakan koperasi (Dekopin) yang pada tahun ini berusia 71 tahun, diikuti perlindungan dan fasilitas berlimpah.

Baca Juga:  Keteladanan Bapak Pendidikan

Namun, salah satu lembaga ekonomi ini tidak pula menjadi penompang yang kuat untuk kedaulatan ekonomi di negara ini, sehingga tanpa membaca situasi dan melakukan upaya progresif, maka koperasi akan menjadi lembaga dengan nama usang dan tidak berfungsi seperti apa yang dicita-citakan oleh Founding Father Bangsa ini.

Dampak yang akan terjadi merambas pula pada ekonomi kedaerahan, kenagarian sebagai lumbung komoditas pun terancam karena menjadi objek penyedia bahan baku, namun selalu dibeli oleh oknum pelaku usaha dengan harga yang murah, kita tidak bisa membiarkan hal demikian dan merubah paradigma bahwa kenagarian hanya sebagai penyedia stock komiditi dan konsumen produk olahan, namun harus menjadi produsen utama, sehingga kota sebagai pasar dan konsumen.

Oleh sebab itu, kita harus segera menjawab tantangan itu melalui koperasi, koperasi yang dimaksud adalah koperasi produksi, pelakunya sendiri adalah petani, dan dibantu oleh praktisi ekonomi serta melibatkan mahasiswa dan pemuda secara aktif dalam bentuk pengelolaan koperasi agar Bung Hatta kembali tersenyum dan masyarakat kembali berdaulat secara ekonomi.

Pembentukan Koperasi Petani dan Meningkatkan Harkat Hidup Petani

Gagasan membentuk koperasi petani yang merupakan lembaga keuangan ini bertujuan agar petani berdaulat secara ekonomi, dimulai dari keputusan pleno Serikat Petani Indonesia mengenai Gerakan Pembentukan 1.000 Koperasi Petani Indonesia dan berlanjut disahkannya KPIN (Koperasi Petani Indonesia Nasional)

Wacana besar dan baik itu disambut baik oleh para Petani, Aktivis Sosial, Akademisi dan Mahasiswa. Kemudian kita menghimpun kekuatan jaringan itu dan mendaulat menjadi wacana bersama dengan membentuk koperasi petani Indonesia Sumatera Barat, harapannya sebagai bagian dari koperasi yang ada di Sumatera Barat, dan membawa perspektif baru sehingga lembaga koperasi memiliki peran penting dalam membangun ekonomi kenagarian di sumatera barat.

Baca Juga:  Delilah, Otanjoubi Omedetou Gozaimasu

Awal lembentukan KPI Sumbar dan unit usahanya
berangkat dari potensi pertanian di Sumatera Barat, membuat kita mempelajari komoditi apa saja yang bisa menjadi produk sehingga bernilai ekonomis tinggi, tentu koperasi harus membeli komoditi dengan harga yang layak, sehingga dengan demikian koperasi turut mengedukasi petani dalam menentukan harga (Cost Production) pada hasil pertaniannya.

Koperasi Petani berperan pula dalam peningkatan sumber daya manusia dengan melakukan pendidikan dan pelatihan perkoperasiaan serta soft skill, kemampuan menggunakan alat serta menyusun laporan keuangan dan manajerial usaha, agar petani dan pemuda dinagari mampu secara mandiri mengelola koperasi dan menghasilkan produk dan memasarkan dan menentukan pasarnya sendiri.

Kemudian, KPI Sumbar (Koperasi Petani Indonesia Sumatera Barat) yang dibentuk oleh berbagai elemen masyarakat terkhusus petani anggota SPI tersebut, saat ini diurus dan dikelola oleh mahasiswa sebagai penggeraknya, selain berwirausaha sosial juga membuat mahasiswa berlajar menjalankan lembaga keuangan ini yang berhubungan langsung dengan masyarakat.

Kendala-kendala dalam menjalankan koperasi berbeda dengan menjalankan organisasi mahasiswa seperti biasanya, badan pengurus yang mayoritas adalah mahasiswa ini tentu memiliki keterbatasan waktu dan pengalaman sehingga butuh kedisiplinan dan kearifan agar capaian rencana kerja koperasi dapat tercapai sesuai visi dan misi koperasi.

Saat ini, KPI Sumbar berhasil mengelola dua unit usaha yang pertama yakni Moka (Mobile Kafe) Lapau Pak Tani dengan memproduksi komoditi Jamur Tiram sebagai produk utamanya, yang akan berjalan memasarkan produk dengan mobil untuk menghampiri pusat-pusat keramaian di Kota Padang.

Baca Juga:  Membentuk Milenial yang Kompeten dan Berakhlakul Karimah

Lapau Pak Tani ini di Launching pada tanggal 29 Maret 2019, yang diresmikan langsung oleh Prof. Ahmad Erani Yustika dan Yayasan serta Rektor Universitas Eka Sakti (UNES).

Setelah Mobile Kafe Lapau Pak Tani, KPI Sumbar kembali mendirikan unit usaha yang lebih mengarah penyediaan hilir kopi petani situjuah gadang dan komoditi petani kopi yang ada pada basis Serikat Petani Indonesia Sumatera Barat, yang diberi nama MAKO (Minang Kopi Origin), dengan Falsafah Minang dalam bahasa ibu adalah “Manang” dan dalam bahasa Indonesia yakni “Menang” dengan harapan Memenangkan Kopi dan Petani dari jeratan ketidaksejahteraan dan beban harga komoditi yang memberatkan petani

Selama ini kita mengetahui begitu panjangnya rantai distribusi sehingga pendapatan yang didapatkan oleh petani tergolong sangat rendah.

Saat ini MAKO menjadi brand image bahwa wirausaha sosial mampu terwujud dengan kegigihan dan keinginan besar anggotanya, selain itu menjadi ruang belajar bagi mahasiswa mengenai kewirausahaan sosial.

Dinamika selama menjalankan unit usaha adalah ilmu termahal yang didapatkan oleh pengelola, bagaimana perancanaan bisnis, menentukan pasar, melakukan pemasaran, perhitungan harga pokok produksi, hingga menghadapi tantangan selama beroperasi, kita juga harus bersaing dengan kedai kopi bermodal besar yang ada, tetapi bagi kita usaha berbasis koperasi harus mampu mensejahterakan petani secara umumnya, pengelola dan anggota koperasi agar tercapainya ekonomi berkeadilan.(*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top