Nasional

Ketua Komisi III DPR Kahar Muzakir Diduga Korupsi, KPK Akan Kembali Disandera

Koordinator Pergerakan Pemuda Merah Putih (PP Merah Putih) Wenry Anshory Putra/Ist

JAKARTA – Wolak-walik ing zaman atau zaman yang terbolak-balik, demikianlah peringatan yang disampaikan oleh Joyoboyo. Peringatan tersebut saat ini telah terhampar menjadi kenyataan di dalam seluruh lini kehidupan bangsa kita.

Salah satu realitas zaman yang terbolak balik dalam politik kekinian tersebut di antaranya adalah penunjukan orang yang bermasalah hukum untuk memimpin komisi di DPR yang bertugas mengawasi jalannya penegakan hukum.

Sebagaimana diberitakan di media massa, Ketua Umum DPP Partai Golkar Erlangga Hartarto telah secara resmi menunjuk Kahar Muzakir sebagai Ketua Komisi III DPR RI. Rekam jejak Kahar Muzakir sendiri bila ditelusuri adalah salah satu anggota DPR RI yang bermasalah secara hukum.

“Kahar Muzakir sendiri beberapa kali dipanggil KPK karena diduga terlibat sejumlah kasus korupsi, seperti kasus PON Riau maupun kasus Hambalang. Penunjukan Kahar menjadi Ketua Komisi III DPR membuat publik mulai ragu kembali terhadap komitmen pemberantasan korupsi yang menjadi semangat dan visi penyelenggaraan Munaslub Partai Golkar yang memilih Airlangga Hartarto sebagai Ketua Umum baru,” tutur Koordinator Pergerakan Pemuda Merah Putih (PP Merah Putih) Wenry Anshory Putra, dalam keterangan tertulis kepada media massa, Jumat (19/1).

Baca Juga:  K.H. M. Arief Mahya: Jangan Ragukan Ma'ruf Amin, Dia Layak Pilih!

Fenomena wolak walik zamane di parlemen tersebut, terang dia, sebelumnya pernah terjadi di era kepemimpinan Setya Novanto. Partai Golkar ketika itu menjadi inisiator pembentukan Pansus KPK dengan menunjuk Agun Gunandjar, salah seorang anggota DPR yang namanya disebut bersama Setya Novanto terlibat dalam skandal mega korupsi E-KTP sebesar Rp2,3 triliun.

Di era Setya Novanto, yang merangkap memimpin Partai Golkar sekaligus DPR-RI, situasi Partai Golkar dan DPR persis seperti di zaman kegelapan. Namun, ketika Airlangga Hartarto terpilih menjadi Ketua Umum Partai Golkar, secara perlahan publik mulai menaruh harapan lahirnya era pencerahan di DPR dan Partai Golkar.

“Kami menilai, penunjukan Kahar Muzakir sebagai Ketua Komisi III DPR oleh Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto merupakan sebuah langkah mundur, dan dapat berakibat pada rusaknya citra DPR, karena sebuah komisi yang membidangi masalah hukum justru dipimpin oleh orang yang bermasalah secara hukum,” kritik Wenry.

Baca Juga:  Warga Pekon Kedaloman Sambut Hangat Kedatangan Bunda Dewi

Selain itu, penunjukan Kahar Muzakir dapat menciptakan opini negatif bagi Partai Golkar yang sedang mengusung tema Partai Golkar Bersih di era kepemimpinan Airlangga Hartarto. Penunjukan orang bermasalah secara hukum untuk memimpin komisi hukum DPR dapat dinilai sebagai tindakan pengkhianatan terhadap janji oleh sang Ketua Umum Partai Golkar.

PP Merah Putih menengarai, jika Ketua Komisi Hukum DPR diduduki oleh orang yang bermasalah hukum dan pernah menjadi ‘kaki tangannya’ Setya Novanto, maka Komisi III DPR berpotensi kembali disandera, KPK akan kembali disandera, bahkan dijadikan alat barter untuk menghilangkan sejumlah jejak korupsi, baik dugaan korupsi yang dilakukan oleh yang bersangkutan, maupun oleh Setya Novanto yang terlibat korupsi E-KTP dan dugaan korupsi lainnya.

Baca Juga:  KPU Lampung Coret Bacaleg Mantan Koruptor

Wenry mendesak, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto untuk memenuhi janjinya, yaitu menegakkan Partai Golkar Bersih dan memperbaiki citra DPR yang rusak, yang kerap diidentikkan dengan rumah para koruptor.

“Kami mendesak Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto untuk menarik kembali Kahar Muzakir dari Ketua Komisi III DPR, demi tegaknya lembaga parlemen yang bersih dan berwibawa. Ketua Komisi III DPR Kahar Muzakir diduga terlibat korupsi!” pungkasnya.(*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top