Panggung

Ketua Hipmi Purworejo, dari Kredit Alat Rumah Tangga Hingga Pengusaha Sukses

kanan-Ardani Yusuf, terpilih secara aklamasi sebagai ketua umum Badan Pengurus Cabang (BPC) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Purworejo/DNl

PURWOREJO – Ardani Yusuf, terpilih secara aklamasi sebagai ketua umum Badan Pengurus Cabang (BPC) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Purworejo, masa bakti tahun 2019-2022. Dalam Musyawarah Cabang (Muscab) 2 BPC Hipmi Purworejo di Ballroom Hotel Plaza Purworejo, Sabtu 6 Juli 2019.

Pria yang akrab dipanggi Ardan ini merupakan seorang pengusaha yang bergerak di bidang properti dan kontraktor. Saat ini ia menjabat sebagai Direktur Utama PT Ardan Greenland Propertindo.

Pria kelahiran 33 tahun silam ini mengaku memantapkan diri maju sebagai calon ketua BPC Hipmi Purworejo setelah mendapatkan dukungan dari sejumlah pengusaha lainnya. Kesuksesan Ardan melenggang sampai hari ini bukanlah perkara mudah, pengalamannya di bidang usaha menempa dirinya menjadi pengusaha sukses saat ini.

Ardan mengawali belajar usaha saat masih duduk di bangku perkuliahan, selama kuliah di Universitas Muhammadiyah Purworejo ia juga bekerja sebagai office boy (OB), tukang bersih-bersih kampus. Keterbatasan biaya menjadi pelecut Ardan untuk bekerja keras.

Untuk membiayai kuliahnya, Ardan merelakan menikmati masa mudanya, ia memilih tekun bekerja agar perut dan urusan kuliah dapat ia selesaikan. Ia tak peduli bagaimana pandangan teman-teman terhadapnya saat itu, yang terpenting ia mampu membantu orangtuanya dan mampu mandiri secara ekonomi.

Dua tahun menjadi OB, Ardan kemudian bekerja sebagai tenaga operasional di salah satu lembaga pendidikan. Lagi-lagi keterbatasan ekonomi menjadi penyemangat bagi Ardan untuk terus bekerja keras. Baginya, kesuksesan tidaklah mudah tanpa disertai dengan usaha yang maksimal.

Setelah meninggalkan bangku kuliah pada tahun 2010 dengan gelar Serjana Ekonomi, Ardan kemudian memutuskan untuk menikahi gadis pujaan hatinya, Evi Tri Retnasih. Saat menikah itulah, jiwa pengusaha Ardan mulai bangkit. Semasa menjadi pengantin baru, Ardan sempat menjadi seorang pengangguran. Ia berhenti menjadi tenaga operasional lembaga pendidikan dan berpikir memulai usaha secara mandiri.

Baca Juga:  Film `Liburan` Juara I Festival Film Pelajar Krakatau 2

“Saat menikah, istri saya bekerja menjadi PNS di RSUD Kebumen. Sementara saya masih belum punya pekerjaan,” ujar Ardan ketika ditemui Suluh.co, Minggu (7/7) sore.

Ketimpangan ekonomi dalam keluarga membuatnya berpikir keras untuk memulai usaha. Beruntung, ayah mertuanya mempercayai Ardan untuk ikut membesarkan usahanya, yakni usaha perkreditaan perkakas rumah tangga.

Sejak saat itulah, Ardan kemudian menjadi tukang kredit keliling, dari kampung ke kampung, menawarkan aneka prabor rumah tangga untuk dikreditkan kepada warga.

“Kareana saat itu istri saya sudah bekerja dan saya masih nganggur, maka saya akhirnya diajak mertua untuk ikut membesarkan usahanya,” ucap Ardan.

Ketekunanya menjadi tukang kredit membuat ia belajar tentang dunia marketing. Saat itu, Ardan sukses mebesarkan usaha kredit mertuanya hingga ia mampu mempekerjakan sebanyak 15 orang untuk menjadi tukang kredit.

Sukses menjadi tukang kredit, Ardan kemudian diajak belajar oleh temanya untuk memulai usaha properti, awalanya ia tidak yakin, karena usaha itu memerlukan modal yang besar. Namun, semangatnya untuk berwirausaha membuat ia tekun belajar. Ia kemudian memutuskan untuk menekuni dunia properti sebagai bidang usaha barunya.

“Saya belajar dengan teman satu kampung yang menjadi general manager usaha properti di Jakarta. Saat itu setiap pulang kampung, pasti saya minta belajar kepada dia, hingga akhirnya saya mengerti dan ingin menerapkan ilmu yang didapat untuk membangun usaha di Purworejo,” jelas Ardan.

Baca Juga:  Lima Kata tentang Tema HUT RI ke-74 : "SDM Unggul Indonesia Maju"

Dengan modal seadanya, Ardan memberanikan diri untuk memulai usaha properti pada tahun 2014. Ayah satu anak ini kemudian terus mengembangkan usahanya dari tahun ketahun. Perjalanan usaha barunya itu tidaklah mudah.

Ia sering terkendala dengan sedikitnya modal yang ia punya. Belum lagi persaingan duni properti yang semakin kuat. Namun, semua itu tak membuat semangatnya surut. Ia terus mencoba dan memberi trobosan baru untuk dunia usahanya, alhasil ia menikmatinya sampai hari ini.

Kini Ardan berhasil menjadi, Direktur Utama PT Ardan Greenland Propertindo, salah satu pengusaha properti cluster terbesar di Kabupaten Purworejo. Tidak hanya dibidang properti, ia juga terbilang sukses dibidang kontraktor. Bisnis propertinya juga tidak melulu di Purworejo, ia telah memulai ekspansi di beberapa daerah, seperti kota besar Yogyakarta dan Jakarta.

“Alhamdulillah berkat doa dan dukungan teman-teman. Sekarang kami lagi ekspansi ke Jakarta, disana sedang membangun 1000 unit perumahan, dan saat ini sedang persiapan untuk membangun perumahan di atas lahan 4 hektare, saat ini sedang proses pembebesan lahan,” jelas seraya meminta doa.

Sosok Ardan bukanlah orang baru di Hipmi. Dalam struktur kepengurusan masa bakti 2016-2019, ia tercatat sebagai Ketua Bidang Kontruksi dan Properti. Karena itu, sejumlah program dan rencana ke depan sudah tersimpan rapi dalam pemikirannya. Salah satu visi yang akan diperjuangkannya menjadikan para pengusaha muda Purworejo dapat menasional.

“Saya ingin menciptakan pengusaha muda Purworejo yang punya potensi, meski di pinggiran bisa jadi pengusaha berskala nasional,” ungkapnya.

Ardan berpendapat, hal itu sangat mungkin terwujud mengingat telah terbukti beberapa pengusaha telah mampu bergelut di level nasional. Terlebih, saat ini mulai muncul peluang bisnis strategis di Kabupaten Purworejo. Beberapa di antaranya pembangunan Bendung Bener, kawasan otorita Borobudur, dan sebagai penyangga keberadaan Bandara YIA di Kulon Progo.

Baca Juga:  Tunas Honda Community Gelar Nobar Moto GP

“Purworejo sekarang jadi jalur strategis. Nah,Bagaimana ke depan Hipmi bisa ambil peluang, kita tidak boleh hanya jadi penonton,” lanjutnya.

Impian Ardan ke depan yakni dapat menggenjot program Hipmi Peduli yang sekarang telah digiatkan. Misalnya melalui program 1 juta kotak amal, BPC Hipmi dapat bekerja sama dengan Hipmi perguruan tinggi. Dana yang terkumpul selanjutnya dapat digunakan untuk kepentingan sosial, seperti mencetak pengusaha-pengusaha muda baru.

Baginya, program itu penting mengingat Hipmi bukan ajang persaingan bisnis, melainkan wadah bisnis sosial.

“Bisa kita target 1 kotak Rp500 ribu. Kalau ini terwujud, kita bisa jadi percontohan di Indonesia. Bukan berarti menyalip pemerintah, tapi bagaimana kita bisa bersama-sama pemerintah mengentaskan ketimpangan sosial,” jelasnya.

Kesempatan menjadi Ketua Hipmi baginya menjadi sebuah ajang belajar berpolitik, berorganisasi, sekaligus menjalin pertemanan dengan sesama pengusaha.

“Hipmi itu kan bersaing untuk bersanding, makanya sejak awal saya niati bergabung di Hipmi ini untuk ibadah, bukan sekadar berkompetisi. Jadi saya siap menang dan siap kalah dalam pemilihan ini,” pungkasnya.(DNL)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top