Iklan
Pendapat

Ketenagakerjaan Dalam demokrasi Dan Keadilan Sosial Tinggi

Oleh : Virtuous Setyaka, Dosen Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,
Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat, Indonesia.

Revolusi teknologi telah terjadi sebanyak empat kali: penemuan mesin uap, elektrifikasi, penggunaan komputer, dan revolusi era digital. Ketika revolusi digital terjadi, jumlah pekerjaan yang tercipta lebih sedikit dibanding pekerjaan yang hilang. Terjadi otomatisasi dan robotisasi sebagai penggantian tenaga kerja manusia.

Para pengusaha dapat memperbesar keuntungan dengan menekan biaya dalam meningkatkan produksi dan efisiensi pekerjaan. Berbagai kemungkinan yang terjadi dalam kemajuan teknologi (technological advancements) dan tantangannya bagi perburuhan diantaranya otomatisasi dan robotisasi terjadi pada pengusaha dengan modal yang besar dan kuat, namun tidak menutup kemungkinan sebuah pekerjaan atau proses produksi justru mempermudah berbagi modal untuk meraih keuntungan bersama.

Kedua, kebanyakan pekerjaan yang hilang adalah pekerjaan formal, sementara itu pekerjaan informal atau non-formal semakin meningkat. Perbedaan pekerjaan formal dan informal/non-formal diantaranya ketika ada proses perekrutan (pendaftaran dan tes/ujian ketika akan bekerja) dan adanya perjanjian kerja tertulis yang menjelaskan tentang hak-hak dan kewajiban kedua belah pihak (pengusaha dan buruh) dan perjanjian tersebut mengikat kedua belah pihak, serta terkait dengan pajak upah.

Solusi yang selalu dimunculkan ketika mendiskusikan kemajuan teknologi dan tantangannya bagi perburuhan agar tidak terjadi disrupsi tenaga kerja (human labor disruption) adalah peningkatan keterampilan melalui pelatihan bagi para buruh agar beradaptasi dengan kemampuan mengoperasikan alat-alat atau mesin-mesin yang dihasilkan dari kemajuan teknologi.

Baca Juga:  Gerakan Sosial Politik Transnasional

Untuk itu perlu adanya peningkatan pendidikan atau keterampilan bagi buruh, baik yang dikelola perusahaan ataupun swadaya dari buruh. Bagaimana peran pemerintah? Kemudian, bagaimana menghadapi situasi ketika kemajuan teknologi sampai pada tahapan tidak lagi membutuhkan tenaga kerja manusia (zero human labor)? Mungkinkah itu terjadi?

Demokrasi Teknologi

Heru Santosa (2000) dalam “Landasan Etis Bagi Perkembangan Teknologi”, dengan memakai pendekatan Etika Johan Galtung, memandang hakikat teknologi bukanlah sekedar produk ilmu pengetahuan beserta temuan-temuannya yang berupa mesin, melainkan juga termasuk sistem organisasi, struktur sosial, serta kekuasaan.

Ketiga hal tersebut dapat dipahami dengan pengendalian kemajuan teknologi dan pendistribusiannya dengan baik. Oleh sebab itu, kemajuan teknologi dalam perburuhan juga berkaitan bahkan berikatan dengan politik demokrasi. Dengan kalimat lain, demokratisasi kemajuan teknologi dalam menjadi penting untuk dikedepankan, baik dalam proses produksi, sistem organisasi produksi, struktur sosial dalam produksi, dan relasi kekuasaan dalam produksi.

Namun demokratisasi teknologi perlu memperjelas dan mempertegas bentuk demokrasinya. Bila demokratisasi yang terjadi adalah bentuk demokrasi liberal, akan kembali lagi pada karakter di mana buruh dilemahkan di hadapan pengusaha, dan negara atau pemerintah tetap diminimalisir perannya.

Baca Juga:  Pintar Memilah Media Online

Berkembangpesat dan majunya teknologi dalam keseluruhan proses produksi harus terus diapresiasi dengan baik. Perkembangan teknologi sebagai bagian dari proses produksi sangat membantu manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Sebab kemajuan teknologi menandai semakin majunya kemampuan manusia untuk beradaptasi dan mengendalikan diri dan lingkungannya. Dengan demikian maka, demokratisasi teknologi berarti perubahan sistem dan struktur dalam relasi produksi yang mampu menjamin kesejahteraan bagi siapa saja, bukan hanya untuk pengusaha, tapi juga buruh, dan semestinya mengahdirkan Negara atau peran pemerintah.

Keadilan Sosial Teknologi

Kemajuan tekhnologi yang demokratis memungkinkan untuk dapat dinikmati oleh lebih banyak orang atau menguntungkan secara sosial. Bahkan pengembangan teknologi harus disadari dari awal, seharusnya dilakukan secara sosial atau melibatkan lebih banyak orang. Hal ini dibutuhkan untuk menghindari adanya ketimpangan dalam pengusaan dan pemanfaatan teknologi (digital divide), sehingga tidak berlanjut menjadi ketidakadilan berteknologi (technology injustice).

Oleh sebab itu, ketika kekhawatiran kemajuan teknologi akan mendatangkan ancaman bagi buruh karena akan kehilangan pekerjaan, maka langkah pertamanya justru bukan mewujudkan buruh terampil untuk membekali mereka dalam perkembangan tekhnologi.

Asumsinya adalah buruh atau manusia secara umum mampu untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Namun lebih mendasar lagi, selain memastikan demokrasi teknologi adalah menjamin adanya keadilan perkembangan teknologi (technology justice) agar kemajuan teknologi dapat dinikmati oleh semua orang.

Baca Juga:  Ternyata Anak Krakatau Juga Berbahaya

Demokrasi teknologi dan keadilan sosial teknologi adalah suatu keniscayaan yang harus dilakukan oleh pemerintah, sebab ketika negara tidak hadir sepenuhnya untuk menegakkan demokrasi dan keadilan sosial, maka persoalan sosial yang disebabkan ketimpangan ekonomi akan terus menerus terjadi. Bahkan harus disadari dari awal bahwa para pengusaha pun sesungguhnya tidak akan bisa seratus persen mengandalkan robot dalam keseluruhan proses produksi.

Dari sini dapat disadari bahwa revolusi teknologi tidak akan menghapuskan kerja upahan sepenuhnya. Sebab logika politik ekonomi liberal, bila robotisasi sepenuhnya dilakukan, maka hasil produksi tidak akan diserap oleh pasar konsumsi yang isinya adalah para buruh yang membelanjakan upah mereka. Maka akan terjadi krisis akibat produksi berlebih dan akan menimbulkan krisis ekonomi. Berkemungkinan, para pengusaha di titik tertentu akan menghambat kemajuan teknologi.(*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top