Pendapat

Keteladanan Bapak Pendidikan

Oleh MD Wicaksono      

Ketua PERSAKI Lampung

ING ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, begitu ajaran  Bapak Pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Keteladanan menjadi sebuah proses dan sekaligus hasil dari proses tersebut. Hasil pendidikan diharapkan menghasilkan generasi yang menjadi Teladan, juga dinamisator dan motivator bagi sekelilingnya dimana pun berada, baik saat di lingkungan sekolah, rumah, lingkungan dan juga tempat bekerja nantinya. Setiap 2 Mei, kita kembali digugah dan disadarkan akan sosok dan tokoh pendidikan yang mendidikasikan pikiran, waktu dan tenaga guna mencerdaskan bangsa dan warga bangsanya. Meneladani sosok teladan dapat memberi inspirasi dan semangat bagi warga bangsa dan generasi muda pada khususnya. Prakarsa, idealisme, nasionalisme, kegigihan, dan kesederhanaan menyatu dalam diri tokoh yang mampu melewati jangkauan pemikiran dan waktu pada jamannya.

 

Sosok Bapak Pendidikan

Saat masa sulit saat itu, saat masih dalam penjajahan Belanda, yang berarti berbagai hal dalam kondisi terbatas dan dibatasi, seorang keturunan ningrat memikirkan bukan untuk diri sendiri, namun untuk bangsa dan negaranya. RM Soewardi Soerjaningrat, keturunan Kasultanan Yogyakarta yang lahir 2 Mei 1889 di Yogyakarta meninggalkan gelar kebangsawanannya dan lebih dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara.

Belajar dan menempuh pendidikan dari dasar hingga STOVIA, namun tidak selesai dikarenakan sakit, selanjutnya, bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar, antara lain De Express, Utusan Hindia, dan Kaum Muda. Juga aktif di bidang politik dengan bergabung di Boedi Oetomo, lalu mendirikan Indische Partij bersama Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo, selain itu juga membidani terbentuknya Komite Boemi Poetra. Salah satu tulisan yang terkenal “Als lk een Nederlander” (Seandainya Aku Seorang Belanda) di harian De Express. Tulisan yang mengkritik penjajahan Belanda saat itu. Akibatnya, Belanda pun langsung menjatuhkan hukuman pengasingan dan dibuang ke Belanda, bersama Douwes Dekker dan Cipto Mangoenkoesomo.

Saat pengasingannya di Belanda, Ki Hadjar Dewantara memanfaatkan dengan mendalami tentang pendidikan dan pengajaran. Setelah kembali, Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa, sebagai sarana perjuangan melalui pendidikan. Perguruan ini merupakan wadah untuk menanamkan rasa kebangsaaan kepada anak didik. Ajaran Ki Hajar Dewantara yang terkenal adalah Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani.

Baca Juga:  Ruang Ekspresi Budaya Tradisional (Bagian 1)

Atas pemikiran tentang pendidikan tersebut, beliau memperoleh gelar Doctor Honoris Causa (Dr.HC) dari Universitas Gadjah Mada tahun 1957. Beliau meninggal dunia di usia 70 tahun, tepatnya 26 April 1959 dan dimakamkan di Taman Wijaya Brata Yogyakarta. Pemerintah Republik Indonesia menghargai jasa beliau dan menetapkannya sebagai Bapak Pendidikan, Pahlawan Nasional, serta tanggal lahirnya 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional.

 

Sistem Pendidikan Indonesia

Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menjelaskan bahwa pengertian Pendidikan adalah sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Bapak Pendidikan, Ki Hadjar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai daya upaya memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup, yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya. Selain itu, juga dikenal tentang “tringa” yaitu ngerti, ngrasa dan nglakoni, selanjutnya pemikiran ini lebih dikenal dengan istilah kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Kita patut bersyukur, pendidikan mendapat perhatian besar oleh Pemerintah beserta jajarannya dari tingkat pusat hingga daerah, salah satunya dilihat dari alokasi 20% dari APBN, APBD Provinsi dan APBD Kabupaten/Kota. Saat ini Guru juga tidak sekedar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, namun sudah mendapatkan perhatian dan penghargaan melalui dukungan anggaran. Dari hal ini tentunya semua pihak sangat berharap, pendidikan memberikan perbaikan dalam kehidupan bangsa, karena dari pendidikan inilah seluruh warga bangsa akan menjadi generasi penerus yang jauh lebih baik, dalam sisi kognitif, afektif, dan psikomotoriknya.

Baca Juga:  Membendung Radikalisme di Kampus

 

Belajar Sepanjang Hayat

Orang yang memiliki ilmu lebih dihargai, hal ini sesuai firman Allah SWT “…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat..”(QS.Al-Mujaadilah (58):11). Belajar merupakan sebuah proses, karenanya perlu dilakukan secara terus menerus, sesuai dengan perkembangan kebutuhan dan tuntutan dalam menjawab permasalahan. Tidak salah bahwa belajar dilakukan sepanjang hayat “dari buaian hingga liang lahat”.).

Hal ini juga sejalan dengan Undang-Undang nomor 20 Tahun 2003, pasal 4 ayat (3), (4) dan (5) yang berbunyi: Ayat (3) Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Ayat (4) Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran. Ayat (5) Pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat.

Dalam UU tersebut juga dijelaskan bahwa jalur pendidikan terdiri tiga, yaitu pendidikan formal, pendidikan nonformal, dan pendidikan informal. Apabila dikembalikan ke pemikiran Ki Hadjar Dewantara, beliau mengungkapkan bahwa ada Tri Pusat Pendidikan yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Hal ini menandakan bahwa konsep pemikiran Bapak Pendidikan menjadi rujukan serta masih sesuai dengan kekinian saat ini.

Belajar tidak saja dilaksanakan di bangku sekolah, namun di semua tempat pendidikan dapat berlangsung. Keteladanan menjadi salah satu kunci keberhasilan proses pembelajaran ini, baik di rumah tangga, lingkungan tempat tinggal, tempat kerja, tempat ibadah, dan lain sebagainya, serta tentunya sekolah dan kampus sebagai lokasi pendidikan formal berlangsung. Buku merupakan jendela dunia, maka perpustakaan menjadi tempat terbaik dalam membudayakan membaca dan menulis. Membudayakan dari kata budaya diartikan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sudah sukar diubah, karenanya guna membudayakan perlu membiasakan diri atau melakukannya secara berulang atau terus menerus.

Baca Juga:  Koperasi Petani sebagai Jalan Menuju Ekonomi Berkeadilan

 

Momentum Hari Pendidikan

“Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”, menjadi spirit yang harus tumbuh di Hari Pendidikan. Ing Ngarso Sung Tulada dimaknai menjadi seorang pemimpin harus mampu memberikan keteladanan bagi lingkungannya. Seorang pemimpin harus bersikap dan berperilaku baik dalam ucapan dan perbuatan, sehingga menjadi panutan dan teladan. Ing Madya Mangun Karsa dimaknai menjadi seorang pemimpin saat berada di tengah harus mampu membangkitkan kreatifitas dan ide dalam berkarya bagi yang dipimpinnya, sehingga menjadi inisiator dan dinamisator, sedangkan Tut Wuri Handayani dimaknai seorang pimpinan harus memberikan dorongan, motivasi dan semangat kerja dari belakang, sehingga menjadi pendorong dan motivator.

Penggalan ajaran tersebut, Tut Wuri Handayani menjadi bagian dari logo Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Proses pendidikan memerlukan orang-orang yang mampu menjadi tokoh panutan, tokoh penggugah ide dan gagasan, serta tokoh pendorong dan motivasi menuju kebaikan. Hal ini karena semua kita adalah pemimpin bagi dirinya, dan calon pemimpin bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

Momentum Hari Pendidikan 2018 yang bertema Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan, menjadi saat tepat untuk secara bersama-sama tidak saja memperingati dalam berbagai bentuk kegiatan, namun menjadikan sebuah momentum perubahan untuk selalu bertambah baik, sehingga termasuk dalam orang-orang yang beruntung, dimana saat ini lebih baik dari saat yang lalu, terutama dalam menuntut ilmu dan mengaplikasinnya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini juga sejalan dengan hadist Rasulullah SAW “Barang siapa meniti suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan jalan baginya ke surga.”(HR.Muslim). Selamat Hari Pendidikan Nasional 2018.(*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top