Bandar Lampung

Kenapa Predikat Covid-19 Muncul dan Harus Jadi Alasan di Balik Penanganan Kasus Pajak Pemda Lamsel?

Semenarik Apa Sih Kesaksian Tersangka di Korupsi Pajak Pemda Lamsel?
Semenarik Apa Sih Kesaksian Tersangka di Korupsi Pajak Pemda Lamsel?

Tersangka berinisial YY pada kasus sangkaan korupsi pajak yang ditangani Kejakti Lampung saat akan ditahan, 5 Januari 2020. Sumber: Dokumentasi Kejati Lampung.

Suluh.co – Kejaksaan Tinggi [Kejati] Lampung menjadwalkan pemanggilan kepada seorang tersangka berinisial YY untuk memberikan kesaksian atas penanganan kasus sangkaan korupsi yang ditangani bidang Pidana Khusus [Pidsus].

Jadwal pemanggilan ini diatur pada tanggal 29 Desember 2020.

Alasan kenapa dijadwalkan ulang tersebut muncul dari peristiwa pada tanggal 22 Desember 2020 sebelumnya. Pada waktu itu, tersangka berinisial YY ini tidak hadir.

Padahal, ia turut menjadi tersangka bersama dengan 3 tersangka lainnya yang kemudian ditahan di tanggal 22 Desember.

Di 29 Desember 2020, YY lagi-lagi tidak hadir ke kantor Kejati Lampung. Alasannya ketidakhadiran disebutkan karena yang bersangkutan terpapar Covid-19, virus yang sedang mewabah seantero dunia ini.

Secara jelas dan terang, Kepala Seksi Penerangan Hukum [Kasi Penkum] pada Kejati Lampung membeberkan perihal sebab akibat YY tidak hadir.

“Baru kami dapat kabar dari teman-teman Pidsus, bahwa yang bersangkutan tidak bisa hadir pada hari ini karena ada keterangan sakit. Jadi yang bersangkutan keterangannya adalah kena Covid,” kata Andrie W Setiawan, Selasa sore, 29 Desember 2020.

Keterangan terpapar Covid-19 itu kemudian disebut diiringi dengan argumentasi lewat medical record yang diterbitkan Rumah Sakit Kayu Agung, Sumatera Selatan.

YY kemudian dijadwalkan untuk dipanggil kembali pada 5 Januari 2020.

Bila meluangkan waktu sejenak, absennya tersangka YY karena terpapar Covid-19, disampaikan kepada publik atas informasi yang diterima jaksa yang bertugas di bidang Pidsus Kejati Lampung.

Nah sehari sebelum jadwal pemanggilan tepatnya pada Senin, 4 Januari 2020, Kejati Lampung seperti dilaporkan Fajar Surya Televisi, akan berencana memanggil seorang dokter guna mencari kebenaran di balik status Covid-19 tadi.

Yang terjadi kemudian, pada waktu yang telah ditentukan YY yang jadi tersangka pada 15 Desember 2020, menghadiri panggilan tadi. Dan kemudian ditahan seperti yang sudah dialami 3 tersangka lainnya.

YY jadi tersangka atas sangkaan korupsi atas penerimaan pajak pada Mineral Bukan Logam dan Batuan [MBLB] yang tidak tercatat ke dalam Pendapatan Asli Daerah [PAD] Pemda Lamsel berdasarkan pencatatan Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah [BPPRD] dan Dinas Pendapatan [Dispenda].

Muhammad Ilyas selaku kuasa hukum YY yang turut mendampingi saat proses penahanan YY memberikan jawaban atas predikat terpapar Covid-19 tersebut.

“Jadi gini, itu yang ingin saya sampaikan. Jadi ada peristiwa perdata yang dia tempuh kemarin,” ucapnya kemarin.

“[Jadi bukan karena Covid-19?] Bukan,” jawab dia.

Ada dua hal yang menjadi klaim serta dalil mengapa YY tidak dapat hadir: selain karena ada proses hukum perdata; juga karena ada kondisi atau suasana akhir tahun dimana secara umum keluarga besar saling melepas rindu.

Baca Juga:  Dear Publik, Berikut Penanganan Kasus Tindak Pidana Khusus di Kejaksaan Tinggi Lampung

YY disebut sedang berkunjung ke rumah orangtuanya di Sumatera Selatan.

“Nah di kemudian hari, karena ini konstelasi ataupun masih tahap akhir tahun, ada kunjungan dia di luar, maka dengan inisiatif dia, periksa itu,” bebernya.

“[Di RS Kayu Agung periksa kesehatannya?] Ya dia sempat mengunjungi orangtuanya dan peristiwa itu memang benar ada,” tambah Ilyas.

“Bukan kita mangkir atau… Enggak itu. Karena memang dia tidak mangkir. Karena pertama ada yang dia tempuh terkait proses keperdataan dia.

Kedua karena ada kunjungan keluarga terus dia coba inisiatif tes kesehatan. Dan kami juga koordinasi dengan teman-teman kejaksaan tinggi,” tambah Ilyas.

Rencana Kejati Lampung untuk memanggil seorang dokter tadipun tampaknya urung dilaksanakan sebab YY sudah hadir.

Laman Everyday Health yang dipublikasikan ulang Liputan6.com menyebut bahwa ada beberapa alasan kenapa seseorang mengeluarkan ucapan bernada kurang jujur.

Alasan di balik ucapan kurang jujur itu dimaksudkan sebagai cara seseorang untuk melakukan pertahanan diri.

Didasarkan pada penelitian dari University of Notre Dame yang dipublikasi pada tahun 2012, ahli menyarankan untuk tidak mengeluarkan ucapan bernada kurang jujur, sekalipun pada hal-hal kecil.

Ahli berpendapat, saran tersebut dipastikan baik untuk kesehatan fisik dan mental seseorang.

Menimbulkan Tanya

Ketua Presidium Persatuan Masyarakat Anti Korupsi Indonesia [PERMAKI] Mustofa Ali menyebut ada yang hal perlu juga diperhatikan dari sikap dan tindakan tersangka berinisial YY tersebut.

“Saya tidak mau masuk pada konteks dia jujur atau tidak. Yang jadi pertanyaan, mengapa dia melakukan hal itu? Ada hal yang tak biasa dari sikap seseorang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka. Darimana keberaniannya bersikap begitu,” kata dia kepada Suluh.co, Rabu malam, 6 Januari 2020.

Baca Juga:  Waspada Oknum Gadungan, KPK Imbau Warga Lapor Polisi

Ia melihat poin yang jadi tumpuan sebenarnya ada pada keberhasilan melakukan proses penegakan hukum pada kasus tersebut.

“Jadi gini, intinya prosesnya berjalan di tingkat penyidikan ini. Kita apresiasi kepada teman-teman jaksa yang merasa curiga atas keterangan Covid-19 tadi. Artinya ada semacam check and balance atas tiap informasi. Toh pada akhirnya proses berjalan. Saya kira yang perlu kita tunggu adalah proses selanjutnya di pembuktian di pengadilan. Mudah-mudahan cepat, kita harap begitu,” ujar dia.  

Mengutip keterangan Psikolog dari Universitas Sebelas Maret, Laelatus Syifa. Terlepas dari motifnya, ucapan bernada kurang jujur merupakan tindakan yang dilakukan secara sadar.

“Berbohong sebenarnya adalah proses yang kompleks, karena pernyataan satu akan membutuhkan pernyataan yang lain,” ujarnya.

“Membuat kebohongan itu merupakan hal yang kompleks dan rumit. Jadi mereka tampak mikir dulu dengan menunda menjawab, butuh waktu jeda,” katanya lagi.

Reporter: Ricardo Hutabarat

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top