Daerah

Kelahiran WR Soeprtaman 19 Bukan 9

Umbul Donga atau doa bersama di Memorial House WR Soepratman, Dusun Trembelang, Desa Somongari, Purworejo/MAS

Suluh.co – Umbul Donga atau doa bersama di Memorial House WR Soepratman, Dusun Trembelang, Desa Somongari, Purworejo di inisiasi oleh belasan pegiat seni lintas komunitas serta wartawan Kabupaten Purworejo, setiap tanggal 18 Maret, satu hari menjelang tanggal lahir Wage Rudolf Soepratman, Rabu (18/3) sore.

Kegiatan berlangsung dengan sangat sederhana. Pra acara ada pementasan musik dari Amien Alazmi, Dimas Kasuga dan violis cilik khasna, dilanjutkan Doa bersama dipimpin Achmad Fajar Chalik ketua Komunitas Teater Purworejo, serta dirangkai dengan tabur bunga di lokasi penguburan Plasenta atau ari-ari WR Soepratman.

Dalam kesempatan itu, mereka juga khidmat menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya dengan iringan biola.

“Doa bersama, umbul donga ini kita lakukan untuk merawat ingatan bahwa tanggal lahir WR Soepratman adalah 19 Maret, bukan 9 Maret seperti yang masih diakui sebagian masyarakat atau di tingkat nasional sebagai hari musik nasional,” kata Catur Heriyanto, Koordinator kegiatan.

Baca Juga:  Perdana, 15 Ribu Warga Purworejo Ikut Gebyar PKH

Catur menyebut, merawat ingatan tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang melibatkan banyak kalangan, seperti seiman dan wartawan. Tahun ini, acara digelar sangat sederhana dan singkat mengingat telah adanya anjuran pemerintah untuk mengurangi kegiatan yang melibatkan banyak orang guna mencegah penularan Virus Corona.

“Kali ini hanya beberapa orang, itu pun kita sangat memperhatikan langkah-langkah pencegahan penularan Virus Corona, seperti menjaga jarak dan mencuci tangan. Selain doa bersama, kegiatan ini juga kita niati untuk aktivitas fisik karena dengan berjalan, naik turun tangan, tubuh kita jadi bergerak dan imunitas tubuh meningkat,” katanya.

Catur bersama sejumlah pegiat seni lainnya mengaku prihatin dengan masih adanya polemik terkait sejarah tempat dan tanggal lahir WR Soepratman. Padahal, Pengadilan Negeri Purworejo pada 29 Maret 2007 telah menetapkan WR Soepratman lahir di Dusun Trembelang Desa Somongari Kecamatan Kaligesing pada 19 Maret 1903.

Baca Juga:  Aksi Pantomim Pukau Para Pecinta Mobil JIP

“Kita mengajak dan mendorong agar seluruh elemen masyarakat Purworejo, khususnya pemerintah kabupaten untuk dapat lebih mengangkat sosok WR Soepratman sebagai tokoh asal Kabupaten Purworejo,” tandasnya.

Sementara itu, Panut Maryono menyebut banyak fakta yang mengungkapkan bahwa WR Soepratman lahir di Desa Somongari pada hari Kamis Wage yang menurut penelusuran ahli sejarah saat itu bertanggal 19 Maret, bukan 9 Maret.

“Salah satu saksi yaitu Mbah Atomorejo, sekarang sudah meninggal. Saat disidang di pengadilan negeri saat tahun berapa itu usianya sudah 100 tahun lebih. Dikatakan bahwa WR Soepratman dilahirkan oleh ibunya, Senen, saat meletus gunung kelud pertama kali hari Kamis dan diberi nama Wage. Setelah dilacak yang paling berdekatan adalah Kamis Wage tanggalnya 19 Maret,” sebutnya.

Baca Juga:  Wakapolres Tanggamus Sosialisasi Penerimaan Polri di Radio Pelangi

Bukti lain yang cukup kuat bahwa WR lahir di Dusun Trembelang yakni adanya plasenta atau ari-ari yang dikubur di depan bagian kanan memorial house tersebut. Sampai sekarang, struktur bangunan rumah serta plasenta masih utuh.

“Memang rumah ini pernah direnovasi dan ada kayu-kayu yang diganti, tapi kalau bentuknya masih utuh limasan seperti sekarang ini,” ungkapnya.

 

Reporter : Mahestya Andi

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top