Iklan
Bandar Lampung

Keberadaan TPA Bakung Mulai Meresahkan Warga

TPA Bakung Kota Bandar Lampung/Net

BANDAR LAMPUNG – Keberadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Kelurahan Bakung, Kecamatan Telukbetung Barat, Bandar Lampung, terus menuai keluhan warga sekitar.

Sarpuah (50), warga setempat, mengakui, keberadaan TPA dekat kawasan warga dinilai merugikan masyarakat sekitar khususnya saat masuk musim penghujan.

“Kalau sudah hujan deras, limbah yang berasal dari TPA Bakung meluap hingga ke pemukiman dan aromanya itu luar biasa. Karena air (tinja) dari atas mengalir turun hingga depan rumah. Airnya itu cokelat kehitam-hitaman,” ujarnya, Minggu (29/7).

Hal senada disampaikan juga oleh Janati (35), bahwa dampak dari meluapnya air limbah tersebut ikut memicu penyakit kulit.

“Airnya itu gatel bisa menyebabkan luka atau koreng. Kalau hujan kami minta anak-anak tidak boleh keluar rumah,” kata dia.

Baca Juga:  PPDB 2019 Bandar Lampung, Siswa Baru Tak Lagi Dapat Memilih Sekolah di Luar Wilayah

Meski begitu, dia menyayangkan selama ini OPD yang membidangi hal tersebut belum memperhatikan dampak yang dirasakan warga sekitar.  “Lurah saja tidak pernah kesini,” tandasnya.

Tak hanya bau busuk yang diresahkan, warga sekitar TPA Bakung juga mengaku tertipu saat proses awal pendirian tempat pembuangan sampah tersebut. Lantaran, dijanjikan ada pembangunan tempat pabrik kaca atau pun kardus.

Seperti yang diungkapkan Sarpuah (50), yang sudah sejak lahir tinggal dilingkungan Bakung. Saat itu belum ada TPA.

“Saya lupa tahun berapa, tapi sudah lama dulu. Katanya mau dibuat pabrik kaca dan kardus,” kata Sarpuah, Minggu (29/7).

Setelah jadi, lama kelamaan truk truk sampah lalu lalang di jalan samping rumahnya. Barulah diketahui ternyata tempat itu adalah TPA.

Baca Juga:  ACT-MOS Lampung Buka Bersama Anak Asuh Panti Baitul Hijrah

“Apa saja dibuang disini, sampah, limbah manusia, limbah rajungan ,sampai bayi, bahkan janin dibuang ke sini,” sesalnya.

Dia berharap tempat itu ditutup dan dipindahkan ke lokasi yang jauh dari pemukiman warga.

“Ya gimana, sangat tersiksa kita disini, jadi tempat sumber penyakit. Pengennya sih ditutup, katanya sih dari dulu mau ditutup tapi sampe sekarang tidak,” tandasnya.(AJ)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top