Modus

Jurnalis Pesawaran Diancam Dibunuh Gegara Liput Penghitungan Suara Pilkades

Kekerasan terhadap wartawan/Ilustrasi

GEDONGTATAAN – Tindak kekerasan terhadap jurnalis kembali terjadi. Kali ini menimpa Jendri, wartawan Media Online Pikiran Lampung yang tengah meliput dan mengambil foto saat penghitungan suara pada Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Halanganratu, Kecamatan Negrikaton, Kabupaten Pesawaran, Senin (21/10).

Jendri mengaku tiba tiba didorong oleh oknum Ketua Badan Permusawarahan Desa (BPD) setempat, M. Saher, hingga terjatuh di lantai serta mengacam membunuh dengan mengunakan sebilah pisau yang telah di siapkan dipingangnya serta meminta agar penghitungan pilkades tersebut tidak boleh diliput wartawan.

“Saat penghitungan pemilihan Pilkades selesai sejumlah pendukung yang kalah protes kepada panitia agar di lakukan penghitungan ulang. Kemudian saya mengambil gambar kejadian tersebut, tapi tiba-tiba M.Saher mendorong saya hingga terjatuh di lantai. Padahal saya mengatakan bahwa saya wartawan dengan menggunakan tanda pengenal dan mengenakan baju wartawan Pikiran Lampung, tetapi yang bersangkutan makin menjadi bahkan berkata, jangan di liput, saya habisin kamu,” jelas Jendri menirukan perkataan Oknum Ketua BPD tersebut.

Baca Juga:  Diusir, KJHLS Tuntut BPN Lamsel Sampaikan Permohonan Maaf

Terkait kejadian kekerasan yang dialaminya, Jendri akan melaporkannya pihak Kepolisian agar pelaku dapat diadili sesuai hukum yang berlaku, sehingga kejadian kekerasan terhaap wartawan yang ada di kabupaten Andan Jejama ini tidak terjadi lagi.

Sementara itu, Ketua Forum Komunikasi Wartawan Kabupaten Pesawaran (FKWKP) Feri Darmawan sangat menyayangkan kekerasan yang dilakukan oleh oknum Ketua BPD Halanganratu terhadap wartawan yang melakukan tugas jurnalistis.

Ia juga mengatakan bahwa semua peristiwa yang melanggar Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, tepatnya Pasal 4. Di sana disebut: “kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara.” Yang dimaksud dalam pasal ini, seperti tertulis pada bagian penjelasan, adalah pers bebas dari “tindakan pencegahan, pelarangan, dan atau penekanan agar hak masyarakat untuk memperoleh informasi terjamin.”

Baca Juga:  Dua Tahun Kepemimpinan, Dendi Eriawan Belum Puas Membangun

Kemudian ada Sanksi diatur dalam Pasal 18. Di sana disebut kalau siapa saja yang dengan sengaja melakukan tindakan yang mengakibatkan terhambatnya kemerdekaan pers “dipidana penjara paling lama dua tahun atau denda paling banyak Rp500 juta.”

Bukan cuma itu, pengeroyokan dan penganiayaan juga termasuk tindakan pidana berdasarkan Pasal 170 KUHP. Hukumannya paling lama lima tahun enam bulan.

“Di sini sudah jelas bahwa kekerasan dan acaman terhadap pers yang melaksanakan tugasnya ada acaman hukuman pidananya, jadi kami meminta agar pihak kepolisian khususnya Polres Pesawaran menindak tegas siapa pun yang melakukan kejahatan terhadap wartawan dan rencananya besok kami sejumlah wartawan akan mendapingi Jendri untuk melaporkan tidak kekerasan yersebut ke Polres Pesawaran,” pungkasnya.(LS)

Baca Juga:  Urutan ke-3 di Sumatera, Pecandu Narkoba Lampung Menggila
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top