Iklan
Panggung

Jiwa-Jiwa Merdeka Dibedah di Auraubook Coffee

Buku “Jiwa-Jiwa Merdeka” karya Komiruddin Imron dibedah di Aurabook Coffe/LS

BANDAR LAMPUNG – Buku “Jiwa-Jiwa Merdeka” karya Komiruddin Imron dibedah di Aurabook Coffe, Jumat (15/2) malam.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan ustad Komiruddin di media sosial facebook (FB) dan buku ke enam mantan anggota DPRD Kabupaten Lamopun Selatan dari PKS.

Dikatakan Komiruddin, yang juga ustad ini, setiap tulisannya selalu diinspirasi seusai ia membaca dan mengkaji Alguran.

Ia mengaku bamyak ayat-ayat Alquran menginspirasi untuknya menulis. Dicontohkan saat membaca nabi Yusuf A.S., lalu lahirlah tulisan “Jiwa-Jiwa Merdeka”.

“Setiap manusia harus memiliki jiwa yang medeka. Merdeka yang dimaksud di sini, ialah merdeka dari sesembahan selain Allah,” katanya.

Baca Juga:  Puisi 'Swara Masnuna' Juara Krakatau Award

Komiruddin mencontohkan nabi Yusuf A.S. lebih baik ia berada di penjara yang lebih merdeka, daripada tak merdeka dalam tekanan penguasa zalim dan terperangkap rayuan Zulaikha,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan bagaimana nabi Sulaiman, seoramg raja yang tiada tandingan hingga alhir zaman, tak abai pada rakyat dan makhluk lainnya di bawah kekuasaannya.

Bahkan, imbuh Komir, Sulaimam tak harus memaksa Ratu Balqis agar mengakui ajaran yang dibawa Sulaiman, namun ia tunjukkan dengan karya dan cara-cara yang santun.

Pada buku ini juga tertuang “Petarung versus Pecundang”, “Menolak Lupa” dan lain-lain. Sebanyak 43 judul terhimpun dalam buku yang diterbitkan Ali Imron Pers ini.

Selain Komiruddin, penulis buku, bedah “Jiwa-Jiwa Merdeka” ini memghadirkan Isbedy Stiawan ZS, sastrawan Lampung, sebaga pembanding.

Baca Juga:  Muchlas E Bastari Launching Buku “Pengabdian Itu Tak Terbatas”

Jiwa-jiwa Merdeka, dikatakan penyair berjuluk Paus Sastra Lampung, adalah hak setiap individu yang harus dimiliki. Jiwa yang merdeka harus berdaulat pada diri sendiri dan bertanggungjawab atas kemerdekaannya.

“Apabila jiwa sudah merdeka, kita tak pernah takut pada siapa pun kecuali pada Allah. Pikiran dan kreasi kita akan merdeka,” katanya.

Namun, lanjut Isbedy, kemerdekaan tetap mesti tahu batasan, tatacara, aturan-aturan yang telah disepakati oleh masyarakat.

“Bukan lantas karena merdeka, kita tabrak aturan, undang-undang, maupun norma yang ada dan telah disepakati,” ujar Isbedy.

Bedah buku ini, selain dihadiri kalangan mahasiswa, juga ormas Garbi Lampung, tokoh pemuda Agusri Junaidi, owner Aura Book Ikhsanuddin, dosen UIN Nurkholis, dan lain-lain.

Baca Juga:  Puspa Lampung Sosialisasi Kebersihan ke Anak Lewat Dongeng

Bedah “Jiwa-Jiwa Merdeka karya Komiruddin ini ditutup pembacaan puisi “Di Alunalun Itu Ada Kalian, Kupukupu, dan Pelangi” oleh Isbedy Stiawan ZS.(LS)s

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top