Bandar Lampung

Jadilah Pahlawan Keluarga, Pahlawan Gerakan 3M, Pahlawan Kemanusiaan

Kolase foto salah satu kesempatan momen kiprah kemanusiaan DPD PBL Lampung dipimpin Ary Meizari Alfian, saat menyerahkan donasi rapid test kit dari Pejuang Bravo Lima dan PT Sidomulyo Selaras kepada Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Provinsi Lampung, diterima Wakil Gubernur Lampung Chusnunia Chalim, di kantor Pemprov Lampung, 29 Juni 2020. | Foto: PBL Lampung

BANDAR LAMPUNG — Judul di atas sengaja dipilih mewakili ombang-ambing suasana kebatinan kita dayung sekoci tengah samudera pandemi ini.

Situasi kahar hampir setahun ini sejak COVID-19 ditemukenali pertama kali di Wuhan, Tiongkok, Desember 2019 lalu, terbukti buat sendi kehidupan umat manusia seplanet bumi ini luluk lantak.

Lintang pukang dibuatnya. Terpaksa, kita pun harus diam di rumah, belajar bekerja beribadah dari rumah, masker di wajah jadi pemandangan lumrah, di tempat ramai harus jaga jarak untuk sekadar menyapa “hai!”, penyanitasi tangan wajib jadi barang bawaan, dan sejumlah kebiasaan baru, perubahan perilaku kita harus lakukan.

Ucapan selamat patut disampaikan bagi segenap pembaca yang dengan kesadaran penuh dan kesabaran diri, dapat beradaptasi dengan keadaban baru demi melawan pandemi ini, terus jenius dan serius patuhi dan berdisiplin protokol kesehatan cegah kendali COVID-19, demi kebaikan diri sendiri dan sekitar, anda adalah pahlawan.

Hari ini, Selasa 10 November 2020, kembali kita peringati Hari Pahlawan. Pemerintah Indonesia melalui Menteri Sosial Juliari Peter Batubara menaut, tema raya Hari Pahlawan ke-75 2020 ini “Pahlawanku Sepanjang Masa”.

Sebelum ke masa depan, setelah ucap selamat kepada anda pahlawan masa kini menggebuk rongrongan pagebluk, sejenak berselancar ke tempo doeloe, teladan kepahlawanan Cut Nyak Dien dan Teuku Umar, Cut Mutia, Teuku Cik Ditiro, serta Laksamana Malahayati, asal tanah rencong Nangroe Aceh Darussalam, membumbung langit sekaligus jejak bumi, antara lain diabadikan jadi nama jalan protokol kota utama Indonesia, juga Lampung.

Di Bumi Ragom Gawi Bandarlampung, nama terakhir, empunya nama asli Keumalahayati yang dianugerahi gelar pahlawan nasional pada peringatan Hari Pahlawan 2017 lalu, selain jalan utama di Telukbetung, juga mengabadi jadi nama kampus universitas bilangan Rajabasa, Bandarlampung.

Disitat dari Melayu Online, Ruang Baca, dan Mvslim.com, yang disarikan ulang jurnalis Merdeka.com, Tantri Setyorini (reportase laman 10 November 2017), Laksamana Malahayati prajurit pelaut perempuan pejuang pemberani, oleh Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris, hingga daratan Cina, amat disegani.

Binti Laksamana Mahmud Syah dari Kesultanan Aceh ini, cucu garis ayah dari Laksamana Muhammad Said Syah dan cicit Sultan Salahuddin Syah yang memerintah sekira 1530-1539 Masehi.

Bikin adrenalin patriotisme dan cinta tanah air kita tambah berlipat ganda, siapapun akan berdecak kagum mendengar kisah heroik laksamana wanita pertama di dunia pelayaran modern ini.

Santriwati kelahiran Aceh Besar 1550 Masehi, yang masuk akademi militer kerajaan, Ma’had Baitul Makdis usai kelar nyantri dan sarat prestasi hingga berhasil menjadi komandan protokol istana, keharuman namanya disebut-sebut sejarawan lebih diperhitungkan dibandingkan Artemisia I dari Caria, bahkan Katherina Agung dari Rusia.

Meneruskan jejak perjuangan suami, Laksamana Zainal Abidin, yang gugur di palagan tempur Selat Malaka melawan Portugis, Malahayati menggalang Inong Balee.

Ia lah panglima armada pasukan laut beranggotakan janda pejuang Aceh ini yang sama gugur seperti sang suami.

Meskipun berarmada prajurit para janda, mereka sangat tangkas di bidang militer, menyusun sistem pertahanan kuat di daratan maupun lautan, memiliki benteng di Teluk Lamreh Kraung Raya dan 100 kapal.

Tercatat, ketangguhan Malahayati dan pasukan sanggup memukul mundur Portugis abad 16. Juga menewaskan utusan Belanda, Cornelis de Houtman, pada 11 September 1599.

Baca Juga:  Provinsi Lampung Tuan Rumah Pertemuan Ilmiah Study Penyakit Ginjal se-Sumatera

Gagah berani Malahayati sukses fakta pupuskan gandul patriarki. Kendati seorang wanita yang hidup di zaman kuno dimana para lelaki mendominasi, ia mampu mendapat penghormatan yang layak para pria. Sultan Alauddin Mansur Syah bahkan menunjuknya langsung jadi laksamana pertamanya.

Saat itu Aceh sedang ketat-ketatnya menjaga perairan Selat Malaka agar tak bernasib sama seperti tetangganya yang jatuh ke tangan Portugis. Konon, para jenderal dan pasukan menaruh hormat kepada perempuan ini.

Usai Portugis, Aceh harus menghadapi upaya invasi Belanda. Setelah armada musuh pimpinan Cornelis de Houtman berhasil dikalahkan Malahayati, giliran pasukan Paulus van Caerden yang mencoba menerobos perairan Aceh tahun 1600. Mereka menjarah dan menenggalamkan kapal bermuatan rempah. Raja Aceh pun naik pitam.

Sadar tantangan, Malahayati langsung mengontani. “Tangkap Laksamana Belanda, Jacob van Neck!” perintahnya pada tahun 1601. Perlawanan sengit armada Malahayati dan ancaman Spanyol buat Belanda menyerah. Penguasa Negeri Kincir Angin, Maurits van Oranje mengirim utusan diplomatik beserta surat permintaan maaf kepada Kerajaan Aceh.

Malahayati menemui sendiri kedua utusan Belanda, gencatan senjata. Belanda setuju membayar kompensasi atas tindakan Paulus van Caerden sebesar 50 ribu gulden, Malahayati membebaskan sejumlah tahanan Belanda yang ditawan pasukannya.

Reputasi Malahayati yang tak gentar tak kenal ampun bikin Inggris yang hendak melalui Kerajaan Aceh jadi ciut nyali, mengkerut sebelum bertempur. Daripada kirim pasukan dan kalah lunglai, Inggris akhirnya memilih masuk Aceh dengan jalan damai.

Penguasa Inggris kala itu, Elizabeth, memilih mengutus James Lancaster disertai surat permintaan izin kepada Sultan Aceh untuk membuka jalur pelayaran menuju ke Jawa. Ini 1602.

Pengabdiannya menjaga perairan Aceh hingga akhir hayat, ditandai ia gugur dalam pertempuran melawan armada Portugis kali ini dipimpin Alfonso de Castro. Jasad Malahayati dimakamkan di Gampong Lamreh, Krueng Raya, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar.

Malahayati disebut masih memimpin pasukan Aceh menghadapi Portugis yang menyerbu Kreung Raya Aceh, Juni 1606. Sejumlah sumber sejarah menyebut ia gugur dalam pertempuran lawan Portugis itu, lalu dimakamkan di lereng Bukit Kota Dalam, desa nelayan berjarak 34 kilometer dari Banda Aceh.

Malahayati bukti bahwa kolonialisme, penjajahan bangsa satu atas bangsa lain, akan panen tantangan.

Kini, 414 tahun kemudian, petikan pidato Menteri Dalam Negeri Prof Tito Karnavian, pada seremoni pelantikan Gubernur Nangroe Aceh Darussalam sisa masa jabatan 2017-2022 Nova Iriansyah pada Rapat Paripurna DPRA di Banda Aceh, Kamis (5/11/2020) lalu, menyebut tantangan kini pemerintah dan semua pihak, harus pandai baca peluang dengan terobosan-terobosan kreatif dan inovatif, diperlukan di tengah situasi sulit pandemi COVID-19.

”Sehingga dapat memicu percepatan pembangunan dengan segenap sumber daya yang telah tersedia, ini adalah pandemi COVID-19, ini adalah tantangan. Tantangan betul untuk membuktikan leadership pengambil kebijakan, kita melihat bagaimana saat ini election yang terjadi di Amerika, pandemi COVID jadi salah satu isu sentral pertarungan politik demokrasi di Amerika Serikat,” kata Mendagri.

Dari Aceh ke Sumatera Barat. Daerah yang juga gudang tokoh yang telah berkontribusi luar biasa bagi kelahiran dan kemajuan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia hari ini.

Salah satunya Prof Dr Achmad Mochtar, seorang ilmuwan, dokter, guru besar yang mengabdikan diri di bidang kesehatan. Kendati dikenal di dunia kesehatan, kebangsaan Indonesia yang memimpin lembaga penelitian biologi Eijkman, dia kurang dikenal awam yang hampir seluruhnya telah menikmati temuan dan karyanya.

Baca Juga:  Gubernur Ridho Serahkan Rancangan KUA dan PPAS RAPBD 2019, Infrastruktur Jadi Prioritas

Tak banyak yang tahu dia juga pejuang berjiwa kepahlawanan, menentang kekejaman kolonialis Jepang. Momen Hari Pahlawan ini dimanfaatkan oleh Dinas Kebudayaan Sumatera Barat, untuk mendedah tema kepahlawanan Achmad Mochtar lewat satu webinar.

Webinar Selasa siang, menghadirkan mantan direktur Lembaga Eijkman, Prof. Dr. Sangkot Marzuki M.Sc., Ph.D., D.Sc., yang juga penulis buku “War Crime in Japan-Occupied Indonesia: A Case of Murder by Medicine”.

Profesor Sangkot tak sendiri. Ada pula kompatriot sesama penulis buku itu,
Prof. Dr. John Kevin Baird, yang saat ini tercatat ialah Head of Eijkman Oxford Clinical Research Unit.

Membersamai, narasumber berikutnya, jurnalis kenamaan Hasril Chaniago, dan Guru Besar Sejarah Universitas Andalas (Unand) Padang, Prof Dr Phil Gusti Asnan. Dipandu moderator, Ketua Program Studi Magister Sejarah Unand Dr Nopriyasman.

Kesempatan itu, turut menyampaikan sambutan, Kadisbud Sumbar Gemala Ranti, dan Prof Dr Asikin Hanafiah, anggota keluarga Achmad Mochtar.

Di Lampung, satu momen epik patut diketengahkan, tabur bunga oleh Pjs Bupati Lampung Selatan, Sulpakar, sekaligus peringatan haul ke-164 dari pahlawan nasional Radin Inten II di TMP Radin Inten II, Desa Gedong Harta, Kecamatan Penengahan, kabupaten setempat, Selasa pagi.

Jarang terpublikasi, sejumlah anggota keluarga ahli waris mendiang yang diabadikan menjadi nama bandara internasional kebanggaan Lampung, hadir fisik dibawah pandu ketat protokol kesehatan.

Diantaranya, Budiman Yakub gelar Raden Kesuma Yudha, dan Ratu Mas istri dari Radin Inten IV serta keluarga.

Sungguh, ujaran patriotik bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Karena itu, “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”, penggalan pidato Bung Karno pada HUT ke-21 RI, 17 Agustus 1966 ini, ujaran brilian.

Merefleksikan kontekstualitas makna filosofis dari nilai kepahlawanan lintas masa, pria yang secara berkebetulan tanggal lahirnya berbarengan dengan tanggal wafatnya Bung Karno, tak lain yakni orang nomor satu di Indonesia, Presiden Joko Widodo (Jokowi), dari tempat tugasnya, antara lain melalui Twitter, tepat pijakan.

“Hari ini, kita mengenang jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur, sembari memancang tekad untuk meneruskan perjuangan mereka di palagan yang lain,” cuit Presiden, pukul 08.04 WIB, seperti dikutip Selasa pagi.

Perjuangan kita kini, lugas Jokowi, “adalah memutus rantai penyebaran pandemi COVID-19 yang sudah delapan bulan mendera negeri ini.”

Menjadi Inspektur Upacara Ziarah Nasional di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama (TMPNU) Kalibata, Jakarta Selatan, Selasa pagi, Presiden Jokowi didampingi Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin, jajaran Kabinet Indonesia Maju, serta dihadiri tetamu undangan, tampak khusyuk menyimak untai doa dipandu Menteri Agama Fachrul Razi.

Diantara bunyi doa itu, menteri agama yang juga sempat turut jadi korban keganasan COVID-19 kini telah pulih sedia kala itu berdoa agar Indonesia mampu mengatasi wabah COVID-19 dan berbagai permasalahan bangsa.

“Ya Allah Tuhan yang Maha Melindungi, di tengah wabah COVID-19 dan berbagai kesulitan yang kami hadapi, semakin menyadarkan kami bahwa kekuatan kami hanya berkat pertolongan-Mu jua,” panjat munajat.

Sejurus, “Karenanya ya Allah, dengan kudrah dan iradah-Mu, mohon kiranya Engkau selalu berkenan melindungi dan menolong kami,” sambung pinta Fachrul Razi.

“Kuatkan kami dalam mengatasi wabah COVID-19, mengatasi segala kesulitan dalam membangun bangsa ini,” imbuhnya, disitat dari siaran pers.

Doa Menag Fachrul Razi, yang juga Ketua Umum DPP Pejuang Bravo Lima ini menyertakan pula mulia harapan.

Yakni, agar apel kehormatan dan renungan suci yang dilaksanakan dapat menggugah semangat bangsa lebih meningkatkan upaya dan kemampuan melanjutkan cita-cita para pahlawan bagi kejayaan Indonesia.

Baca Juga:  Kabid PPD HMI Menyayangkan Pernyataan Asisten 1 Pemkot Bandar Lampung

Dari Kalibata, balik ke Lampung. Dian Ambarini (22), mahasiswi Universitas Sang Bumi Ruwa Jurai (USBRJ) Bandarlampung, yang mengaku diri mengidolakan pahlawan asal Aceh, Cut Mutia ini mengajukan pendapat bahwa pahlawan pada dasarnya berjuang untuk kemerdekaan.

Ditanya lintasan masa, perbedaannya dengan pahlawan masa kini, warga Jl B. Rigis Blok A Perumahan Kemiling, Bandarlampung ini menjawab yakni pada tantangan yang harus dihadapi.

“Dahulu pahlawan berjuang melawan penjajah,” sebutnya, lewat pesan singkat, Senin (9/11/2020) malam, pukul 22.27 Waktu Indonesia Barat.

Pesan peringatan Hari Pahlawan 10 November 2020 dari Presiden Joko Widodo: “Hari ini, kita mengenang jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur, sembari memancang tekad untuk meneruskan perjuangan mereka di palagan yang lain. Perjuangan kita kini, adalah memutus rantai penyebaran pandemi COVID-19 yang sudah delapan bulan mendera negeri ini.” | Twitter

Sementara, “Pahlawan masa kini berjuang untuk dapat berpikir kreatif dan inovatif yang dapat menciptakan kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyat dalam melewati bersama era digital ini,” demikian Dian berpendapat.

Pada bagian lain sebelumnya, milenial bergerai rambut sepunggung ini kuat menerawang gambaran soal siapa itu figur pahlawan masa depan Indonesia.

“Menurut saya, pahlawan masa depan itu, pahlawan yang pemikiran, tindakannya, mempunyai tujuan untuk memajukan dan menyejahterakan masyarakat dan membuat negara Indonesia lebih maju,” nyala Dian, yang juga anggota bidang pengembangan usaha DPD PBL Lampung, pimpinan Ary Meizari Alfian.

Ary Meizari Alfian sendiri, lewat kawat elektronik Selasa petang, tak kalah heroik. Putra kedua, mendiang jaksa oditur militer yang pernah emban tugas negara melakukan penuntutan para terdakwa pelaku pemberontakan G30S/PKI pasca-1965, Alfian Husin itu menyebut semua orang yang lakukan terbaik atas kedisiplinan menerapkan protokol kesehatan guna cegah kendali pandemi, sesejatinya pahlawan.

Ary menaruh hormat kepada seluruh dokter, perawat, tenaga medis pasukan tempur garda terdepan penanganan kesehatan COVID-19 di seluruh wilayah hukum Indonesia. Jika bagi seluruh yang gugur termasuk rakyat korban pandemi telah dijanjikan Allah Tuhan Yang Maha Kuasa sebagai syuhada, matinya mati syahid, aku dia, mereka semua juga, sesejatinya pahlawan.

“Seluruh kaum ibu Indonesia, yang telah dengan sabar mendampingi putra dan putrinya belajar dari rumah selama masa pandemi ini, sekaligus berperan strategis sebagai manajer rumah tangga dalam cegah kendali COVID-19, mereka juga patut disemati gelar, sesejatinya pahlawan,” ujar Ary.

Menyeret-nyeret dengan menyinggung program raksasa pemindahan ibu kota negara (IKN) baru ke Kalimantan Timur yang juga “tersandera” pandemi, pria yang pernah aktif jadi Sekretaris Tim Harian DKI Lampung, barisan pejuang pengusulan kajian ilmiah Lampung sebagai alternatif calon lokasi IKN baru medio 2019 lalu itu membuncah memori kolektif seputar pahlawan.

“Melalui Koordinator Kampanye dan Publikasi Tim Nasional DKI Lampung, Saudara Muzzamil, kami pernah ajukan usulan agar ke-179 pahlawan nasional Indonesia sesuai data November 2018 (kini telah menjadi 191 orang, red) untuk diabadikan menjadi nama jalan protokol di lokasi IKN baru tersebut,” sambung Ary, memaksudkan agar generasi anak cucu kelak tak ahistoris.

Ary mengajak semua pihak untuk bisa memaknai tema raya peringatan Hari Pahlawan pertama kali di tengah situasi pandemi ini, minimal dengan menjadi pahlawan bagi diri sendiri.

“Saudara-saudaraku sebangsa setanah air, dengan semangat kerukunan, mari kita bersama-sama berusaha, agar perang melawan pandemi ini dapat segera kita sudahi. Mari kita patuhi protokol kesehatan. Itu. Jadilah patriot, jadilah flamboyan. Jadilah pahlawan keluarga, pahlawan gerakan 3M, pahlawan kemanusiaan,” pesan kunci Ary Meizari Alfian.

Selamat Hari Pahlawan. Tetap tegar, bugar semangat, dan tetap tersenyum. Badai pandemi ini pasti akan berlalu. Merdeka! (SUL/Muzzamil)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top