Ekonomi

Jadi Penyumbang Kopi Nasional, Nilai Tawar Biji Kopi Masih Rendah

Petani kopi Lampung Barat/Ist

LAMPUNGBARAT – Lampung Barat terkenal dengan produksi kopi robustanya yang tinggi dan menjadi penyumbang terhadap produksi kopi nasional. Selain bertani sayuran, sebagian besar masyarakatnya juga berprofesi sebagai petani kopi.

Namun sayangnya, meski kopi asal Liwa ini sudah terkenal dan di ekspor ke mancanegara, nilai tawar produksi biji kopi di Lampung Barat justru masih rendah. Penyebabnya lantaran kualitas biji kopi yang dihasilkan masih asalan.

Kadis Perkebunan dan Peternakan Lampung Barat, Tri Umaryani mengatakan, banyaknya biji kopi asalan yang dihasilkan lantaran petani memiliki keterbatasan pengetahuan dalam penanganan pasca-panen.

“Petani umumnya tidak memahami tentang bagaimana cara menghasilkan biji kopi kering yang memenuhi standar jual. Biji kopi yang dihasilkan umumnya masih kualitas asalan sehingga nilai jualnya rendah,” kata dia dalam kegiatan pembinaan melalui temu bisnis yang diikuti perwakilan pelaku usaha kopi, petani dengan menghadirkan tim CSR dari perusahaan PT Torabika untuk pembinaan, Kamis (1/3).

Baca Juga:  BPS Lambar Gelar FGD LBDA Tahun 2019 dan Sosialisasi Simdasi

Tri menambahkan, masalah lainnya berupa masih terbatasnya sarana dan prasarana yang dimiliki petani. Saat menjemur hasil panen petani kebanyakan menggunakan media tanah.

“Masih banyak petani yang menjemur kopinya di atas tanah secara langsung. Akibatnya kualitas biji kopi yang dihasilkan juga berpengaruh,” kata dia.

Disamping itu, dalam proses perawatannya, petani masih menggunakan racun rumput secara terus-menerus untuk mengatasi gulma. Inilah yang menyebabkan kualitas tanah menurun dan berimbas pada tanaman kopi itu sendiri.

Atmo dari tim CSR PT Torabika, menjelaskan, pihaknya siap untuk memberikan pembinaan kepada para petani maupun pihak pelaku usaha kopi dalam menentukan kualitas biji kopi standar.

Ia menjelaskan, biji kopi yang ditampung PT Torabika, sifatnya juga masih asalan tapi ada standar minimal dan maksimalnya dengan harga basis Rp27 ribu/kg bergantung dengan kualitasnya.

Baca Juga:  Pemprov Dan KEIN Bahas Keunggulan Kopi Dan Ubi Hadapi Tantangan Industri Pertanian

Adapun standar maksimal biji kopi yang diterima PT Torabika yaitu biji hitam 1,28%, biji busuk 10,97%, biji pecah 3,35%.(*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top