Pendidikan

ITERA Hadirkan Pakar Lingkungan Jepang dalam Pengelolaan Sampah dan Polusi

Prof. Toru Matsumoto, asal University of Kitakyushu, Jepang, sebagai pemateri kunci studium generale yang diadakan di kampus ITERA/LS

BANDAR LAMPUNG – Institut Teknologi Sumatera (ITERA), menghadirkan pakar lingkungan hidup asal University of Kitakyushu, Jepang, Prof. Toru Matsumoto, sebagai pemateri kunci studium generale yang diadakan di kampus setempat, Jumat (9/8).

Acara yang diikuti oleh dosen dan mahasiswa tersebut mengusung dua topik sekaligus yakni Life Cycle Assessment for the Decision Making Tool In Urban Environmental Planning & Infrastructure dan Program Pascasarjana dan Penelitian di Fakultas Teknik University of Kitakyushu, Jepang.

Rektor ITERA, Prof.Ir. Ofyar Z. Tamin, M.Sc. Ph.D., dalam sambutannya mengatakan topik kajian tentang permasalahan lingkungan dinilai amat penting, terutama bagi Sumatera.

Sebab, selama ini negara Jepang, merupakan salah satu negara di dunia yang dinilai mampu mengatasi permasalahan lingkungannya dengan baik. Rektor juga mendorong, para dosen dapat berdiskusi lebih lanjut dengan Prof. Matsumoto terkait topik penelitian hingga kesempatan untuk melanjutkan pendidikan S3 di Kampus Kitakyushu, Jepang.

Baca Juga:  Besok, Deklarasi UM Lampung sebagai Entrepreneur Campus

Sementara di hadapan peserta studium generale, Prof. Toru Matsumoto menyampaikan negara Jepang memiliki sejarah keberhasilan dalam mengatasi polusi udara dari tahun 1960 saat industri tengah tumbuh pesat, hingga berdampak pada kebersihan udara yang sangat buruk.

Namun dalam 30 tahun terakhir, masalah tersebut dapat teratasi dengan program Zero-Emission dan Eco-Town Project yang telah membalikkan negeri penuh polusi di 1960 menjadi langit bersih dalam 30 tahun dan menjadi salah satu negara dengan udara terbersih di dunia.

Prof. Matsumoto menjelaskan mengenai Life Cycle Assessment (LCA) sebuah metode yang dapat diterapkan sebagai bahan pertimbangan suatu negara dalam menentukan keputusan teknologi apa yang tepat dibuat untuk meminimalisasi dampak buruk aktivitas industri.

“Life Cycle Assessment menjadi metode pendekatan untuk menilai seberapa besar atau kecilnya dampak pembuangan dari sebuah proses produksi Industri,” ujar Prof Matsumoto.

Terkait pengendalian sampah, Prof. Matsumoto juga membahas konsep manajemen sampah melalui skema bank sampah. Bank sampah merupakan manajemen sampah yang basisnya masyarakat yang memungkinkan orang untuk mendapatkan profit dari sampah yang didaur ulang.

Rektor ITERA, Prof.Ir. Ofyar Z. Tamin, M.Sc. Ph.D., dan Prof. Toru Matsumoto/LS

Jika sampah dapat diolah secara baik, sebenarnya sampah tidak semua diuraikan tetapi diolah untuk menjadi barang yang memiliki nilai jual.

Baca Juga:  2.600 Peserta Lolos SBMPTN ITERA

Konsep ini sangat potensial jika diterapkan di Indonesia, sebagai negara dengan jumlah penduduk yang amat besar yakni sekitar 260 juta penduduk dan menghasilkan sampah hingga 65,2 juta ton sampah.

Salah satu peserta yang merupakan dosen Program Studi Teknik Lingkungan ITERA, Sillak Hasiany Siregar, S.Si., M.Si., menilai LCA kini sedang menjadi trend penelitian dan bidang ilmu tersebut sangat berguna bagi masyarakat dalam menangani persoalan lingkungan.

Sebab apabila permasalahan lingkungan dapat teratasi maka akan berdampak bagi kesehatan, kebersihan, kenyamanan dan kualitas hidup suatu masyarakat.

Direktur ITERA International Office, Acep Purqon., Ph.D, menambahkan, studium generale tersebut menjadi praktik baik untuk Indonesia yang belajar dengan negara Jepang dalam manajemen lingkungan.

Oleh karena itu, ke depan ITERA dan University of Kitakyushu akan merancang kerjasama dalam bentuk memorandum of understanding (MoU) khususnya dalam pengiriman dosen untuk menempuh program doctoral, pertukaran mahasiswa serta melakukan riset bersama.

Baca Juga:  Pengumuman PPDB SMA se-Lampung Ditunda, Disdikbud Tunggu Putusan Gubernur

“Dengan belajar dari ahlinya, ITERA berharap dosen akan fokus untuk menyelesaikan persoalan di Sumatera. Tentunya hal itu tak dapat dilaksanakan sendiri. Jepang punya kisah sukses karena menerapkan kemitraan dengan melibatkan ABGC  yakni Academics, Business, Government, Communities,” tutur Acep.

Akademik, menurut Acep, betugas menciptakan teknologi dan membuat kawasan sains dan riset; business yakni melibatkan perusahaan lokal dan perusahaan swasta hingga mendapatkan profit sehingga tercipta win-win solution, Government, membuat regulasi pendukung zero emission dan eco-town, dan terakhir community yakni keterlibatan masyarakat dalamprogram bank sampah yang menjadi penggambaran kesadaran masyarakat akan pentingnya lingkungan yang baik dan bersih.(LS)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top