Daerah

Inspirasi dari Luthfie Hakim, Difabel yang Tak Kehabisan Karya

Ahmad Luthfie Hakim, penyandang disabilitas/MAS/Suluh

PURWOREJO – Keterbatasan fisik tak menghalangi kaum difabel untuk terus berkarya.

Salah satunya, Ahmad Luthfie Hakim (24), anak pertama pasangan Muh Yasir (55) dan Ani Wafiroh (49) warga RT 01 RW 02 Dukuh Wetan Desa Megulung Lor, Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo.

Sadar betul kondisi fisiknya berbeda dengan orang lain. Ia menyandang disabilitas setelah jatuh dari sepeda ketika usia di taman kanak-kanak.

Dokter mendiagnosa Lutfhie menderita pengeroposan tulang. Selain itu, kondisi tulang rapuh menyebabkan sering patah ketika jatuh.

Luthfie mengaku lebih dari 20 kali patah tulang kaki dan tangan.

Dengan kondisi tersebut pertumbuhan Luthfi mengalami gangguan. Meski begitu, ia mencoba senyaman mungkin dalam bekerja. Tentu tetap dengan mengedepankan kualitas, sehingga konsumennya tidak kecewa.

Perhatian besar dari orang tua dirasakan betul oleh Lutfhie. Ia tidak dikucilkan, terus dirawat bahkan tetap disekolahkan di lembaga pendidikan umum.

“Saya sekolah di SD dan MTs, saat itu berangkat SD saya berangkat dan pulang digendong ibu. Waktu sekolah di MTs Maarif Megulung Lor diantar ayah,” terangnya Luthfi, saat ditemui, Rabu (4/12).

Baca Juga:  159 Lansia di Pekon Buay Nyerupa Mendapatkan Bantuan Sembako

Kondisi fisik kurang sempurna itu pun kerap menjadi bahan ejekan teman-temannya. Namun Lutfhie mengaku cuek dan menjadikan ejekan itu angin lalu.

“Ada saja yang menggoda, tapi saya biarkan saja, saya tidak menangis. Mungkin karena saya cuek, teman-teman jadi berhenti mengejek,” tuturnya.

Lutfhie kecil tampaknya memiliki bakat wiraswasta.

Ketika MTs, ia mulai berbisnis jual beli ponsel. Lalu halauannya berubah ketika ia menggemari komputer di akhir madrasah. Lutfhie memutuskan melanjutkan sekolah di SMK Patriot Pituruh jurusan Teknik Komputer Jaringan.

Ia mengasah kemampuannya, selain ilmu yang didapat di sekolah, ia juga belajar secara otodidak menggunakan media internet. Ia pun menambah pengalaman dengan bekerja pada gerai servis komputer di Kecamatan Pituruh mulai kelas II SMK.

Lutfhie merampungkan pendidikan SMK tahun 2015 dan masih bekerja di tempat servis itu hingga 2016.

Ia membuka jasa servis komputer, printer, perangkat lunak, dan jual beli kompoten.

Baca Juga:  Besok, Audisi Komika Hunt 2020 Dimulai Perdana di Pringsewu

“Lalu saya putuskan berwirausaha, saya buka servis komputer dengan bendera LC Computer. Saya punya tabungan sedikit untuk modal usaha, tempatnya di teras rumah,” terangnya.

Luthfi mengawali usahanya tidak mudah. Konsumen kerap meremehkan kemampuannya memperbaiki komputer dan printer.

Namun, Luthfie tidak patah arang, semangatnya tetap membara. Ia kesampingkan anggapan remeh itu dan terus mempromosikan diri dan usahanya.

“Hasilnya mulai dirasakan sekitar setahun terakhir, yaitu ketika orang mulai percaya dengan kemampuan kami. Konsumen datang membawa perangkat rusak, meminta diperbaiki,” ucapnya.

Lutfhie mulai kewalahan hingga merekrut dua lulusan SMK bernama Ridho pemuda Kaliwatubumi Butuh dan Imam asal Samping Kemiri.

“Perbaikan sekarang ada terus, setiap hari rata-rata tiga konsumen datang servis komputer dan printer. Sekarang omzetnya sudah lumayan,” katanya.

Ia juga mencoba melebarkan sayap dengan merambah dunia media online dan media sosial. Lewat media itu ia dan timnya mengabarkan berbagai peristiwa yang terjadi di Pituruh.

Masyarakat pun semakin memberikan percaya, tidak sekedar sebagai ahli reparasi komputer, tetapi juga kerap diundang untuk meliput berbagai kegiatan di kecamatan.

Baca Juga:  Dion Agasi Ajak Semua Elemen Dukung Kinerja DPRD

Pria lajang ini kini mandiri, tidak lagi menggantungkan hidup dari pemberian orang tua. Bahkan Luthfie sudah bisa membantu perekonomian keluarga.

Lutfhie menyadari, kiprahnya belumlah seberapa juga belum lama. Akan tetapi, ia bangga karena dengan keterbatasannya, tetap bisa berkarya bahkan mampu membuka lapangan pekerjaan bagi pemuda sebayanya.

“Tuhan sudah menakdirkan saya kurang begini, saya syukuri. Saya kesampingkan anggapan saya difabel, yang dipikirkan adalah saya harus bermanfaat bagi orang lain,” tandasnya.(MAS)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top