Iklan
Panggung

HPN 2019: Wujudkan Pers yang Bebas, Cerdas, Digitalized, Pers yang Dewasa

Kadis Kesehatan Mesuji, Lampung, Ardi Umum (tengah) dalam satu kesempatan/Facebook

BANDAR LAMPUNG – Pers Tanah Air selain dihadapkan pada tantangan berat disrupsi peradaban era Revolusi Industri 4.0 pengancam eksistensi artifisial pekerja pers, juga tiada putus sauh gelimang tuntutan profetiknya.

Berkaca pada sejarah, notabene hanya pers yang menseriusi upaya sistemik pemajuan kapabilitas, responsibilitas, kredibilitas, integritas, kompetensi, netralitas, serta profesionalisme persnya-lah, yang akan mampu bukan saja survive dan subsisten, lebih jauh bahkan bakal jadi sejarah itu sendiri.

Selaku ‘cakar ayam’ pilar keempat demokrasi, insan pers diharap dapat menganalisis dan memberitakan segala sesuatu dengan baik, tanpa ada kepentingan atau rasa suka tidak suka, serta bekerja profesional dan netral dalam pemberitaan dan analisis politik pemerintahan.

Membuka kalimat dengan berharap semoga Hari Pers Nasional dapat menjadikan insan pers di Indonesia jadi lebih dewasa dan berkompeten, Kepala Dinas Kesehatan Mesuji, Ardi Umum menyatakan hal itu, menjawab redaksi soal komentarnya terkait HPN 2019, 7-9 Februari 2019.

“Pilar keempat demokrasi, pers Indonesia, semoga lebih demokratis,” pesan Ardi, pukul 10.28 WIB, Sabtu (9/2).

Baca Juga:  Meski Belum Masuk Nominasi, Lampung Tetap Seksi

Fenomena gegar percaya, saat publik menggugat netralitas pers di nanar gempita tahun politik, turut menggelitik harapan serupa yang diutarakan pakar pemuliaan tanaman yang aktif pula di Dewan Riset Daerah (DRD) Provinsi Lampung, Ir Saiful Hikam MSc PhD.

Pengampu mata kuliah Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Lampung (Unila), inventor benih jagung sintetik ‘Srikandi’ itu menilai, pers nasional terutama media cetak dan penyiaran TV ditengarai selalu terkooptasi pada saat pemilihan (pemilu/pilkada).

Pakar pemuliaan tanaman, dosen Agroteknologi Faperta Unila, Dr Saiful Hikam MSc PhD/Facebook

“Harapan ke depan adalah terciptanyanya pers yang bersih, bebas, cerdas dan bertanggungjawab. Aamiinnn,” tutur Hikam, dalam pesan WhatsApp-nya, Sabtu pukul 11.01 WIB.

Sorotan satu sisi lain isi dibunyikan Dr Andi Desfiandi MA, pakar ekonomi digital. Menurut ia yang saat dihubungi mengaku tengah menghadiri konsolidasi relawan pemenangan capres-cawapres Jokowi-Ma’ruf Amin di Jakarta, Sabtu malam, pers sebagai industri dewasa ini jangan jadi batu sandungan sebab itu fakta tak tertolak. Selain Yang Maha Kuasa, tak ada yang mampu mengelak.

Baca Juga:  Deklarasi Alumni, Perkuat Jokowi-Ma'ruf Amin Kuasai Teritori

Justru, tantangan disrupsi ekonomi akibat berondongan Revolusi Industri 4.0 yang serbuannya bisa mengancam menggantikan posisi pekerja pers, seperti fakta percobaan robot serupa manusia yang jadi host televisi di Tiongkok produk kecerdasan buatan, wajib ditangkap sebagai peluang digitalisasi pers.

Pakar ekonomi digital, motor Innovator 4.0 Indonesia Xtended Chapter Lampung, Dr Andi Desfiandi MA (kiri) bersama Ustadz TGB dalam sebuah acara di Jakarta, Sabtu (9/2)/Istimewa

“Pers digital, ukuran saya, capaiannya amat mungkin lebih cepat kita tapak. Sumber daya kita mumpuni untuk itu. Pers daring yang selain paperless juga secepat kilat, pers televisi yang purnadigital dan ‘genit’ segmen-oriented, pers radio yang interkoneksi streaming-nya luar biasa, itu apa bukan tanda kita siap?” urai Andi mengular.

Ketua Bravo 5 Lampung sekaligus motor Innovator 4.0 Xtended Chapter Lampung, cabang komunitas inovasi besutan politisi Budiman Sudjatmiko itu memprediksi bukan mustahil, bila ke depan hanya perusahaan pers yang siap sumber daya divisi digital khusus sebagai skuadron darat dan udara armada tempurnya-lah yang akan secara otentik masuk barisan pers penghela peradaban. Dahsyatnya, tegas ia, sudah banyak yang memulai.

Baca Juga:  Siapa Karomani, Guru Besar ke-60, rektor terpilih Unila?

“Peradaban itu sudah depan mata lho. Jadi, terlena sesaat boleh, terleha-leha jangan, hehe,” sambung dia setengah berseloroh, mengingatkan.

Oke, baiklah. Segera saja redaksi ingat teori manajemen risiko. Gimana caranya merubah tantangan menjadi peluang. Ditunggu hilang, dibuang sayang.

Mengutip klaim Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo menjelaskan pada puncak perayaan HPN 2018 di Padang, Sumatera Barat, 9 Februari tahun lalu, bobot pers Indonesia yang memiliki sekitar 47 ribu media massa (circa 2 ribuan media cetak, 674 radio, 523 televisi nasional-lokal, sisanya media daring) sebagai paling banyak di dunia, itu jumlah raksasa, untuk kerja raksasa, untuk jadi raksasa, pers digital dunia. Semoga.(LS/MZl)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top