Bandar Lampung

Haru Yenny Wahid, Kala Benny Rhamdani Abadikan Gus Dur Jadi Nama Aula & Masjid BP2MI

Kepala BP2MI Benny Rhamdani, putri kedua Gus Dur Yenny Wahid, Katib Syuriah PBNU KH Zulfa Mustofa pada prosesi peresmian Aula dan Masjid “KH Abdurrahman Wahid”, di kompleks kantor BP2MI, Jl MT Haryono Kav 52, Pancoran, Jakarta Selatan, Minggu (31/1/2021). | Foto: Yenny Wahid/BP2MI

Suluh.co — Ini peristiwa tiga hari lalu. Satu lagi hadir, saksi keharuman nama dan besarnya warisan nilai kemanusiaan peninggalan tokoh bangsa, mantan Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama (PBNU), mantan Ketua Dewan Syuro DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Presiden ke-4 Indonesia, mendiang KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kepada rakyat Indonesia.

Adalah aktivis 1998, tergabung di Persatuan Nasional Aktivis 98 (Pena 98) pimpinan eks pentolan Forum Kota (Forkot), dua periode anggota DPR/MPR Fraksi PDI Perjuangan 2014-2019 dan 2019-2024 Adian Napitupulu, saksi itu. Yakni, eks anggota DPD/MPR dapil Sulawesi Utara 2014-2019 yang era Kabinet Indonesia Maju ini ditugasi oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) jadi Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), Benny Rhamdani.

Namun kali ini, kesaksian atau testimoni tak datang dari Brani, sapaan Benny, melainkan dari Yenny Zannuba Ariffah Chafsoh Wahid, atau Yenny Wahid, putri kedua Gus Dur.

Adik dari Alissa Qotrunnada Wahid, kakak dari Anita Hayatunnufus Wahid, dan Inayah Wulandari Wahid, empat bersaudara buah pernikahan Gus Dur dan mantan ibu negara, Sinta Nuriyah Wahid, terbaru menyampaikan reportasenya seputar suasana kebatinan, apresiasi, juga ungkapan terima kasihnya selaku bagian pewaris biologis sekaligus ideologis sang ayah, kepada BP2MI.

Untuk dan atas nama apa? Simak kata Yenny, melalui blog pribadinya Selasa (2/2/2021) siang, seperti disitat pada hari yang sama.

“Hari Minggu, 31 Januari 2021 bertepatan Harlah NU, saya memenuhi undangan pak Benny Ramdani (Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia) untuk peresmian masjid di kompleks perkantoran BP2MI,” ia mewartakan. Yenny pernah jadi wartawan.

Lulus kuliah, Sarjana Desain dan Komunikasi Visual Universitas Trisakti ini 1997 dan 1999 pernah koresponden The Sydney Morning Herald dan The Age Melbourne, dua koran Australia, meliput di Timor-Timur (Timtim) dan Aceh, tak disangka sepekan sekembali dari Timtim pascateror dirinya oleh milisi, liputannya soal Timtim pascareferendum diganjar Walkley Award, dan berhenti saat sang ayah terpilih presiden.

“Apa ya yang menarik sehingga saya semangat untuk hadir?” Yenny bertanya. Jelas ada sesuatu yang penting, melatari keputusannya hadir, hari ke-32 usai 11 tahun Haul Gus Dur 30 Desember 2020 lalu itu.

Ia mengafirmasi, “Masjid yang diresmikan ini diberikan nama Masjid KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), suatu kehormatan bagi saya dan keluarga nama Gus Dur diabadikan sebagai nama Masjid,” unggahan, sekaligus jawabannya.

Baca Juga:  Pakai Masker Ya, Biar Ngga Dicium Corona

Senada penasaran publik latar pemberian nama masjid, “Saya kemudian bertanya ke Pak Benny alasan memilih nama Gus Dur, beliau dengan jelas menjawab ingin mengenang Gus Dur sosok yang memiliki keberpihakan dan kepedulian terhadap pekerja migran Indonesia,” imbuh Yenny, kelahiran Jombang, 29 Oktober 1974 ini.

Mengutip Benny, ia menuturkan, Gus Dur memiliki pengalaman pribadi menjadi pekerja migran di luar negeri ketika kuliah.

“Saya ingat ketika Gus Dur bercerita semasa studi di luar negeri atas beasiswa yang hanya cukup untuk membiayai kuliah, sehingga beliau harus menjadi part timer bersih-bersih kapal di Belanda, dan pekerja pemecah batu,” kenang Yenny, Direktur Wahid Institute diriannya sejak 2004 itu hingga kini.

Sebagai orang yang besar di lingkungan pesantren dan NU, lanjutnya, tentu Gus Dur menjalankan prinsip Islam yang peduli kemanusiaan dengan menuangkannya dalam kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada Pekerja Migran Indonesia (PMI).

“Terima kasih BP2MI yang telah menjadikan Gus Dur sebagai inspirasi, semoga kita terus melakukan upaya perlindungan bagi pekerja migran kita,” takzim istri dari Dhohir Farisi itu.

Unggahan Yenny, menggenapi sambutannya terharu saat peresmian. “Saya mewakili keluarga besar mengucapkan terima kasih kepada jajaran BP2MI, khususnya Kepala BP2MI. Saya merasa terharu sekali, karena memang persoalan PMI ini sangat dekat dengan Gus Dur dan keluarganya,” ujarnya, disitat dari laman resmi BP2MI, diakses di Bandarlampung, Selasa malam.

Mengistilahkan ikhtiar BP2MI itu, “suatu hal yang baik”, Yenny berkisah bahwa dulu Gus Dur seorang PMI saat masih kuliah di luar negeri. “Beliau berusaha mendapatkan penghasilan, karena beasiswanya hanya cukup untuk biaya kuliah. Untuk itu, hal ini merupakan suatu hal yang sangat baik.”

Bukan hanya pada penyematan nama, lugas Yenny. “Tetapi ini niatan baik dari jajaran BP2MI yang ingin memberikan perlindungan kepada PMI melalui penghormatan nilai-nilai kebaikan dan jiwa manusia,” papar pembina ormas Barisan Kader (Barikade) Gus Dur ini, juga jebolan S2 Harvard Kennedy School of Government di bawah beasiswa Mason, AS.

Kesempatan yang sama, kepada Yenny yang pernah didapuk jadi Stafsus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono lalu mengundurkan diri dan pada era periode kedua pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin Januari 2021 ini genap setahun keputusannya menerima pinangan Menteri BUMN Erick Thohir jadi Komisaris Independen Garuda Indonesia demi bisa menyuarakan aspirasi publik, menghadirkan perspektif terciptanya tata kelola perusahaan lebih baik itu, sambutan Benny kontemplatif.

Baca Juga:  Tari Rudat Gagasan Eva Dwiana Pecahkan Rekor Muri

Mengambil momen Harlah ke-95 NU, Benny –mengingatkan kita lagi dengan menyebut Gus Dur guru bangsa, yang berkontribusi pada sejarah pembelaan terhadap PMI. “Nahdhatul Ulama melahirkan tokoh-tokoh besar yang memiliki peran dan kontribusi besar bagi Indonesia, salah satunya Guru Bangsa, tokoh yang memiliki keberpihakan bagi wong cilik, rakyat jelata, kaum tertindas, kaum minoritas dan kaum lemah, yakni KH Abdurrahman Wahid,” jelasnya, peresmian di bawah pandu ketat protokol kesehatan cegah kendali COVID-19, hari Minggu itu.

Gus Dur, tutur tokoh Bolaang Mongondow nun kelahiran Bandung 3 Maret 1968 itu, memiliki sejarah pembelaan terhadap PMI, sebelumnya TKI (Tenaga Kerja Indonesia). “Gus Dur mengajarkan kepada kita semua bahwa perlindungan tidak cukup dengan retorika, namun yang paling penting adalah tindakan nyata,” ujarnya.

“Ketika masih hidup, Gus Dur selalu hadir dan menjadi tumpuan harapan bagi para PMI dan keluarganya yang kerap kali mengalami ketidakadilan dan ketidakberpihakan,” kata mantan Wakil Sekretaris Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Manado (1993-1994), dua periode Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Manado 1994-1997 dan 1997-1999 ini.

Ujarnya, sejarah mencatat langkah-langkah konkret yang dilakukan Gus Dur, diantaranya ketika memperjuangkan nasib Siti Zaenab, seorang PMI asal Desa Martajasah, Bangkalan, Madura, yang bekerja di Arab Saudi dan terancam hukuman mati.

“Gus Dur langsung berdiplomasi dengan Raja Arab kemudian berhasil meloloskan PMI tersebut dari hukuman mati pada 1999, bahkan kemudian keluarga Siti Zaenab diundang langsung ke Istana,” ingat Benny.

Kedua, rumah Gus Dur di Ciganjur selalu terbuka untuk PMI. “Bahkan pernah ada 100 PMI korban deportan dari Malaysia yang dipulangkan tanpa digaji setelah bekerja berbulan-bulan, ditampung di Ciganjur tahun 2005 setelah diplomasi Gus Dur bertemu Wakil PM Malaysia Datuk Seri Najib Tun Razak,” imbuh Direktur Eksekutif Komite Perjuangan Pembaruan Agraria (KPPA) Sulawesi Utara 2003 hingga kini, bekas dua periode Ketua PW GP Ansor Sulawesi Utara 2004-2009 dan 2009-2014 tersebut.

Ketiga, kasus Adi bin Asnawi, PMI asal Desa Kediri, Lombok Tengah, NTB yang terancam hukuman mati di Malaysia atas tuduhan terlibat pembunuhan majikannya.

“Gus Dur langsung menyurati PM Malaysia, Abdullah Ahmad Badawi setelah proses hukum panjang 2002-2010 untuk bebaskan Adi. Akhirnya Adi dipulangkan ke Indonesia 9 Januari 2010,” sambung Benny, yang pernah tiga periode (2009-2014), jadi anggota DPRD Sulawesi Utara Fraksi PDI Perjuangan.

“Hari ini kita rindu pemimpin atau tokoh yang layak menjadi teladan, yang bekerja dengan segenap hati, bukan basa-basi dan sekedar lips service semata. Kita kehilangan tokoh yang dengan penuh keikhlasan, yang selalu menjadikan tugas dan amanat pelayanan sebagai ladang ibadah,” pehobi sepakbola, eks Ketua Asosiasi Kota PSSI Kotamobagu (2015-2019), Ketua Bidang Organisasi DPP Partai Hanura (2016-2020), dan eks Direktur Kampanye Tim Kampanye Nasional Koalisi Indonesia Kerja (TKN-KIK) Joko Widodo-Ma’ruf Amin, pada pilpres 2019 lalu.

Baca Juga:  Kejaksaan Sangkal 1 Orang di Kasus Korupsi Pajak Minerba Sudah 2 Kali Mangkir Sebagai Tersangka

Di hadapan hadirin, Benny yang juga Wakil Ketua Pimpinan Pusat GP Ansor 2015-2020, dan kini didaulat Wakil Ketua Umum DPP Partai Hanura 2020-2024 mendampingi ketua umum Oesman Sapta Odang (OSO) itu, Benny memohon izin Yenny.

“Untuk itu kami mohon izin untuk jadikan nama Aula BP2MI dan juga Masjid BP2MI agar kami dapat selalu mengingat dan meneladani sosok Gus Dur,” pinta dia.

Tempat yang sama, Katib Syuriah PBNU KH Zulfa Mustofa juga ikut berbangga terhadap peresmian ini karena dilakukan bertepatan Harlah NU, bahkan dengan menggunakan nama Gus Dur, salah satu tokoh NU yang sangat diteladani.

Pengingat, sejarah PMI bermula sejak rezim kolonial Hindia Belanda mengirimkan 94 TKI gelombang pertama terdiri 61 pria dewasa, 31 wanita, dan 2 anak-anak, diberangkatkan dari Batavia (Jakarta) 21 Mei 1890 dengan Kapal SS Koningin Emm, singgah di Belanda, tiba di Suriname 9 Agustus 1890. Hingga 1939 telah 32.986 TKI diangkut 77 kapal laut, ke koloni Belanda di Amerika Selatan itu.

Diketahui, migrasi TKI ke luar negeri melalui penempatan buruh kontrak ke Suriname ini berasal dari Jawa bahkan Madura, Sunda, dan Batak untuk dipekerjakan di perkebunan, menggantikan tugas para budak asal Afrika yang telah dibebaskan 1 Juli 1863 sebagai wujud pelaksanaan politik penghapusan perbudakan sehingga para budak itu beralih profesi serta bebas memilih lapangan kerja yang dikehendaki. Dampak pembebasan itu, perkebunan di Suriname terlantar, akibatnya perekonomian Suriname yang bergantung dari hasil perkebunan turun drastis.

Dasar pemerintah Belanda memilih TKI asal Jawa ialah rendahnya tingkat perekonomian penduduk pribumi Jawa akibat meletusnya gunung yang meski tergolong termuda dalam kumpulan gunung berapi selatan Jawa namun telah 68 kali meletus sejak 1548, disebut pula sebagai teraktif di dunia, Gunung Merapi pada 1872. Serta, padatnya penduduk di Pulau Jawa.

 

Reporter : SUL/Muzzamil

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top