Pendapat

Guru, Tak Habis-Habis Belajar Demi Memajukan Kompetensi

Oleh: RatihWindari, S.Kom
Guru/Kaprodi Multimedia SMK Negeri 4 Bandar Lampung

“Jika kita berhenti belajar, apa sapaan yang sesuai ditujukan kepada kita? Apakah bekas atau mantan pembelajar?” Terus semangat karena hidup adalah tempat pembelajaran“

ARTIKEL ini penulis tulis dari perspektif penulis sebagai guru dengan tujuan merefleksi diri terhadap kedua kata pada judul diatas yang penulis simpulkan sebagai kata kerja. Terlebih sebagai guru produktif SMK Negeri 4 Bandar Lampung Kompetensi Keahlian Multimedia yang sering dicolek oleh perkembangan aplikasi multimedia berbasis teknologi digital, tiap membuka mata selalu saja ada aplikasi baru launching ataupun baru penulis ketahui.

Terkadang harus habis-habisan belajar, namun tak jarang pula kudu tak habis-habis belajar. Baik harus belajar dari buku, aplikasi, internet maupun media lainnya. Barang tentu tak sebatas belajar tentang seluk beluk penguasaan aplikasi multimedia, sebagai guru jelas harus lengkap satu paket. Punya kemampuan manajerial menghadapi permasalahan belajar siswa, khatam kompetensi yang mesti diwariskan ke siswa siswi, memberi contoh tauladan, menginspirasi dan menumbuhkan hasrat berkarya siswa, sampai pada hal-hal yang tak bisa dikatakan remeh temeh yaitu tanggung jawab membentuk sifat mulia dan sikap berintegritas siswa.Semogasemuadapatkitamilikisebagaicontoh para pesertadidiknya.

Baca Juga:  Sekolah tapi Tidak Belajar

Tatkala penulis dihadapkan dengan sederet tagihan untuk menjadi guru profesional, saat penulis dipersuakan dengan tim Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk mengikuti pelatihan dan ujian menjadi asesor kompetensi demi lulusan siswa SMK Negeri 4 Bandar Lampung dapat mengikuti sertifikasi kompetensi dengan lancar, penulis habis-habisan belajar agar yang dapat lulus dan memiliki kecapakan penuh pada kompetensi yang dipersyaratkan tersebutsertamempunyaikompetensi yang baikdibidangnyamasing-masing.

Sementara, ketika kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) diganti menjadi kurikulum 13 (K13) dimana kurikulum pengganti ini telah mendapatkan beberapa kali revisi dan penyempurnaansehingga mata pelajarannya dan tagihan kompetensinya pun ikutan berubah, penulis tak habis-habis belajar agar menguasai aplikasi untuk tagihan kompetensi yang baru, semisal Aplikasi Flash atauBlender untuk Mata Pelajaran Animasi 2 Dimensi Dan  3 Dimensi, Aplikasi Simulasi Cisco Packet Tracer sebagai alat bantu pembelajaran mata pelajaran Sistem Komputer, dan menyisir aplikasi-aplikasi lain yang sesuai guna mendukung pembelajaran dengan kurikulum yang baru.

Mari kita kembali pada perkaratak habis-habis belajar. Tak habis-habis belajar tentang cara mengajar peserta didik yang selalu mengalami perubahan dari masa ke masa. Gaya mengajar di era kemudahan mengakses informasi seperti sekarang ini juga otomatis tak bisa disamakan dengan gaya mengajar jaman ketika internet merupakan barang yang mewah dan hanya dapat dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu saja.

Baca Juga:  Buruk Wajah Cermin Dibelah, Gubernur Makar ?

Sementara di era ini, era pulsa handphone yang tergantikan dengan kuota data, siswa bisa mendapatkan ilmu dari berbagai sumber yang tersedia melimpah ruah di dunia maya, guru tak lagi menjadi sumber pengetahuan satu-satunya sehingga kesiapan siswa belajar tak lagi diukur dari fisik buku pelajaran yang mereka bawa, siswapun sudah menjadi bagian dari paperless society. Lantas jika ada siswa yang tak meletakkan buku pelajaran dan alat tulis di atas meja dan guru memarahinya karena itu merupakan pertanda siswa tidak memiliki kesiapan belajar, hanya akan membuat siswa tersenyum dan aneh rasanya.

Selanjutnya, ayo bergeser ke perkarahabis-habisan belajar. Habis-habisan belajar ikhwal menjadi guru kreatif plus inovatif agar siswa tak hanya mendapat ilmu saja melainkan juga unggul dan kompetitif. Beruntungnya penulis bertugas di SMK Negeri 4 Bandar Lampung  yang mana banyak rekan-rekan guru memiliki spirit untuk habis-habisan belajar, penulis pun terbawa arus itu.

Baca Juga:  Penggunaan Media Pembelajaran di Masa Pandemi Menarik Minat Peserta Didik

Platform untuk meng-upgrade kompetensi akademis sebagai seorang guru dengan berbagai macam fasilitas semisal pelatihan online, seminar online, teacherpreneur, dan e-courses. Penulispun menjadi bagian dari komunitas platform tersebut. Pokonya semangat untuk mencari metode mengajar yang tepat sesuai dengan gaya belajar siswa.

Kesimpulannya, guru sebagai pembelajar sepanjang hayat merupakan suatu keniscayaan. Bagaimana mungkin seorang guru berhenti untuk menjadi pembelajar sedang ia setiap hari tugasnya mencerdaskan anak-anak bangsa yang akan menjadi penerus kemajuan bangsa di masa depan. Akan dibawa ke arah mana bangsa ini jika guru nya berhenti menjadi seorang pembelajar? Semoga tulisan ini menginspirasi banyak pihak dan bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Salam sehat buat kita semua.(*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top