Modus

Ganti Rugi untuk Negara Belum Selesai, Sugiarto Wiharjo alias Alay Justru Digugat

Sujarwo, selaku kuasa hukum daro Sugiarto Wiharjo alias Alay/TN/Suluh

BANDAR LAMPUNG – Ingin lunasi ganti rugi Negara, Sugiarto Wiharjo alias Alay, diwakili oleh kuasa hukumnya, Sujarwo, justru menjalani sidang perkara perdata sebagai pihak tergugat atas gugatan pembantalan perjanjian yang ia buat beserta dengan 3 rekan bisnisnya yang dinilai telah merugikan para penggugat, di Pengadilan Negeri Tanjung Karang, Rabu (15/5).

Pengadilan pun langsung mengahadirkan pihak penggugat yaitu Puncak Indra, Budi Kurniawan, serta Budi Winarto.

Alay digugat beserta dengan dua pihak lainnya, dikarenakan dianggap telah menjebak para penggugat untuk memenuhi keinginannya, yang dalam hal ini pihak penggugat dimintai sejumlah pembagian atas penjualan aset yang di beli oleh pihak penggugat dari Alay, sesuai dengan perjanjian yang telah dibuat oleh pihak penggugat dan para tergugat.

Baca Juga:  Pemprov Lampung Gelar Pasar Murah di Tiga Titik

Perjanjian tersebut dibuat oleh kedua pihak, lantaran terpaksa dilakukan oleh pihak penggugat untuk dapat memperlancar peralihan aset yang mereka beli dari Alay dan menjadi solusi lain untuk persetujuan Alay mengalihkan aset yang telah dijaminkan dirinya ke pihak bank, lantaran sejumlah uang yang diminta oleh Alay tak dapay dipenuhi oleh pihak penggugat.

Sujarwo, kuasa hukum Alay mengatakan, gugatan yang dilakukan oleh pihak lain ini terkait suatu perjanjian yang tertuang dalam akta notaris nomor 26 dan 27.

“Tadi ini sidang mediasi dalam perkara gugatan, antara Puncak Indra dan Budi Kurniawan dengan Sugiarto Wiharjo bersama istrinya Meriana,” ungkap Sujarwo.

Terkait perjanjian, Sujarwo pun menuturkan untuk nomor 26 antara Puncak Indra dan Alay, ada perjanjian penyerahan dua aset yakni Pantai Queen Arta dan gedung Eks 21 Sukaraja.

Baca Juga:  LBH Bandar Lampung Minta Korban Kekerasan Seksual di Unila Melapor

“Luas Queen Arta kurang lebih 8,8 hektare, dan gedung eks 21 sekitar 3 hektare. Selanjutnya dalam perjanjian disebut apabila aset terjual dipotong Rp 25 miliar sebagai kewajiban Alay dan sisanya dibagi dua,” terangnya.

“Selanjutnya perjanjian akta notaris nomor 27 yang mana Meriana menyerahkan gudang sekitar 7 hektar, dan itu juga bunyinya sama bahwa alay punya kewajiban Rp 25 miliar, jadi kalau dijual dipotong Rp 25 dan sisanya dibagi dua,” tambahnya.

Sidang lanjutan perkara ini akan dilanjutkan pada minggu depan, dengan agenda sidang yaitu mediasi antara pihak penggugat dan tergugat.(TN)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top