Daerah

Dwi Puspita Ningrum Gelar Kelir pada Hari Wayang Dunia 2019 di ISI Surakarta

SURAKARTA – Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, sukses menggelar berbagai kegiatan dalam rangka memperingati Hari Wayang Dunia (HWD) yang jatuh pada hari ini Kamis (7/11).

Kegiatan yang telah berlangsung dari tanggal 3-6 November 2019 ini, diantaranya lomba mewarnai wayang anak, seminar nasional, ruwatan dan berbagai pagelaran wayang kulit.

Pada kesempatan itu, HWD 2019 juga menggelar pementasan wayang oleh dalang perempuan asal Purworejo, Nyi Dwi Puspita Ningrum, pada (5/11) lalu, di Teater Besar ISI Surakarta, dengan membawakan lakon ‘Rebut Kikis Tunggarana’.

Adapun sinopsis lakon yang dibawakan Nyi Dwi Puspita Ningrum ialah, Kadipaten Tunggarana adalah bumi perdikan yang subur makmur dan sejahtera. Dikuasai oleh Prabu Seteja Raja Trajutrisna yang sewenang-wenang, dan menjadikan rakyat menderita.

Baca Juga:  Pemkab Lampung Barat Raih WTP Kedelapan

Adipati Wahana yang merupakan penerus tahta kadipaten Tunggarana merasa sedih dan prihatin, ia segera pergi ke negara Pringgadani untuk memohon perlindungan, karena Tunggarana dahulu adalah bagian dari negara Pringgadani.

Hal tersebut membuat Prabu Seteja murka dan memerintahkan prajurit untuk menangkap Adipati Wahana hidup atau mati. Terjadilah peperangan, hingga Prabu Anom Gathutkaca harus bertarung dengan Prabu Seteja.

Semar yang mengetahui konflik tersebut, mengajak Gathutkaca, Seteja, beserta orang tua mereka, dan Adipati Wahana, untuk mencari penyelesaian.

Menurut data sejarah dan keterangan yang disampaikan oleh Adipati Wahana dan ayahnya, Resi Sumberkatong, diputuskan bahwa Tunggarana menjadi bumi perdikan di bawah pemerintahan negara Pringgadani.

Prabu Seteja tidak terima dan menantang Gathutkaca untuk menunjukkan kekuatan, terjadilah pertempuran sengit. Gathutkaca tidak berkeinginan menguasai Tunggarana, hanya ingin menerima tantangan adu kekuatan Prabu Seteja.

Baca Juga:  Ridwan Kamil Serahkan Bantuan 1 Miliar ke Lampung Selatan

Di tengah pertempuran, Bambang Pamegat Tresna yang merupakan putra dari Raden Arjuna, melerai dan menyadarkan Prabu Seteja dari tindakannya yang keliru. Akhirnya Tunggarana di serahkan, menjadi bumi perdikan.(MAS)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top