Iklan
Peristiwa

Dua Ekor Ular Piton Diamankan Warga Dekat Rumah Dinas Gubernur

Ular Piton/Ist

BANDARLAMPUNG – Efrat menangkap dua ular piton atau sanca kembang (Reticulatus python) dari bak kamar mandi dan lubang kloset tetangganya, yang berjarak dua ratusan meter dari Mahan Agung, Rumah Dinas Gubernur Lampung dan Kantor Pemkot Bandar Lampung, Selasa (20/2).

Kedua ular yang panjangnya empat meter lebih tersebut, kata Efrat, warga Jalan Dr Susilo, Gang Kenanga, Kota Bandar Lampung, dirawat dalam kotak kaca di depan rumahnya tepi gang.

Selain kedua ular tersebut, ada satu ular serupa yang ditangkapnya dari plafon rumah warga belakang SDN, Lungsir, tiga bulan lalu.

Efrat juga hampir menangkap piton dekat rumahnya tiga pekan lalu.

Menurut Efrat, sekitar pukul 06.00 WIB, empat bulan lalu, tetangga depan rumahnya kaget melihat piton dalam bak mandi. Dia lalu datang dan mengamankan ular tersebut.

Baca Juga:  Air Laut Naik, BMKG Pastikan Bukan Tsunami di Pesisir Lampung Selatan

“Biasanya, ular piton tidak sendiri, ada pasangannya,” kata Efrat.

Benar saja, sorenya, tetangganya kembali minta tolong karena melihat kepala ular piton muncul dari lobang kloset.

Efrat kembali berhasil menangkap ular tersebut hidup-hidup. Ular dimasukkan ke dalam kotak yang sama dengan ular yang tertangkap sebelumnya.

Kini, ada tiga ular piton dalam kotak kacanya.

Menurut Efrat, dia bukan pawang ular. Namun, sewaktu bekerja di perkebunan besar dan hutan, Efrat mempelajari karakter hewan melata liar tersebut.

“Yang penting, kita bisa menguasai diri, tidak gugup, ketika menangkap ular piton,” katanya.

Karena, menurut dia, semakin gerogi, ular bisa semakin agresif.

Ketika kepala ular telah dipegang, tubuh ular secara alamiah berusaha melilitnya.

Baca Juga:  PAN Lampung Benarkan Zainudin Hasan dan Agus BN Dibawa ke KPK

“Ketika melilit, kita berusaha santai, tidak tegang,” katanya.

Karena, semakin tegang, ular akan semakin mempererat lilitannya.

 

“Kita berusaha sesantai mungkin melepas lilitan ular,” katanya.

Ketiga ular piton jadi hiburan tersendiri bagi anak-anak sekitar rumahnya. Mereka sesekali mengajak kawan sekolahnya menonton ular yang beratnya rata-rata sekitar delapan kilogram tersebut.

Ada yang berminat membelinya. Namun, Efrat memilih merawatnya karena khawatir dibunuh warga.

Dia memberikan makan ular-ularnya yang  dengan tikus got setiap empat bulanan.

Dia memperkirakan ular keluar dari persembunyian karena habitatnya yang semakin sempit.

Dulu, pemukiman Gang Kenanga, bekas sawah dan tebing kebun serta semak-semak.

“Ular tersebut memanfaatkan saluran air, got, dan lainnya untuk berpindah dan mencari mangsa,” ujar Efrat.(*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top