Iklan
Bandar Lampung

Dialog RRI, Andi Desfiandi: Lampung Berpeluang Didorong Jadi Ibu Kota Negara

Akademisi FISIP Unila Dr Arief Sugiono MSi (kiri), penyiar RRI Bandarlampung Ferry Nuryadi (tengah) dan Inisiator FGD DKI Lampung Dr Andi Desfiandi SE MA pada siaran langsung Dialog Pagi “Mendorong Lampung Menjadi Ibu Kota Negara”, di studio RRI Pro 1, Pahoman, Bandarlampung, Kamis (16/5/2019) pagi. Foto: Muzzamil | #dkilampung

BANDAR LAMPUNG – LPP (Lembaga Penyiaran Publik) RRI (Radio Republik Indonesia) Bandarlampung kembali berkontribusi melarung tema besar pemajuan transformasi wacana yang kini manifes jadi rencana perpindahan ibu kota pusat pemerintahan negara RI pengganti DKI Jakarta.

Bertempat di Studio Pro 1, Jl. Gatot Subroto 26 Pahoman, Bandar Lampung, Kamis (16/5) pukul 08.00 hingga 09.00 WIB, kerabat siar RRI Bandarlampung mengudarakan siaran program interaktif Dialog Pagi bertema “Mendorong Lampung Menjadi Ibu Kota Negara”.

Dipandu penyiar RRI kenamaan Ferry Nuryadi, hadir dua narasumber, inisiator FGD DKI Lampung Dr H Andi Desfiandi SE MA, dan pengamat sosial politik FISIP Universitas Lampung (Unila) Dr Arief Sugiono MSi.

Mengawali perbincangan, saat jarum jam menunjukkan pukul 08.02 WIB, presenter menyilakan Andi Desfiandi menapak tilas kiprah singkat FGD DKI Lampung.

“Terima kasih Bang Ferry. Jadi pada tahun 2017 awal, Pak Jokowi kembali mengemukakan mengenai wacana untuk memindahkan ibu kota pemerintahan RI di luar Jakarta. Nah, kemudian atas pertimbangan tersebut dan keyakinan kami dengan teman-teman kemudian kita membentuk yang namanya FGD, Focus Group Discussion Lampung Ibu Kota Pemerintahan RI,” Andi membuka.

Baca Juga:  Polemik ‘Ayam Sayur’, Sumarju Saeni Tak Bermaksud Hina Perum Bulog  

“Nah sebelumnya, sebenarnya tahun 2010 sudah ada juga teman-teman kita dari Unila dan juga dari UBL yang juga sudah mengkaji mengenai kemungkinan Lampung menjadi ibu kota pemerintahan RI,” sambung dia.

Di tahun 2017, bulan Agustus, sambung Andi lagi, pihaknya bersama beberapa rektor, Ketua KADIN, HIPMI, kemudian juga tokoh masyarakat lainnya, termasuk juga ada beberapa bupati, dan pejabat Pemprov Lampung, mengadakan FGD.

“Yang pertama di Emersia. Di situ kita masing-masing dari narasumber yang cukup banyak ya, ada sekitar 30 lebih, menyampaikan pandangan mereka masing-masing terhadap kemungkinan Lampung untuk menjadi ibu kota pemerintahan RI.”

Dipancing tanya ihwal hasil kajian dan potensi dukungan luas masyarakat Lampung terhadap perjuangan kolektif pengusulan kajian #dkilampung, Andi bisa memahami munculnya sentimen persaingan sehat antar daerah kandidat calon lokasi ibu kota negara.

Menurut dia, banyak pertimbangan keunggulan kompetitif Lampung yang mengemuka dan mewarnai kelindan dinamika pengusulan kajian tersebut. “Oke, barangkali yang paling utama sebenarnya, pertama, apakah memang harus dipindahkan ibu kota RI ini di luar Jakarta. Jadi memang wacana ini kan sejak zaman Pak Soekarno dulu sudah dikemukakan, hingga berlanjut terus di zaman Pak Harto, Bu Mega, Pak SBY dan terakhir Pak Jokowi,” ulasnya.

Baca Juga:  Lima Kata Tentang Kemerdekaan

Andi yang selain di Lampung juga bermukim tetap di Jakarta itu sangat setuju dengan pandangan kritis bahwa beban Jakarta sebagai ibu kota pusat pemerintahan sekaligus pusat ekonomi dan bisnis Indonesia saat ini semakin lama semakin berat.

“Dari kajian beberapa ahli, kerugian materiil dan immateriil akibat dampak kemacetan lalu lintas, bencana banjir, dan pemborosan penggunaan BBM di Jakarta bisa mencapai Rp100 triliun per tahun.”

Belum lagi, terus mantan Rektor IBI Darmajaya 2005-2015 itu, dampak psikologi warga Jakarta yang tiap hari harus meluangkan waktunya berjam-jam hanya untuk menikmati jebakan kemacetan lalu lintas.

Ujar dia lagi, beberapa alasan rasional ini muaranya meyakinkan negara untuk memantapkan kematangan rencana program perpindahan ibu kota negara dengan skenario terpilih berbasis pemisahan fungsi, memindahkan pusat pemerintahannya saja.

“Jadi sudah sewajarnya, ibu kota pusat pemerintahannya saja yang dipindah. Pusat bisnis, pusat ekonomi tetap di Jakarta. Ini menurut kami adalah keputusan yang tepat,” tegas Ketua Yayasan Alfian Husin ini pula.

Smart, Green, and Beautiful

Hal kedua dan cukup futuristis Andi kemukakan pula. “Seperti apa sih, ibu kota negara yang baru itu nantinya? Kita juga ketahui bersama, belum ada kota di Indonesia ini yang benar-benar dirancang dari awal secara baik. Jakarta contohnya, menjadi seperti sekarang tanpa direncanakan. Surabaya juga begitu. Berkembang kotanya, begitu dinamis tanpa ada perencanaan matang sebelum-sebelumnya. Termasuk juga banyak ibu kota  kabupaten kota dan provinsi juga begitu,” dalih Andi berargumen.

Baca Juga:  Bangun IKN Baru Gunakan Cara Luar Biasa

Sehingga, ujar salah satu ketua DPP Asosiasi Penyelenggara Perguruan Tinggi Indonesia (Apperti) ini menarik simpul, dengan wacana ini, ibu kota negara baru nanti harusnya dirancang dengan benar dan baik.

“Dan konsepnya seperti yang disampaikan oleh kepala negara kita adalah smart, green, and beautiful. Ia harus smart city, green city, dan harus beautiful. Dan ini yang menjadi poinnya,” Andi menjelentrehkan.

Disamping itu, ibu kota negara yang baru nanti juga harus berkemampuan untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi kawasan sekitar, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi perekonomian nasional.

Pantauan redaksi, dialog berlangsung menarik. Sepanjang siaran, hotline 0721-267920 yang diawaki perabot siar, Reza dan Niken Wulandari, juga layanan SMS Pro 1 di 089621909909 banjir tanya pendengar setia RRI.

Usai dialog, sebelum pamit kedua narasumber berfoto bersama dengan Kepala Stasiun (Kepsta) LPP RRI Bandar Lampung, Dra Hj Anna Hafiz MSi beserta kru siar.(LS/Muzzamil)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top