Daerah

Desa Sucen Jurutengah Gelar Dua Dalang dalam Satu Kelir

Dalang Nyi Dwi Puspita Ningrum/MAS

PURWOREJO – Desa Sucen Jurutengah, Purworejo, menggelar Merti Desa pada Sabtu (14/3) kemarin, dengan menyuguhkan tontonan tradisional berupa wayang kulit satu kelir dua dalang.

Disebutkan oleh pembawa acara bahwa pagelaran tersebut ialah pagelaran wayang kreasi, jika  pakemnya hanya dimainkan oleh satu dalang, namun pada kesempatan tersebut dimainkan oleh dua dalang sekaligus dalam satu kelir.

Adapun dalang yang pentas bersama tersebut ialah dalang asli Purworejo yang sudah sering pentas di berbagai daerah dalam maupun luar kota, yaitu Ki Kelik Setyo Budiyono dan Nyi Dwi Puspita Ningrum.

Nyi Dwi Puspita Ningrum menjelaskan, kolaborasi dua dalang dalam satu kelir butuh kerjasama, kekompakan untuk menampilkan pagelaran wayang kulit yang apik.

Baca Juga:  Penerima BANPRES dari Kemenkop UKM di Purworejo Merasa Dipersulit

“Dua dalang atau lebih harus bisa saling menutup kekurangan, menampilkan kelebihan masing-masing, saling dukung, berbagi cerita,” ucapnya.

Ditambahnya, bermain dua dalang dalam satu kelir tidak semudah bermain sendiri. Harus bisa merencanakan lakon/cerit yang akan ditampilkan, membagi peran dan adegan dengan baik, tidak berat sebelah, boleh improvisasi tapi tidak jauh keluar dari konsep bersama.

Dengan membawakan lakon “DURNA RANTE” dua dalang tersebut mampu membius ribuan masyrakat yang datang.

Adapun sinopsisnya yaitu, Prabu Duryudana di negara Ngastina sedih karena setiap kali mencari anugrah (wahyu) Dewata selalu didapatkan oleh Pendawa. Pendapat pandita Durna, penyebabnya adalah Antasena, yang merupakan kekasih Dewa, meskipun dianggap tidak punya tatakrama, tapi besar kharismanya, sehingga menjadi jalan diterimanya wahyu/anugrah dewa oleh Pandawa. Maka, sebaiknya Antasena disingkirkan atau dibunuh.

Baca Juga:  Pasar Baledono Sepi, Pappas Gelar Audisi Dengan DPRD

Tidak disangka, Antasena datang ke negara Ngastina dan menyampaikan bahwa ia meminta pandita Durna untuk dibawa ke Ngamarta sebagai tumbal ketentraman negara sesuai petunjuk dewa, dengan akal licik, Durna dan Sengkuni berusaha meracuni Antasena, namun gagal. Akhirnya terjadi pertempuran antara Antasena dengan para Kurawa.

Durna dan putranya Aswatama pergi dari kerajaan, masuk ke hutan untuk mencari tempat persembunyian, tiba-tiba Raja raksasa dan patihnya melihat Durna yang mereka cari untuk tumbal ketentraman negaranya. Segera Durna ditangkap, dan dibawa terbang ke negara Gending pitu.

Di tengah perjalanan, Arjuna melihat gurunya Durna dibawa raksasa, segera dipanah, jatuhlah Durna. Patih dan Raja raksasa mengamuk, putra-putra Pandawa tidak mampu menandingi, Kresna dengan senjata cakra pun tidak mampu mengalahkannya, senjata cakra menunjuk pada Puntadewa, maka Werkudara sigap menggendong Puntadewa untuk melawan Raja raksasa.

Baca Juga:  Nunik Tantang Lambar Jadi Kabupaten Sanitasi Sehat

Bagaimana akhir kisahnya? Saksikan pada pagelaran wayang kulit “Durna Rante”.(Mahestya Andi)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top