Bandar Lampung

Dari Jokowi Hingga Reisa, Ary Meizari Hingga Dendi Ramadhona, Disiplin 3 M Lawan Pandemi, Bersama Kita Bisa!

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 dr Reisa Broto Asmoro, saat jumpa pers di Kantor Presiden, Jakarta Pusat, pada Jum’at (18/9/2020) pekan lalu. | BPMI Setkab RI

BANDAR LAMPUNG — Tiada bosan. Hari ke minggu, minggu ke bulan, berbulan-bulan. Sejak Presiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi oleh Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengumumkan kasus terkonfirmasi positif COVID-19 pertama di Tanah Air, pada 2 Maret 2020, enam bulan silam.

Disusul instruksi presiden lewat Jubir (saat itu) Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 dr Achmad Yurianto tentang kewajiban memakai masker pelindung pernapasan cegah persebaran virus penyerang saluran pernapasan penggeger jagat itu, pada 6 April 2020.

Praktis, kampanye memakai masker, disusul kampanye mencuci tangan memakai sabun dengan air mengalir, serta kampanye menjaga jarak sosial atau social distancing, yang kemudian dimajukan WHO menjadi jaga jarak fisik, physical distancing, jadi akrab di telinga, menu wajib keseharian kita.

Kampanye 3 M ini, kontan pula menjadi senjata legal seluruh penduduk dunia. Melawan pagebluk mikromilimeter COVID-19. Sampai kapan? Sampai antivirusnya, vaksin, ditemukan dan vaksinasi aman bin legal dilakukan. Kapan? Kabar dekat, tahun depan.

Dalam istilah, kebijakan pemerintah menggadang kampanye 3 M ini dapat disebut sebagai intervensi kesehatan publik. Seperti Presiden Jokowi dan Kapolri Jenderal Idham Azis pernah tegaskan, keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi.

Hingga saat ini, filosofi hukum yang diperkenalkan oleh Cicero, filsuf Italia, kini jadi kredo bagi aparatur hukum polisionil sedunia dalam mengibarkan bendera perang total setotal-totalnya melawan pagebluk itu, masih berlaku.

Implementasi, pemerintah melalui Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN) pun merujuk gerakan 3 M dan 3 T (testing, tracing, treatment) sebagai strategi utama penanganan kesehatan imbas pandemi, dengan antara lain berlandaskan kajian dan masukan ahli.

Mendedah poin ini, epidemiolog, juga periset/praktisi Global Health Security and Policy, Centre for Environment and Population Health Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman berpendapat, sampai kini belum ada pandemi yang dapat selesai dengan vaksin. Pasalnya, teknologi pengembangan vaksin di dunia belum cukup cepat dan canggih merespons sebuah pandemi.

Maksud dia, pandemi selesai sebelum vaksin selesai dibuat. Kini teknologi pengembangan vaksin masih perlu waktu lama menciptakan vaksin yang aman efektif. Kendala penyebab waktu lama, misal dalam hal penyakit baru, masih banyak hal ihwal penyakit itu yang belum diketahui.

Selain itu, kata dia, teknologi yang ada juga masih belum memberikan jalan singkat untuk membuat vaksin. Meski, kini sudah ada sejumlah jalur cepat menciptakan suatu vaksin.

“Walau ada vaksin Zika yang (selesai dalam) 18 bulan, tapi itu belum efektif. Artinya, berdasarkan pengalaman pandemi sejauh ini kita belum bisa mendasarkan penyelesaian pandemi pada vaksin,” ujar Dicky, dikutip dari CNN Indonesia, Selasa (15/9/2020), diakses kembali Senin (21/9/2020).

Semua pandemi yang pernah terjadi, tegas Dicky, selesai karena intervensi kesehatan publik. Pandemi, selesai dengan pengetesan, pelacakan, isolasi, karantina, dan perawatan. Selain, perlu pembiasaan perubahan perilaku warga seperti jaga jarak hingga cuci tangan.

Vaksin yang sudah cukup efektif, baru terjadi pada penyakit menular yang jadi endemik, misal polio. Namun, itu pun baru diperoleh usai puluhan tahun. HIV sudah puluhan tahun vaksinnya juga belum ada. Demam Berdarah, sudah lama juga, belum ada vaksin yang efektif sampai saat ini.

“Tak hanya itu, epidemi Ebola di Afrika bisa terkendali bukan karena obat atau vaksin, melainkan akibat intervensi kesehatan di luar vaksin dan obat.”

Pendapat itu, sebut dia, sama sekali bukan untuk mengecilkan optimisme, tetapi ini fakta ilmiah dan fakta sejarah pandemi yang harus dipahami dan menjadi rujukan pengambil kebijakan. “Sehingga tak salah ketika mengambil kebijakan yang akan dilakukan. Jadi tidak mendasarkan pada satu argumen yang ternyata tidak tepat,” kupas Dicky.

Demi meyakinkan kesaktian 3 M ini, mari simak epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Syahrizal Syarif. Dia lugas, tidak ada hal baru dalam pencegahan penularan COVID-19.

Selain, selalu mematuhi protokol kesehatan, yang harus tetap dilakukan selama masa pandemi, karena vaksin belum tersedia. Bahkan menurutnya, mematuhi protokol kesehatan, adalah upaya vaksinasi itu sendiri!

“Bila penggunaan masker, jaga jarak, cuci tangan dilaksanakan 90 persen penduduk, dapat disamakan dengan vaksinasi 70 persen penduduk,” cetus Syahrizal, juga Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Bidang Kesehatan ini di Jakarta, dikutip NU Online, Selasa (15/9/2020), diakses Senin.

Wakil Rektor Universitas NU Indonesia, Jakarta itu menyerukan pemerintah memastikan semua penduduk punya masker, berkampanye besar-besaran melibatkan tokoh (masyarakat, agama, semua tokoh berpengaruh), serta tegas beri denda jera pembandel pelanggar protokol kesehatan.

Baca Juga:  Satu Orang Terpapar Covid-19 di Kabupaten Pesawaran: Kategori OTG dan Jalani Swab Dua Kali

Asal tahu, Jubir Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito, sempat mengafirmasi data tingkat kepatuhan protokol kesehatan yang baru berkisar 70-80 persen. Padahal, idealnya 100 persen, agar virus tercegah total.

Tercatat, praktik jaga jarak oleh publik mencapai 72 persen, dengan tingkat pengetahuan kebijakan jaga jarak 87 persen. 80 persen responden selalu/sering cuci tangan pakai sabun dan air mengalir 20 detik. 64 persen selalu/selalu menyanitasi tangan, 80 persen selalu pakai masker saat diluar rumah. Makin tinggi usia makin patuh protokol, demikian Satgas.

Class of 2020

Menilik sejarah, andai tetiba pandemi berakhir sebelum vaksin benar-benar telah efektif ditemukan, kepatuhan dan kedisiplinan kita menjalankan protokol kesehatan cegah persebaran memutus mata rantai penularannya, kelak bakal dicatat dengan tinta emas!

Bukan sekadar sebatas pembeda kita dengan generasi Silent Generation –mereka yang pernah berjibaku dalam Great Depression sepanjang melawan pandemi Flu Spanyol di era 1920-an.

Atau generasi X, mereka yang berakte lahir antara tahun 1964 sampai 1980 dan kini barangkali sudah menduduki bermacam posisi penting dunia kerja, yang semula gamang lalu melantak berujung gempita meruwat peradaban.

Kitalah, bagian dari apa yang disebut sebagai Class of 2020, generasi kala pandemi global terbesar 215 negara terjangkit planet Bumi abad ini, yang tak kalah pedih perih, tersakiti, gamang namun kelak pembuktian sejarah akan turut menyatakan kita jualah bagian pahlawan perang total lawan pagebluk ini dan jadi bagian bangsa pemenang. Kritis dan krisis ini berbuah manis. Allah tidak tidur. Percayalah!

Termasuk, dokter Reisa?

Selain kita, of course, tentu saja. Kendati terpaut setahun lebih muda, menjadikannya bagian generasi Y, genre milenial, keberuntungan dokter kelahiran Malang, 28 Desember 1985 ini, pemilik lengkap gelar Kanjeng Mas Ayu Tumenggung Reisa Broto Asmoro, istri Tedjodiningrat Broto Asmoro yang menikahinya 2012 lalu, ibu dari Raden Rara Ramania Putri Broto Asmoro dan Raden Satriyo Daniswara Broto Asmoro itu, juga keberuntungan kita.

Alumnus S1 Kedokteran Universitas Pelita Harapan Jakarta 2009 ini pernah bekerja di bagian forensik di RS Polri Raden Said Soekanto Kramat Jati, Jakarta Timur, salah satu anggota Dissaster Victim Identification (DVI) yang terlibat investigasi korban Sukhoi dan beberapa kasus bom terorisme di Jakarta, juga runner up Putri Indonesia cum Puteri Indonesia Lingkungan 2010 perwakilan Yogyakarta, duta Indonesia di Miss International 2011, Duta Energi Bersih, selain model dan bintang iklan, juga anggota Bidang Kesekretariatan, Protokoler dan Public Relations PB IDI (Ikatan Dokter Indonesia) 2018-2021.

Landasan kecakapan akademik dan prestasi gemilang, topangan hoki dan keterkenalan, berbuah keterpilihan epik dokter Reisa tampil muka publik pertama kali 8 Juni 2020, salah satu anggota tim komunikasi publik Gugus Tugas Percepatan (kini Satuan Tugas) Penanganan COVID-19 hingga saat ini, tanpa sadar telah pula menjadi bagian keseharian mesin pengingat kita.

“Hayo, itu maskernya kok nggak pada dipake pada, bukan cantelan panci itu, nanti kamu kena tegur dokter Reisa lho!” demikian kira-kira magnitudonya.

Keputusan pemerintah lewat KPC-PEN, komite pengerek “keseimbangan antara gas dan rem”, istilah Presiden Jokowi, memperpanjang kampanye “Ayo Pakai Masker!”, setelah usai masa 6 September 2020 lalu, dinilai publik, antara lain oleh Ketua Dewan Pimpinan Daerah Pejuang Bravo Lima (PBL) Lampung Ary Meizari Alfian, sebagai “keputusan yang sama sekali tepat”.

Seperti terekam bebas jejak digitalnya di reportase media massa Lampung, Ary melalui ormas pimpinan Fachrul Razi yang kini menteri agama, 10 Juli 2020 kembali mengingatkan 9,45 juta jiwa rakyat Lampung bagian 267 juta rakyat Indonesia –Sabang hingga Merauke, Miangas hingga Rote– sepatutnya taat asas, patuh protokol kesehatan demi keselamatan diri, keluarga, lingkungan, bangsa, negara.

Pejuang Bravo Lima, rilis Ary saat itu, mengajak seluruh rakyat Lampung dan Indonesia terus semangat menjalani hidup, dan tak henti ikhtiar memutus rantai penularan COVID-19 minimal di lingkungan tinggalnya.

PBL Lampung membunyikan empati keprihatinan terdalam, belasungkawa mendalam terhadap segenap korban wafat (saat warta ini naik siar telah di angka 9.677 kasus kematian) akibat terjangkit virus ini.

“Mari kita terus menyebarkan virus kebaikan, peduli, berbagi pada sesama warga bangsa. Mengingatkan siapa saja yang kedapatan tak pakai masker pelindung pernapasan dimana saja, salah satunya,” kata Ary, ilustratif.

Ary berujar, hal sederhana macam itu, bukan tanpa dasar. Eks Ketua Kadinda Lampung ini membeber data terkini pertambahan pasien terkonfirmasi positif, dan pasien dalam pengawasan (PDP), orang dalam pemantauan (ODP) serta orang tanpa gejala (OTG) positif COVID-19 maupun yang wafat, saat itu.

Ketua DPD PBL Lampung Ary Meizari Alfian MBA, salah satu tokoh publik Bumi Ruwa Jurai yang aktif bergelora bersama pengurus Pejuang Bravo Lima se-Lampung turut membumikan kampanye “Ayo Pakai Masker!” | PBL

Diketahui, sepekan kemudian, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto pun merubah definisi PDP, ODP, dan OTG itu, yang tertuang dalam Bab III tentang Surveilans Epidemiologi, Kepmenkes HK.01.07/MENKES/413/2020 tentang Pedoman Pencegahan Pengendalian COVID-19, Senin (13/7/2020).

Baca Juga:  Pekan Raya Lampung jangan Jadi Kegiatan Mubazir

Diganti, PDP jadi kasus probable, ODP jadi kasus suspek, dan OTG jadi kasus konfirmasi tanpa gejala/asimptomatik.

Saat itu Ary pun mewanti semua pihak perlu menelisik gelombang kedua pandemi. “Presiden Jokowi pun terbaru ingatkan awas, ini lampu merah, dari itu ayo kita jangan lengah. Pakai masker di tempat umum, jaga jarak fisik, cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir. Lawan COVID-19!” tuntas Ary, didampingi sekretaris M Reza Berawi, dan Mico Periyandho, ketua bidang media dan informasi.

Dan yang kini jadi pemandangan jamak penjuru ruang publik termasuk di zona media luar ruang Kota Tapis Berseri Bandarlampung, ada mudah dijumpai poster “Ayo Pakai Masker!” bergambar foto Presiden Jokowi.

Sebut saja, di bando raksasa persis sesudah Masjid Al Yaqin, Jl Raden Intan, Tanjungkarang, Enggal. Atau, berukuran lebih kecil, di depan Pasar Bambu Kuning, Jl Imam Bonjol, dan di Jl Teuku Umar 299, Kedaton, sebelum kantor pusat BUMN PTPN VII.

Lampung sendiri, selain Gubernur Arinal Djunaidi, Wagub Chusnunia Chalim, juga Ketua DPRD Lampung Mingrum Gumay, Kapolda Lampung Inspektur Jenderal Purwadi Arianto, Danrem 043/Gatam Brigjen TNI Toto Jumariono, Walikota Bandarlampung Herman HN, Kapolres Bandarlampung Komisaris Besar Yan Budi Jaya, serta Dandim 0410/KBL Kolonel TNI Roland Fernandes, salah satu pejabat daerah terpantau aktif gelorakan pembumian kampanye “Ayo Pakai Masker!” ini yaitu Bupati Pesawaran Dendi Ramadhona.

Putra mantan bupati Lampung Selatan 1,5 periode 2000-2005 dan 2005-2008, mengundurkan diri lantaran ikut pilgub Lampung 2008, terpilih anggota tiga periode DPR/MPR dapil Lampung I 2009-2014, 2014-2019, 2019-2024, Ketua DPD Partai Demokrat Lampung 2005-2010, dan sejak 2011-sekarang tercatat Ketua Majelis Ulama Mathla’ul Anwar Lampung Zulkifli Anwar itu, selain Ketua Karang Taruna Indonesia Lampung, anggota Dewan Penasihat DPD PBL Lampung.

Dendi, 37 tahun, Wakil Ketua II Bidang Pengkajian Strategis dan Evaluasi Kebijakan Publik Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) 2015-2020 itu gencar dalam setiap kesempatan publik, mengajak para pemimpin baik formal dan nonformal, dan setengah juta jiwa rakyatnya, untuk senantiasa mengingat bahwa COVID-19 ini belumlah pergi.

Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Bumi Andan Jejama itu, tak segan memakaikan langsung masker pada warganya, terekam publik –jauh dari kata pencitraan — sebagai salah satu pelaku sejarah ‘juru bicara sekaligus juru kampanye’ top gerakan semesta “Ayo Pakai Masker!”.

Mencermati detail sedikitnya dua-tiga foto candid, gaya sang bupati peraih Pembina Desa Terbaik se-Lampung 2017-2018 saat memakaikan masker kepada warganya inipun natural. Tulus.

“Pandemi COVID-19 belum pergi dari kehidupan kita. Bahkan, di beberapa daerah masih masif penyebarannya. Sehingga jangan abaikan protokol kesehatan, dengan memakai masker dalam aktivitas sehari-hari, jaga jarak dan hindari kerumunan,” kata Dendi, saat jumpa pers di sela memimpin pembagian masker gratis serentak dan peluncuran kampanye nasional “Ayo Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan!” 7 September-6 Oktober 2020, pada operasi yustisi penggunaan masker dan pilkada aman damai sehat di Tugu Pengantin, Gedongtataan, Pesawaran, 10 September 2020 lalu.

Dendi pejawat pilkada 2020, akan cuti kampanye per 26 September nanti.

Sementara, pada bagian lain, di ibu kota provinsi, Walikota Bandarlampung Herman HN selain pula berkampanye senada, juga terpantau telah secara bergelombang membagikan sedikitnya 1,5 juta masker standar nonmedis pun gratis bagi warga, enam bulan ini.

Pun, diseriusi pula oleh, berjarak 240,9 kilometer dari Bandarlampung, Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus, akrab disapa BupatiPM, pengampu tagar #bupatikopi juga salah satu anggota Dewan Penasihat DPD PBL Lampung ini tergolong aktif lakukan hal senada.

Persis 8 April 2020, BupatiPM kontan bergerak bagikan 200 ribu masker gratis ke seluruh rakyat Lampung Barat cegah penyebaran COVID-19 di Bumi Beguai Jejama itu.

“Sesuai arahan Presiden Joko Widodo dan WHO, menggunakan masker satu cara kurangi penyebaran COVID-19 sebesar 25 persen, mulai hari ini kita sama-sama budayakan dan biasakan gunakan masker. Tolong sampaikan, Lampung Barat sudah lakukan Gerakan Masyarakat Pakai Masker, Gemar PM,” ujar Parosil, dalam arahan direktifnya selaku Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 setempat, bupati pejuang program vokasi industri Sekolah Kopi ini, kala itu.

Baca Juga:  Dedi Hermawan : Prioritas Wacana Pembangunan Lebih Penting Ketimbang Tim Transisi

Banyak lagi, kisah perjuangan generasi pejuang berlawan pandemi ini lainnya. Kembali ke dokter Reisa, pada Jum’at (18/9/2020) pekan lalu, Jubir Satgas Penanganan COVID-19 ini kembali menyapa rakyat Indonesia, untuk menerapkan gerakan 3M dalam keseharian dan lebih baik di rumah saja memutus mata rantai pandemi yang harus dilakukan secara bersamaan di seluruh Indonesia.

Tak luput beri kabar baik, Jum’at itu, ia mengutip updating data Kementerian Kesehatan (Kemkes), hari itu tercatat hari dimana penambahan pasien sembuh paling tinggi sejak kasus pertama diumumkan presiden, Maret lalu, mencapai 4.088 kasus.

Menggumul data, Reisa menyebutkan saat ini angka kesembuhan semakin baik yakni berada di kisaran 71 persen.

“Artinya 7 dari 10 orang yang terpapar COVID-19 telah sehat dan produktif kembali,” ujarnya pada jumpa pers di Kantor Presiden, Jakarta Pusat, Jum’at (18/9/2020), seperti dikutip dari laman Sekretariat Kabinet, diakses kembali Senin (21/9/2020).

Total pasien sembuh Jum’at itu, kata Reisa, mencapai 170.774 kasus dan kasus aktifnya ada 56.409 kasus. Data itu, tegasnya, menunjukkan kini pasien positif yang sedang dirawat kurang dari sepertiga total kasus yang ada.

Ia pun tak lupa menerangkan apa itu kasus aktif. Yaitu, jumlah pasien yang saat ini dalam perawatan atau isolasi, karenanya kondisi baik ini harus dipertahankan dan ditingkatkan.

“Yang utama bagi kita semua adalah memutus mata rantai penyebaran COVID-19. Mari terus biasakan diri dengan menerapkan protokol kesehatan yang benar,” imbau ia.

Presiden, kata Reisa, sudah ingatkan agar pemerintah daerah (pemda) tidak asal-asalan mengambil keputusan. Ujar ia, presiden meminta agar pemda menggunakan data sebaran kasus dalam mengambil keputusan dan juga meminta untuk mencegah penularan dengan cara membatasi kegiatan.

“Jadi apabila daerah, kabupaten/kota, tempat kita tinggal, mencatat adanya transmisi lokal, kita sebaiknya membatasi kegiatan. Untuk informasi, transmisi lokal adalah penularan yang berasal dari dalam wilayah itu sendiri,” Reisa menjelaskan.

Dalam menekan penyebaran COVID-19 pemerintah telah melakukan langkah 3T. Dalam konteks tracing, pelacakan, Reisa menyampaikan, Kemenkes telah menemukan lebih dari 1.000 klaster.

Disampaikan Reisa, klaster sendiri dapat terjadi di rumah, tempat kerja, atau di tempat kerumunan lainnya. Ia menambahkan, biasanya diawali salah satu orang positif dan tak menerapkan protokol kesehatan yang ketat, lalu menularkan orang-orang di sekitarnya.

“Klaster bisa terjadi dimana saja, tidak hanya di perkantoran, bisa terjadi di berbagai komunitas termasuk rumah tangga,” jelasnya. Lagi-lagi ia runut mengingatkan seluruh masyarakat menerapkan 3M, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan.

Untuk testing, jumlah makin meningkat per hari, dan data Kemenkes mencatat lebih dari 10 ribu tes per satu juta penduduk. “Sehingga perlu diapresiasi, bagi masyarakat yang mendukung penuh,” tandasnya.

Terakhir soal treatment, ia melugasi telah diupayakan penanganan pasien COVID-19 dilakukan dengan terbaik. Dan, pola perawatan berbagai fasilitas kesehatan sudah dilakukan optimal.

“Jadi kompak dan disiplin yuk, kita kan orang Indonesia, warga dunia yang luar biasa dan orang Indonesia optimis, bisa, pemerintah 3T, kita 3M, Indonesia pasti bisa!” ajak Reisa, dengan –sebab balutan senyumnya tertutup masker– binar mata khas Indonesia. Bersinar.

Aku, kamu, mereka, kita, Class of 2020, meskipun hari ini dirudapaksa zaman, dipaksa lilitkan ikat pinggang, dipaksa jatuh bangun jatuh lagi bangun lagi.

Namun, dengan keberuntungan kita sebagai makhluk transedental, seizin Allah Yang Maha Kuasa, Biidznillah, kita pantang kibarkan bendera putih tanda menyerah, penuh ikhtisar penuh ikhtiar, kepercayaan diri kita dipalu kuat kesalehan spiritual, dipandu ketat disiplin protokol kesehatan, akan bisa lalui pandemi bukan tsunami ini, mewujud (manifes) jadi satu generasi baru, generasi tangguh 2020 nan kelak dibincangutamakan generasi anak cucu nanti cum generasi platinum hari ini, sebagai generasi penyintas gelegar badai akbar situasi kahar pandemi ini.

Seperti biasa, no panic, dan tetap terus semangat! Sebab sehat dan kesehatan tidak dapat diwakilkan, yuk tetap pakai masker pelindung pernapasan (kini) standar medis, tetap jaga jarak fisik minimal satu meter, tetap hindari kerumunan dan hindari berkerumun, sesering mungkin cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir, akhiri juga dengan doa terbaik wabah COVID-19 ini segera Allah musnahkan dari muka bumi. Aamiin.(SUL/Muzzamil)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top