Bandar Lampung

Damar Dorong Program Desa Responsif Gender

Training Gender Budget untuk Badan Permusyawaratan Desa/Badan Hippun Pemekonan, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat, Aparatur Pemerintah Desa/Pekon, dan Serikat Perempuan/LS

BANDAR LAMPUNG – Lembaga Advokasi Perempuan Damar Lampung, mendorong program-program yang dilaksanakan di setiap desa di Lampung lebih responsif gender. Hal tersebut didorong untuk mewujudukan pembangunan yang lebih adil dan bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat baik laki-laki dan perempuan.

Atas dasar tersebut, Lembaga Advokasi Perempuan Damar menggelar kegiatan Training Gender Budget untuk Badan Permusyawaratan Desa/Badan Hippun Pemekonan, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat, Aparatur Pemerintah Desa/Pekon, dan Serikat Perempuan yang diadakan di ruang pertemuan Hotel Emersia, Bandar Lampung, 27-29 Maret 2018.

Kegiatan ini melibatkan, berbagai unsur dari tujuh desa yang menjadi wilayah intervensi program Prevention+  Damar di Kabupaten Tanggamus, Lampung Timur, dan Lampung Utara. Tujuh  desa yang terlibat adalah Pekon Purwodadi Kecamatan Gisting, Karang Sari dan Batu Tegi Kecamatan Air Naningan di Kabupaten Tanggamus, Desa Tegal Ombo dan Taman Negeri Kecamatan Way Bungur, dan Desa Batang Harjo Kecamatan Batanghari di Kabupaten Lampung Timur, dan Desa Margorejo, Lampung Utara.

Baca Juga:  Rumah Singgah Untuk Pasien RS Abdul Moeloek Resmi Beroperasi

Direktur Eksekutif Damar Sely Fitriani, menjelaskan pembangunan yang responsif gender adalah pembangunan yang sejak awal mulai dari perencanaan, penyusunan anggaran, hingga pelaksanaannya  mendengarkan aspirasi dan kebutuhan perempuan hingga melibatkan  keterwakilan perempuan di lembaga pemerintahan desa.

“Selama ini perempuan masih kurang dilibatkan di tingkat desa, suaranya masih belum begitu didengarkan, sehingga program yang terlaksana terkadang tidak menggambarkan kebutuhan perempuan,” ujar Sely, di sela pelatihan gender budget untuk perangkat desa, di hotel emersia, Bandar Lampung, Rabu (28/3).

Akibatnya menurut Sely, selama ini perempuan di desa masih menjadi kelompok yang termarginalkan, karena kurang berdaya dari segi kesempatan mengakses program desa. Padahal, saat ini menurut Sely, dengan adanya dana desa, pembangunan di desa sangat bergeliat, sayangnya, perempuan belum mendapatkan kesempatan untuk terlibat.  Akibatnya, perempuan masih tetap menjadi kelompok yang termiskinkan, karena kurang diberdayakan.

Baca Juga:  Serang Pasangan Arinal-Nunik, Bunda Eva: Tunggu Aja Azab Kalian!

“Kami ingin program-program desa, tidak hanya sebatas pada infrastrukrut. Meski infrastruktur penting, tetapi memberdayakan masyarakat secara ekonomi, dan memberikan kesempatan perempuan lebih berdaya juga perlu,” ujarnya.

Melalui pelatihan yang melibatkan fasilitator  Abdul Ghofur dari lembaga Pena Bulu Jakarta dan Akademisi FISIP Universitas Lampung, Ikram tersebut, Sely berharap dapat memberikan pengetahuan dan keterampilan para perangkat desa di wilayah intervensi program Prevwntion+ Damar dapat lebih memahami penyusunan program yang responsif gender.(*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top