Ekonomi

Cicip Menu Dimsum Lia-Ha, Alternatif Kudapan Ramadan di Tengah Pandemi

Dimsum Lia-Ha, penawar “lapar perut lapar mata” ala Amalia Fitriani, sang pemilik gerai kuliner daring kudapan sejak 2015 ini, warga Langkapura Baru, Kecamatan Langkapura, Kota Bandar Lampung. Instagram | @dimsumliaha

BANDARLAMPUNG — Staf Khusus Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Riza Damanik, dalam satu temu wicara daring 19 April 2020 di Jakarta, menyebut usaha mikro kecil menengah (UMKM) berkontribusi pada 60 persen PDB Indonesia, menyerap 97 persen tenaga kerja dalam negeri.

Berbagai inovasi penjualan pun masif dilakukan pelaku usaha ultramikro dan UMKM seantero negeri, demi sekadar kuat bertahan dari gempuran dahsyat imbas ekonomi pandemi corona.

Di Bandarlampung misalnya, inovasi agar dapur tetap ngebul dan doa agar rezeki Lebaran terkabul, juga ditempuh Amalia Fitriani, pemilik gerai kuliner daring Dimsum Lia-Ha, Langkapura Baru, Kecamatan Langkapura ini.

Lia, demikian ibu dua anak ini disapa, mencoba peruntungan bisnis kuliner rumahannya, dengan menjajakan paket penjualan kudapan asal negeri ginseng itu, memanfaatkan momen Ramadan jelang Hari Raya Iedul Fitri 1441 Hijriah di tengah kahar situasi pandemi.

Baca Juga:  Bengkel Kopi Layani Pecinta Robusta Lampung

Bukan sekadar latah membunuh sepi, ia menolak takluk sergapan pagebluk. Saban hari, di sela waktu sejak lepas sahur hingga usai jam Tarawih, ia aktif berpromosi produk usaha rintisannya sejak 2015 silam itu.

Dihubungi Jum’at pagi (8/5/2020), ia mengungkap kegigihan upayanya menawarkan varian produk homemade –ia kerjakan dengan tangan sendiri.

“Bismillahirrahmannirrahiim. Aku nawarin paket promo dimsum bikinan aku sendiri. Suasana gini kan, produk frozen food tetaplah diminati ibu sama remaja putri. Boleh coba, Inshaallah gak kecewa,” ia sadar promosi.

Dari sejumlah varian menu yang telah ia kuasai cara membuatnya, Lia khusus menawarkan paket dimsum frozen. Yakni, varian dimsum siomay daging ayam, siomay udang, dan siomay ikan.

Baca Juga:  Harga Bawang Putih Naik Lagi Hingga 50 Ribu Perkilo 

“Itu favorit, paling sering dipesan. Diluar ongkos kirim, aku nawarin paket Rp100 ribu untuk 33 porsi, Rp150 ribu untuk 50 porsi, Rp200 ribu untuk 66 porsi, dan Rp300 ribu untuk 100 porsi,” terang ibu hijabers ini.

Harga? “Dari pertama kali buka gak naik turun tetap Rp3 ribu satu porsi. Sambal buatanku tetap aja nendang di lidah, kena di hati,” ia merinci, bocoran cita rasa unik produknya pun ia beri.

Pemesan juga bisa memilih beberapa paket sekaligus, imbuhnya. “Buat stok Lebaran juga bisa. Praktis kok, tinggal masuk freezer, pas sahur, buka puasa lapar perut lapar mata tinggal kukus 12 menit kelar,” ia berbagi tips pula.

Menggeluti bisnis hampir lima tahun,  pelanggan setia dimsumnya lumayan. Bukan saja para ‘dimsumania’ dari luar Bandarlampung, seperti Semarang, Palembang, Jakarta, dan Bandung, pelanggan korporasi pun ada juga.

Baca Juga:  Dody Sulap Sepeda Bekas Lebih Mentereng Ketimbang Barunya

“Inshaallah pesan lagi, dan lagi. Prinsip jualanku simpel aja. Higienis, halal, dan maknyus rasanya. Pokoknya, duh gusti endul takendul-kendul deh hahaha,” ia renyah tertawa. Ngakak.

“Heboh corona saya jualan masker non medis juga lho,” sarjana S1 Sistem Informasi Fakultas Komputer (Fikom) Universitas Bandar Lampung angkatan 2001 ini, tak bisa dipancing rupanya.

Penasaran? “Langsung kepoin aja di Instagram @dimsumliaha, Facebook Messenger saya Amalia Fitriani, atau chat WhatsApp saya 1 kali 24 jam di nomor 082116335183,” pungkas Lia.(LS/Muzzamil)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top