alterntif text
Pendapat

Buyback Buku

Muhammad Ma’ruf. IST

Oleh Muhammad Ma’ruf
Penulis buku 50 Great Business Ideas from Indonesia (2010)

INI agak ganjil. Tapi saya ingin mengungkapkannya. Insya Allah tujuannya baik, untuk mengapresiasi teman teman yang akan, baru, sedang dan telah menulis buku pertamanya. Saya niatnya itu.

Saya pada akhirnya harus menyerah, membeli buku bekas yang pernah saya tulis dan diterbitkan Hikmah-Mizan sembilan tahun lalu, Januari 2010. Ya aneh bukan, membeli buku sendiri karena saya memang tak punya fisiknya, satu pun. Buku versi cetak sudah diskontinu, yang masih ada hanya versi digital di gramedia.com dan copy ilegal di beberapa olshop.

Setelah berburu beberapa lama, akhirnya ketemu pembeli buku yang menjual buku ini di bukalapak. Saya beli, harganya 40 ribu. Senangnya bukan main. Buku ini judulnya 50 Great Business Ideas from Indonesia.

Pada mulanya niat saya sederhana dalam menulis buku ini. Duit. Ya buku ini adalah permintaan dari penerbit untuk membuat versi Indonesia dari buku best seller international, 100 Great Business Ideas, karya Angus Holland dan Emily Ross yang dialihbahasakan oleh penerbit ke bahasa Indonesia. Waktu itu, medsos tak seramai sekarang, tak ada ruang untuk bergaya dan mengiklankan diri. Toh, untuk seorang reporter baru bekerja tiga tahun, gaji kecil dan pengen nikah, ini seperti solusi Tuhan. Terlebih, penerbit dengan baik hati mau membayar sejumlah royalti di depan. Okelah.

Tak dinyana, pada masanya, alhamdulillah, buku ini laris. Saya lupa, entah dimana datanya, tapi dari itungan kasar, lumayan. Kira kira total royaltinya sekitar 40 juta saja, nah dengan asumsi buku dijual rata 60 ribu dan saya dapat royalti 10% akan ketemu jumlah buku terjual. Ini tidak termasuk buku dijual pada harga diskon. Jadi, lumayanlah yang terjual.

Baca Juga:  Ketenagakerjaan Dalam demokrasi Dan Keadilan Sosial Tinggi

Momen yang membanggakan, bagi saya adalah, suatu kali buku ini pernah satu rak, berduaan saja dengan buku begawan ilmu manajemen Prof Rhenald Kasali di toko buku Gramedia. Berduaan dipajang di posisi depan, keren bukan. Bagi penulis newbie seperi saya, ini sungguh sebuah kehormataan. Lebih lagi, buku ini saya tulis hanya dalam beberapa pekan saja, itupun weekend.

Pernah saya menemui sampul yang berbeda. Ada tulisan best seller di sampul pojok sebelah kiri. Saya duga, buku ini dicetak lagi. Baguslah, yang penting royalti lancar ha..ha..ha. Saya cuma mendapat lima piece buku, dan entah mengapa itupun habis, mungkin saya berikan kepada teman dekat tanpa mereka pinta. Saya tak terlalu perduli, toh tujuan ekonomis saya tercapai.

People love story. Itu dugaan saya mengapa buku ini laku. Pun, sudut tulisan mungkin pas, yakni mengemukakan benang merah mengapa sebuah brand, bisnis itu sukses. Orang-orang memang suka cerita sukses, karena kalaupun mereka tidak bisa menirunya, mengetahui kesuksesan seseorang itu sungguh sebuah kebahagiaan.

Saya sendiri terpicu dan terpacu. Pada medio 2012 saya memutuskan resign dari reporter Bloomberg Businessweek Indonesia dan mendirikan perusahaan media dengan beberapa kawan. Saya gagal, dan bangkrut. Tapi, saya tak pernah menyesalinya, bahkan ingin mengulanginya.

Saya bahkan ingin menulis ulang buku ini, merevisi dan memberi catatan. Sayang, waktu sepertinya tak sepengertian dulu. Saya berniat mencari partner untuk menerbitkan ulang dalam bahasa Indonesia dan inggris. Saya pernah dengar, buku ini menjadi perbincangan mahasiswa Indonesia di London suatu ketika. kalau kamu berminat kontak ya.

Baca Juga:  Membangun Lampung dari ‘Pinggiran’ (Bagian 2-Habis)

Buku ini, sebagaimana asal mulanya memang tak dilandasi niat idealis. Nulis saja, cari uang buat senang senang. Ketenaran hanyalah efek samping yang mengenakkan. Terbukti, CV saya lebih cantik dengan adanya buku ini..he he he. Saya juga pernah kok diundang di sebuah radio swasta–dugaan saya untuk promosi.

Ini beda nasib dengan buku perdana setahun sebelumnya. Judulnya keren, Tsunami Finansial. Isinya menjelaskan mengapa krisis ekonomi global 2008 bisa terjadi. Menceritakan dari sudut pandang ekonomi Amerika, yaitu subpreme mortgage, CDS, ABS dll. Pokoknya serius.

Buku ini memang menjemukan. Siapapula yang suka penjelasan keuangan yang rumit. Padahal, saya merelakan waktu berbulan bulan untuk menulisnya. Saya perlu membuka lagi teori ilmu ekonomi dari bangku kuliah. Saya merasa gagah dan bangga sekali ketika buku itu terbit. Tapi, hasil berkata lain; gagal total, royalti kecil. Terakhir, penerbit beberapa bulan lalu menyerah, dan mengirimkan satu kardus buku ke rumah. Masih banyak, yang mau kontak saja, bayar ongkirnya, saya kasih gratis hehe.

Percayalah, semua orang bisa menulis buku. Saya sudah membuktikannya, paling tidak dua buku, semoga dianggap cukup. Persoalannya adalah mau atau tidak. Nah saya mengawalinya dari kebutuhan dana, saya memang kere dan butuh duit waktu itu maka saya menulis buku. Gaji habis buat makan dan biaya kosan, tak ada sisa buat pacaran.

Maka itu, saya menyarankan belilah buku teman mu, terlebih dia baru perdana menjadi penulis. Dugaan saya–semoga salah–mereka lebih butuh bukunya dibeli dari sekedar dipuji. Beli dan memuji adalah tindakan terpuji. Kalaupun tidak bisa, setidaknya janganlah meminta secara gratis. Ini bukan soal uang saja, ini soal memberikan harapan bahwa menulis buku adalah pekerjaan yang bisa diandalkan, setidaknya buat sampingan. Terlebih era sekarang, Indonesia butuh lebih banyak buku dari pada status medsos.

Baca Juga:  Membendung Radikalisme di Kampus

Tak ada yang salah menulis buku yang bahkan kita sendiri yakin itu tak akan laku. Buku adalah bukti manusia melestarikan dirinya. Pahalanya akan terus mengalir sepanjang ia bermanfaat. Saya tak sepenuhnya kecewa buku Tsunami tak laku, saya tetap senang. Buku itu membuat saya bisa membuktikan bahwa saya bisa menulis buku. Yang saya sesali saya tak cukup waktu untuk menulis buku lagi.

Dari kedua buku itu saya belajar bahwa, sebagai penulis kita tak boleh egois. Sisakan ruang untuk pembaca menaruh harapan agar isi buku itu memenuhi keinginannya. Terlebih untuk sekarang pembaca umumnya ingin membaca apa yang diinginkannya. Ruang idealis ada pada akurasi data dan informasi, sementara ruang negoisasi ada pada cara menulisnya.

Untuk kawan kawan yang akan, sedang, dan telah menulis buku pertamanya, sekali lagi saya ucapkan semangat. []

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top