Politik

Budiyono Ditantang Buktikan Dugaan Jual Beli Jabatan Komisioner KPU

Esti Nur Fathonah/Suluh/JOS

BANDAR LAMPUNG – Mantan Anggota KPU Provinsi Lampung Esti Nur Fathonah menantang Budiyono membuktikan adanya dugaan jual beli jabatan dalam seleksi anggota KPU Kabupaten/Kota.

Esti Nur Fathonah diberhentikan tetap sebagai komisioner KPU Lampung oleh Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) RI karena terbukti melanggar prinsip mandiri, jujur, dan profesional dalam sidang putusan pada Rabu (12/2).

Sebelumnya Esti diduga terlibat dalam jual beli jabatan komisioner karena bertemu dengan sejumlah calon komisioner KPU Kabupaten/Kota di dalam kamarnya, nomor 7010 Swissbell Hotel Bandarlampung saat fit and proper test berlangsung awal November 2019 lalu.

“Dari pokok aduan, kronologi pembuktian, hingga keluarnya putusan itu sangat berbeda. Kalau ungkapan Budiyono di persidangan ada pesan yang dia baca soal jumlah uang, ada yang Rp120 juta, Rp130 juta, dan ada yang nilainya katanya sepanjang gading gajah. Pesan itu kan bisa ditelusuri,” kata Esti, di kediamannya Sidomulyo Lampung Selatan, Jumat (14/2).

Budiyono yang menjadi pihak Pengadu dalam kasus Esti, sebelumnya juga pernah menyampaikan adanya pesan singkat tersebut saat Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi I DPRD Lampung, Rabu (13/11/2019) lalu.

“Ada yang sudah keluar uang antara Rp120-130 juta, tapi baru deal Rp120 juta dengan dugaan orang yang sama. Selain itu, pada proses dari 30 besar ke 10 besar itu, ada praktek uang juga, dan saya sudah baca chatt yang jadi korban itu.

Baca Juga:  Bawaslu Awasi Logistik KPU Pasca Pilkada 2018

Bahkan sampai ada yang mau berhutang Rp100 juta. Kemudian ada juga yang jual mobil. Bahkan ada yang dimintai uang dengan kode gading gajah 35 cm,” ujar Budiyono saat itu di hadapan Anggota dan Ketua Komisi I Yozi Rizal.

Berdasarkan pengakuan akademisi Universitas Lampung tersebut, Esti menilai kalau untuk membongkar dugaan jual beli jabatan yang dituding pada dirinya, seharusnya hakim menelusuri isi pesan pada handphone Budiyono.

“Itu dari siapa dan untuk siapa? Apakah pesan meminta atau memberi?”

Mantan Panwascam Sidomulyo Lampung Selatan ini kemudian menantang Budiyono untuk membuktikan isi pesan itu.

“Katanya Budiyono mau membersihkan Lampung, menegakkan keadilan dan demokrasi namun justru mendiamkan pesan itu. Kenapa pesan itu tidak ditelusuri? Dan apakah pesan itu dari saya?”

Sebagai warga negara yang baik, Esti mengaku menghargai dan menghormati keputusan DKPP RI atas sanksi pemberhentian tetap dirinya sebagai komisioner KPU Lampung.

Namun dia tetap merasakan ada hal yang janggal dalam proses putusan DKPP tersebut terkait mencuatnya nama Toni, staf mantan pimpinan KPU RI Wahyu Setiawan.

Budiyono menyebutkan nama Toni dalam sidang pemeriksaan kedua DKPP RI di Bawaslu Lampung pada Senin (20/1).

“Kenapa nama Toni yang muncul dalam persidangan, yang kata dia suruh menghentikan kasus, yang kata dia suhu, yang kemungkinan merupakan otak jaringan, tidak dipanggil untuk klarifikasi,” kata alumni Unsri ini.

“Kalau memang kasus ini (dugaan jual beli jabatan_red) harus diterangkan, majelis hakim harusnya lebih tertarik dengan itu,” lanjutnya.

Baca Juga:  Debat Keempat, Erick: Kematangan Pemimpin Makin Diperlihatkan Jokowi

Sebagai seorang penyelenggara pemilu, wanita berdarah Jawa-Bengkulu ini dapat menerima putusan DKPP RI yang menyebut dirinya tidak profesional karena bertemu dengan calon komisioner KPU Kabupaten/Kota saat fit and proper test.

“Tetapi seberapa besar kesalahan itu bila dibandingkan dengan adanya aliran uang yang merusak integritas penyelenggara pemilu,” tegasnya.

Namun Esti tidak ingin asal-asalan menuding orang, sebelum melakukan penelusuran yang lebih dalam lagi terkait aliran uang ke penyelenggara.

“Mereka pasti sangat silent terhadap ini, nanti ujung-ujungnya kan fitnah. Tapi saya akan menegakkan keadilan, baik pada diri saya, dan mungkin bagi pesakitan-pesakitan yang akan datang,” tutupnya.

Ketua LBH Bandarlampung Candramuliawan yang menjadi kuasa hukum Budiyono dalam persidangan DKPP RI mengatakan kewenangan lembaga tersebut lebih kepada etika penyelenggara pemilu.

Menurut Awang, sapaan akrabnya, DKPP tidak bisa melampaui kewenangannya dengan menelusuri tindak pidana.

“Soal apakah kemudian dari dasar pertimbangan putusan hakim DKPP ternyata ada praktik jual beli dan mengarah ke suap, ini yang kemudian kita dorong bareng-bareng untuk Esti membongkar,” katanya saat dihubungi, Sabtu (15/2).

Kasus dugaan jual beli jabatan komisioner KPU Kabupaten/Kota sebelumnya juga telah dilaporkan secara pidana ke Polda Lampung, 12 November 2019.

Gentur Sumedi suami dari Calon Komisioner KPU Tulang Bawang Viza Yeli Santi melaporkan Calon Komisioner KPU Pesawaran Lilis Pujiati dalam kasus penipuan dan penggelapan.

Baca Juga:  Warga Eks Pasar Griya Tolak 4 Opsi DPRD Bandar Lampung

Hingga saat ini kasus tersebut masih bergulir, dan Polda Lampung telah melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi yang dianggap mengetahui peristiwa tersebut, termasuk Esti Nur Fathonah.

“Esti ketika dipanggil oleh Polda sebagai saksi  juga enggak mengakui masalah ini. Kalau sekarang dia mau membongkar, itu yang kita tunggu, bukan cuma ngomong-ngomong saja kan, dia ungkap dan bikin laporan,” ujar Awang.

Dia memastikan lembaga yang dipimpinnya akan mendukung dan bekerja sama dengan Esti jika bersedia menjadi justice collaborator karena mengetahui adanya jaringan praktik jual beli jabatan komisioner di Lampung.

“Misal Esti mau melaporkan ke pidana, dia akan memberikan keterangan bahwa bang Budiyono pernah ngomong begini, tentu dia (Budiyono_red) akan dipanggil minimal sebagai saksi,” pungkasnya.

Sementara Budiyono yang mengungkap dugaan awal adanya jual beli jabatan komisoner KPU Kabupaten/Kota dalam jumpa pers di LBH Bandarlampung, Jumat (8/11/2019) belum bisa dikonfirmasi. Saat dihubungi handphone Budiyono dalam keadaan aktif namun tidak menjawab panggilan.(JOS)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top